Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan tetap melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari meski sejumlah peringatan datang dari orang-orang terdekatnya. Dilaporkan bahwa sejumlah pejabat senior telah memperingatkan bahwa perang tersebut dapat memicu krisis daya dunia dan memperkuat golongan garis keras di Teheran.
Hal ini diketahui dari laporan The Wall Street Journal, sebagaimana dikutip Rabu (26/8/2026). Mengutip sejumlah pihak nan mengetahui pertemuan sebelum perang, Direktur Intelijen Nasional AS saat itu, Tulsi Gabbard, memperingatkan Trump bahwa "pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran berpotensi memunculkan penerus nan lebih garis keras".
"Langkah tersebut juga dinilai dapat mendorong Iran menutup Selat Hormuz, jalur strategis nan menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia," bunyi laporan tersebut.
Wakil Presiden AS JD Vance turut mendorong pendekatan nan lebih "hati-hati" dengan mengutamakan negosiasi. Menurutnya, kesepakatan diplomatik bakal memerlukan biaya lebih rendah dibandingkan perang nan dapat membawa "konsekuensi tak terkendali".
Di sisi lain, pejabat militer senior, termasuk Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, menyodorkan opsi serangan nan "menentukan" kepada Trump. Namun, sejumlah pejabat memperingatkan adanya keterbatasan amunisi serta akibat bagi pasukan AS nan sudah dalam kondisi "terlalu terbebani".
Meski demikian, Trump dilaporkan menepis kekhawatiran tersebut. Ia apalagi meyakini militer dapat "mengatasi masalah apa pun" nan muncul.
Trump disebut sempat menunjukkan "kepuasan ketika perang dimulai". Dalam sebuah aktivitas penggalangan biaya di Mar-a-Lago, Trump apalagi dilaporkan "membusungkan dada" setelah menerima berita mengenai tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Namun, situasi berubah ketika nilai bahan bakar melonjak dan perang tidak bergerak sesuai harapan. Pemimpin Arab Saudi dan Qatar kemudian mendesak Gedung Putih mencari solusi diplomatik.
Sementara itu, jajak pendapat internal menunjukkan nyaris 80% penduduk AS mendukung kesepakatan untuk mengakhiri perang. Tekanan tersebut ikut mendorong Trump mengupayakan gencatan senjata sementara pada Juni.
Sejumlah personil Partai Republik juga memperingatkan akibat politik dari perang berkepanjangan terhadap kesempatan partai menghadapi pemilihan paruh waktu pada November. Di sisi lain, periode 60 hari negosiasi nuklir berhujung pada 17 Agustus tanpa menghasilkan penyelesaian final.
"Setelah kegagalan negosiasi tersebut, pemerintah AS dilaporkan kembali menjalankan Operation Economic Outcast, kampanye tekanan ekonomi nan bermaksud melemahkan pemerintah Iran melalui blokade laut dan hukuman berkelanjutan," muat laporan lagi.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·