Media sosial mulai menyoroti konten warteg 'fancy', menyusul pembukaan rumah makan baru berjulukan 'Salira' di bilangan Senopati, Jakarta Selatan. Restoran baru dari jaringan F&B Union Group ini meminjam konsep ala warteg, menggunakan atribusi etalase kaca nan dibuka-tutup dengan gorden vitrase. (CNBC Indonesia/Kartini Bohang)
Di dalam etalase, tersedia beragam pilihan lauk unik masakan rumahan Nusantara. Pengunjung bisa langsung menunjuk lauk nan diinginkan, lampau 'penjaga warung' bakal menyiapkannya di atas piring. Pembeda utama dari warteg konvensional pada umumnya terletak pada nilai dan suasana nan terasa premium. (CNBC Indonesia/Kartini Bohang)
CNBC Indonesia mencoba merasakan langsung suasana makan di Salira pada Kamis (9/4) kemarin. Kami tiba di restoran ala warteg tersebut sekitar pukul 12:38 WIB dan kudu masuk daftar tunggu (waiting list), sebuah situasi nan jarang kami temui di warteg konvensional. (CNBC Indonesia/Kartini Bohang)
Demografi pengunjungnya juga langsung terasa berbeda. Orang-orang datang dengan setelan fesyen unik kelas atas, memikul tas branded seperti Louis Vuitton, Celine, Goyard, Chanel, dan kawanannya. Perempuan berinisial D (50 Tahun) salah satu visitor warteg 'fancy' ini mengaku menghabiskan duit Rp800.000 untuk makan bertiga saat kunjungan pertamanya ke Salira. Masing-masing orang memesan dua jenis minuman, beberapa lauk, camilan, dan hidangan pencuci mulut. (CNBC Indonesia/Kartini Bohang)
Fenomena kemunculan warteg ‘fancy’ seperti Salira nan mematok nilai lebih mahal daripada rata-rata warteg konvensional, menunjukkan indikasi gentrifikasi kuliner. Dalam konteks ini, istilah tersebut merujuk pada pergeseran nilai budaya 'merakyat' dari warteg nan sudah ada sejak 1940-an pelan-pelan dilepas dan dirancang untuk naik kelas. (CNBC Indonesia/Kartini Bohang)
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·