Saya tidak kaget ketika banyak orang tersinggung dengan novel "Teruslah Bodoh Jangan Pintar" karya Tere Liye itu. Judulnya saja sudah seperti tamparan. Siapa nan mau dibilang bodoh? Apalagi di era sekarang—ketika semua orang berkompetisi terlihat pintar. Gelar dipajang. Opini diumbar. Komentar di mana-mana. Semua mau tampak tahu. Padahal, justru di situlah masalahnya.
Saya sering memandang orang kandas bukan lantaran tidak pintar. Tapi lantaran merasa sudah pintar. Ia berakhir bertanya. Ia alergi dikritik. Ia merasa nyaman di dunianya. Ia merasa cukup, padahal bumi sudah berlari jauh. Ia merasa pintar, padahal nan dia tahu sebatas bumi nan digelutinya.
“Bodoh” nan dimaksud dalam kitab itu bukanlah kegoblokan dalam makna tidak tahu. Justru sebaliknya. Itu adalah sikap sadar bahwa kita belum tahu apa-apa. Sikap nan membikin seseorang tetap lapar belajar. Tetap rendah hati. Dan—ini nan penting—tidak mudah dikendalikan.
Orang nan merasa pandai itu mudah sekali diarahkan. Cukup beri panggung. Cukup beri pengakuan. Bila perlu jadikan pemimpin barisan. Selesai. Ia bakal sibuk menjaga citra, bukan mencari kebenaran. Ia takut salah. Padahal dari salah itulah pengetahuan tumbuh.
Sebaliknya, orang nan “bodoh”—dalam makna nan jujur—justru lebih merdeka. Ia tidak punya beban pencitraan. Ia berani bertanya perihal nan dianggap remeh. Ia berani mencoba perihal nan dianggap mustahil. Dan seringkali… justru dia nan melompat paling jauh.
Di kehidupan—bukan hanya di ruang kerja—pola ini berulang. nan melesat jauh bukan selalu nan paling pintar. Tapi nan paling terbuka. nan mau belajar tanpa merasa paling tahu. nan mau mendengar tanpa sibuk membalas. nan tidak pamor berkata, “saya belum paham.” nan berani salah, lampau memperbaiki. nan memilih “teruslah bodoh”— bukan lantaran tidak mampu, tapi lantaran sadar… selalu ada ruang untuk tumbuh. Dan justru lantaran itu, dia tidak pernah betul-betul berakhir berkembang.
Dan di titik itu, lahirlah orang berilmu nan sebenarnya. Bukan nan hanya dahsyat di “kandangnya” sendiri. Tapi nan berani masuk ke bumi nan bukan habitatnya— lampau belajar dari nol tanpa malu. Ia tidak sibuk menjaga wibawa. Ia sibuk menyesuaikan diri. Ia tahu, di tempat baru… dia memang “bukan siapa-siapa”. Dan justru lantaran itu, dia sigap menyerap. Cepat mengerti. Cepat berkembang.
Karena dia datang bukan sebagai orang pintar, tapi sebagai “orang bodoh” nan siap belajar apa saja. Dan dari situlah, ilmunya menjadi hidup— tidak kaku, tidak sempit, tidak merasa paling benar. Ia tumbuh, lantaran berani merasa kecil, di tempat nan membuatnya besar.
Masalahnya, sistem kita sering menghukum “kebodohan” seperti ini. Anak nan banyak bertanya dianggap mengganggu. Orang nan belum tahu dianggap tidak kompeten. Padahal bisa jadi—merekalah nan paling jujur. nan lain hanya pandai menyembunyikan ketidaktahuannya.
Maka, mungkin kita perlu berakhir tersinggung dengan titel itu. Dan mulai bertanya: Jangan-jangan, nan selama ini kita sebut pintar… justru nan membikin kita berakhir belajar. Dan nan kita sebut bodoh… justru nan menjaga kita tetap hidup. Tetap berkembang. Tetap merdeka.
Kalau kudu memilih—saya lebih takut menjadi orang nan merasa pandai daripada orang nan terus merasa “bodoh”. Karena nan kedua tetap punya masa depan. nan pertama… biasanya tinggal cerita.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·