TGH Ma’arif Makmun: AHWA harus Diisi Ulama Berkapasitas dan Paham Kebutuhan NU

Sedang Trending 1 hari yang lalu
 AHWA kudu Diisi Ulama Berkapasitas dan Paham Kebutuhan NU ilustrasi(Antara)

Rais Syuriah PCNU Lombok Tengah, TGH Ma’arif Makmun, menekankan bahwa komposisi Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam struktur kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) kudu diisi oleh ulama nan mempunyai kapabilitas keilmuan, kesalehan, kewaraan, serta ketajaman dalam membaca kebutuhan organisasi.

Menurutnya, AHWA memegang posisi nan sangat strategis. Lembaga ini tidak hanya berkedudukan menentukan Rais Aam, tetapi juga bertanggung jawab mencari figur nan dinilai bisa memimpin NU sesuai dengan tantangan era nan terus berkembang.

“Jangan sampai kita salah pilih AHWA. AHWA kan memandang siapa ustadz nan layak duduk di Rais Syuriah (Rais Aam). Ketiga, mempunyai kejelian mencari sosok pemimpin. La ya’riful wali illal wali,” ujar TGH Ma’arif di sela agenda Muktamar NU di Ponpes Al Maliki 2 Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jumat (28/8).

Rekomendasi Nama Anggota AHWA

TGH Ma’arif menyebut sejumlah nama ustadz nan dinilainya mempunyai kualitas mumpuni untuk menjadi representasi dalam AHWA. Beberapa nama nan muncul antara lain KH Said Aqil Siroj, KH Nurul Huda Jazuli, KH Asep, serta master ushul fikih KH Afifuddin Muhajir. Ia juga menyoroti adanya ustadz dari Aceh nan mempunyai kapabilitas serupa.

“Kiai Said Aqil Siroj, Kiai Nurul Huda Jazuli, kesalehan, keilmuannya dan kewaraannya tidak diragukan lagi. Ada juga KH Asep, beliau itu membentuk Pergunu tanpa peran PBNU. Lalu ada juga mahir ushul fikih, KH Afifuddin Muhajir, ada juga dari Aceh,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa pemilihan personil AHWA tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Selain integritas moral dan kompetensi keilmuan, para ustadz di AHWA kudu bisa memandang kebutuhan NU secara makro guna menentukan nakhoda organisasi nan tepat.

Kebutuhan Sosok Pembaru (Mujaddid)

Lebih lanjut, TGH Ma’arif menilai NU saat ini memerlukan figur pembaru nan bisa merespons perubahan era tanpa memutus akar tradisi keilmuan Islam. Ia mengibaratkan kebutuhan ini dengan tradisi mujaddid dalam sejarah peradaban Islam.

“Di Islam ada mujaddid Islam, ada Imam Ahmad bin Hanbal, ada Imam Suyuthi dan lainnya. Karena itu di NU juga perlu mujaddid, dan itu ada di sosok-sosok AHWA,” jelasnya.

Meski meyakini Muktamar NU kali ini bakal melahirkan sosok nan bisa menjalankan peran besar tersebut, dia mengaku belum mengetahui secara pasti siapa figur nan bakal muncul ke permukaan. “Saya percaya kelak bakal muncul, tapi siapa? Wallahu a’lam,” pungkasnya. (E-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia