Terlihat Bahagia di Media Sosial, Lelah di Dunia Nyata? Ini Penyebabnya

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi Scrolling Media Sosial (sumber: pexels/leon)

Saat membuka media sosial, kita sering memandang orang-orang nan tampak menjalani hidup nan menyenangkan. Ada nan terlihat produktif, sering bepergian, mempunyai banyak teman, alias sukses mencapai beragam pencapaian.

Dari luar, semuanya tampak baik-baik saja. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Tidak sedikit orang nan terlihat senang di media sosial, tetapi sebenarnya sedang merasa lelah, cemas, alias tertekan secara mental.

Fenomena ini cukup dekat dengan kehidupan Generasi Z saat ini. Menurut tinjauan literatur oleh Waseso dan Wibowo (2026), penggunaan media sosial berangkaian dengan beragam aspek kesehatan mental, seperti kecemasan, depresi, rendahnya nilai diri, gangguan tidur, hingga isolasi sosial.

Lalu, kenapa seseorang bisa terlihat senang di media sosial tetapi tetap merasa capek secara mental?

1. Media Sosial Membuat Kita Terbiasa Menampilkan Versi Terbaik Diri Sendiri

Di media sosial, sebagian besar orang condong membagikan momen terbaik dalam hidupnya. Foto nan diunggah biasanya dipilih terlebih dahulu, pencapaian lebih sering dibagikan, dan masalah pribadi sering kali disimpan untuk diri sendiri. Akibatnya, media sosial dipenuhi oleh gambaran kehidupan nan terlihat menyenangkan. Padahal, setiap orang tetap mempunyai masalah, kekhawatiran, dan hari-hari nan tidak melangkah sesuai harapan.

2. Kita Sering Membandingkan Diri dengan Kehidupan Orang Lain

Ketika memandang orang lain terlihat lebih sukses, lebih bahagia, alias lebih produktif, tanpa sadar kita mulai membandingkan diri dengan mereka. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai social comparison. Menurut Le Blanc-Brillon dkk. (2025), kecenderungan membandingkan diri dengan orang nan dianggap lebih unggul (upward comparison) berangkaian dengan rendahnya self-esteem dan munculnya indikasi depresi.

Karena itu, nan melelahkan bukan hanya media sosial itu sendiri, tetapi kebiasaan membandingkan diri nan terus terjadi saat menggunakannya.

3. FOMO Membuat Kita Sulit Benar-Benar Beristirahat

Selain komparasi sosial, banyak pengguna media sosial juga mengalami fear of missing out (FOMO), ialah rasa takut tertinggal informasi, tren, alias aktivitas orang lain. Akibatnya, seseorang merasa perlu terus memeriksa notifikasi, memandang unggahan terbaru, alias mengikuti beragam tren nan sedang berlangsung. Lama-kelamaan, kebiasaan ini membikin pikiran susah beristirahat lantaran selalu merasa kudu mengikuti apa nan terjadi di bumi maya.

4. Terlihat Bahagia Tidak Selalu Berarti Sedang Bahagia

Media sosial hanya menampilkan sebagian mini dari kehidupan seseorang. Apa nan terlihat di layar belum tentu menggambarkan kondisi nan sebenarnya. Seseorang dapat terlihat ceria dan aktif di media sosial, tetapi pada saat nan sama sedang menghadapi tekanan akademik, masalah keluarga, kesepian, alias kelelahan emosional nan tidak diketahui orang lain. Karena itu, krusial untuk mengingat bahwa unggahan di media sosial bukanlah gambaran utuh tentang kehidupan seseorang.

5. Media Sosial Bisa Membantu, Tetapi Juga Bisa Melelahkan

Meski sering dikaitkan dengan akibat negatif, media sosial juga mempunyai manfaat. Penelitian Kustiawan dkk. (2025) menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi ruang untuk berekspresi dan memperoleh support emosional.

Bagi sebagian orang, media sosial membantu mereka menemukan komunitas, berbagi pengalaman, dan merasa lebih dipahami. Namun, ruang nan sama juga dapat memunculkan tekanan sosial, komentar negatif, hingga info nan tidak selalu akurat. Karena itu, akibat media sosial sangat berjuntai pada gimana seseorang menggunakannya.

Media sosial memang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, semakin sering kita menggunakannya, semakin krusial pula untuk mengingat bahwa apa nan terlihat di layar tidak selalu mencerminkan realita nan sebenarnya. Orang nan tampak paling senang belum tentu sedang baik-baik saja, dan orang nan jarang membagikan kehidupannya belum tentu sedang mengalami kesulitan. Terkadang, menjaga kesehatan mental bukan berfaedah menjauh sepenuhnya dari media sosial, tetapi belajar menggunakannya dengan lebih sadar dan tidak terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan