Terus Meroket, Harga Minyak Brent Naik 1,4% ke USD 88,91 per Barel

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi pengeboran minyak. Foto: QiuJu Song/Shutterstock

Harga minyak mentah naik pada perdagangan Selasa (11/8), lantaran para pedagang skeptis atas potensi kesepakatan nan bakal segera mengembalikan aliran melalui Selat Hormuz, apalagi ketika para pejabat menggembar-gemborkan kemajuan.

Dikutip dari Bloomberg, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September naik 1,3 persen menjadi USD 83,20 per barel di New York. Minyak Brent untuk penyelesaian Oktober adalah 1,4 persen lebih tinggi untuk diperdagangkan pada USD 88,91 per barel.

Harga minyak mentah sangat sensitif terhadap buletin utama tentang negosiasi antara AS dan Iran untuk membuka kembali titik logistik tersebut. Harga telah melonjak setelah Presiden AS Donald Trump membikin tuntutan baru nan menyerang Teheran, mengaburkan prospek untuk perjanjian apa pun.

Menteri pertahanan Pakistan mengatakan bahwa AS dan Iran sudah ‘dekat dengan semacam pengaturan’ di selat. Pembicaraan antara Oman dan Iran, dua negara dengan perairan pesisir, juga telah mencapai tahap lanjut, Al Jazeera melaporkan , mengutip ahli bicara kementerian luar negeri Qatar.

Memulihkan pengiriman melalui titik logistik terpenting di bumi sangat krusial untuk menyeimbangkan kembali pasar minyak global. Sebelum perang, rute tersebut menangani sekitar seperlima dari aliran minyak dan gas global.

AS sekarang memproyeksikan gangguan pasokan minyak mencapai sekitar 600.000 barel per hari hingga akhir tahun depan, menurut Prospek Energi Jangka Pendek Administrasi Informasi Energi AS.

"Pasar memandang beberapa untung lantaran Pakistan keluar dengan retorika nan lebih optimis nan mungkin menyiratkan bahwa setidaknya beberapa komunikasi sedang terjadi antara Iran dan AS," kata kepala analis di Manajemen Risiko Global di Coppenhagen, Arne Lohmann Rasmussen.

Di sisi lain, nilai diesel sangat terpengaruh lantaran perang Rusia-Ukraina juga menekan pasokan, dan nilai patokan di Eropa telah meningkat lebih dari dua kali lipat tahun ini.

Ilustrasi pengeboran minyak. Foto: Hatice Bakcepinar/Shutterstock

Namun, pertempuran mini di seluruh wilayah membikin para pedagang gelisah. Sebuah helikopter Angkatan Laut menembakkan dua rudal api ke sebuah kapal kargo berbendera Panama nan berupaya transit Teluk Oman, kata Komando Pusat AS dalam sebuah postingan media sosial. Sebuah kilang di Libya juga diserang pada hari Senin.

Konflik Timur Tengah juga telah menyebar ke Laut Merah, di mana militan Houthi nan didukung Iran menakut-nakuti rute pelayaran nan telah menjadi garis hidup bagi Arab Saudi sejak perang Iran mencekik ekspor dari Teluk Persia. Saudi Aramco telah menunda memulai kembali kilangJazan hingga akhir Agustus, menyusul serangan nan diklaim oleh golongan pemberontak.

Di Rusia, sebuah kebakaran dilaporkan pada Selasa di kilang minyak Komsomolsk Rosneft di wilayah Khabarovsk, meskipun perusahaan mengatakan operasi tidak dihentikan. Puing-puing drone menyebabkan kebakaran di akomodasi industri di wilayah Orenburg Rusia, tempat kilang Orsk ForteInvest berada, menurut pernyataan lokal.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan