Jakarta, CNBC Indonesia - Arab Saudi dilaporkan mendesak pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menghindari tindakan militer besar apa pun terhadap Iran hingga selesai musim haji tahun ini. Negeri Raja Salman meminta
Washington untuk menghindari eskalasi lantaran otoritas Arab Saudi bakal menjadi tuan rumah bagi lebih dari 1,5 juta jamaah dari seluruh dunia. Laporan ini dimuat pertama oleh media CNN International dan dimuat pula oleh laman lokal, The New Arab. Arab Saudi sendiri adalah sekutu Teluk dari Amerika Serikat.
"Haji tahun ini diperkirakan bakal dimulai pada 24 Mei dan berjalan selama enam hari," tulis laman itu, dikutip Senin (25/5/2026).
Bukan hanya Arab Saudi, permintaan juga diutarakan Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA). Mereka meminta upaya diplomatik berlanjut, di tengah kekhawatiran bahwa Iran dapat membalas dendam terhadap negara-negara Teluk tetangga jika AS melanjutkan serangan.
"Para pemimpin Teluk menunjukkan front persatuan dalam mendesak pemerintahan Trump untuk menahan diri, dengan musim Haji menjadi bagian utama dari kekhawatiran tersebut," tambah sumber itu.
Sementara itu, dalam laporan media lainnya, dikatakan gimana Trump telah diperingatkan bahwa tindakan militer selama Haji dapat memicu gangguan regional nan lebih luas. Para pejabat cemas permusuhan baru dapat menyebabkan sejumlah besar jamaah haji terlantar di seluruh Teluk.
Para pejabat Teluk dilaporkan juga memperingatkan bahwa melancarkan serangan selama periode suci menjelang Idul Adha dapat semakin merusak posisi Washington di seluruh bumi Muslim. Sebelumnya, AS dan Israel sendiri melancarkan serangan terhadap Iran selama bulan suci Ramadhan.
"Para analis juga memperingatkan bahwa bentrok nan diperbarui kemungkinan bakal mengganggu pusat-pusat penerbangan regional utama, termasuk di Qatar dan UEA, serta rute nan menghubungkan Asia Selatan dan Timur, tempat banyak jamaah haji memulai perjalanan mereka," tambahnya.
Perang AS-Iran sendiri terjadi sejak 28 Februari. Gencatan senjata nan mulai bertindak pada 8 April menghentikan bentrok selama beberapa minggu namun negosiasi tenteram belum betul-betul terjadi.
(sef/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·