Tes Darah Alzheimer: Studi Terbaru Ungkap Deteksi Dini Risiko Demensia

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
 Studi Terbaru Ungkap Deteksi Dini Risiko Demensia Tes darah bisa mendeteksi biomarker Alzheimer lebih cepat.(Dok. Magnific)

PERKEMBANGAN teknologi kesehatan sekarang memungkinkan deteksi dini penyakit Alzheimer melalui metode nan lebih sederhana dan cepat. Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa tes darah bisa mengidentifikasi biomarker alias penanda biologis nan berangkaian dengan Alzheimer jauh sebelum indikasi klinis muncul pada pasien.

Temuan nan dipublikasikan dalam jurnal The Lancet ini menunjukkan bahwa tes darah tersebut tidak hanya memprediksi risiko, tetapi juga mengungkap tanda awal penurunan kegunaan kognitif pada orang dewasa paruh baya. Penelitian nan didanai oleh National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat ini menganalisis info 1.300 peserta dari studi jangka panjang Coronary Artery Risk Development in Young Adults (CARDIA) dengan rata-rata usia 61 tahun.

Para peneliti konsentrasi pada keberadaan protein beta-amiloid dan tau dalam darah, dua protein nan menjadi karakter unik perkembangan Alzheimer. Hasilnya, sekitar 6% peserta dengan kadar protein tinggi diketahui mempunyai kecepatan berpikir dan kegunaan pelaksana nan lebih rendah. Dalam pemantauan lima tahun kemudian, golongan ini mempunyai akibat 2,5 hingga 4 kali lebih besar mengalami penurunan memori verbal secara cepat.

Protein penyebab Alzheimer dapat menumpuk di otak selama puluhan tahun sebelum indikasi kehilangan ingatan muncul secara nyata.

Peneliti studi, Kristine Yaffe, menjelaskan bahwa hasil tes biomarker positif memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengambil langkah pencegahan lebih awal. "Hal itu dapat menjadi sinyal untuk mulai menerapkan style hidup nan lebih sehat guna menurunkan akibat penurunan kognitif di masa depan," ujar Yaffe sebagaimana dikutip dari Medical News Today, Selasa (2/6).

Meski demikian, para mahir menekankan bahwa hasil tes darah positif tidak otomatis berfaedah seseorang bakal menderita demensia. Neuropsikolog klinis Megan Glenn menjelaskan bahwa biomarker hanya menunjukkan perubahan biologis nan memerlukan aspek pemicu lain untuk berkembang menjadi kerusakan otak permanen.

Senada dengan itu, master penyakit dalam Dung Trinh menilai temuan ini dapat meningkatkan motivasi pasien dalam menjaga kesehatan jantung, mengontrol diabetes, dan memperbaiki pola tidur. Deteksi awal dianggap krusial lantaran saat indikasi gangguan daya ingat mulai tampak jelas, kerusakan otak biasanya sudah cukup luas dan susah dipulihkan.

Kehadiran tes darah ini diharapkan menjadi terobosan dalam pemantauan kesehatan otak global, mendorong intervensi medis dan perubahan style hidup sebelum kerusakan saraf nan serius terjadi. (Medical News Today/Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia