Terisolasi dan Minim Air! Ini Tantangan Utama BPBD Padamkan Karhutla di Pelosok Kalteng

Sedang Trending 19 menit yang lalu
Terisolasi dan Minim Air! Ini Tantangan Utama BPBD Padamkan Karhutla Pelosok Kalteng Ilustrasi: Helikopter water bombing berupaya memadamkan kebakaran lahan di Petuk Katimpun, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (11/8/2026).(ANTARA FOTO/Auliya Rahman)

BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, menyatakan tantangan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin besar lantaran kebanyakan letak kebakaran sekarang berada jauh dari area perkotaan.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam menjelaskan, kondisi medan nan jauh meloloskan beragam hambatan lapangan (obstacle), terutama dalam perihal mobilisasi personel maupun peralatan pemadam.

“Banyak obstacle alias kendala-kendala lapangan. Karena kebakaran ini tidak terjadi lagi di dekat-dekat kota,” ungkap Multazam di Sampit, Sabtu (22/8).

Multazam melanjutkan, petugas terkadang kudu mengandalkan kendaraan roda tiga hingga melangkah kaki untuk menjangkau titik kebakaran. Ketersediaan sumber air nan belum tentu berada di sekitar letak kejadian turut menguras waktu dan tenaga para personel.

“Kadang-kadang menggunakan roda tiga, melangkah kaki, kemudian belum tentu air di letak kebakaran itu ada,” ujarnya.

Multazam memaparkan, pemadaman lahan gambut memerlukan penanganan unik dibanding kebakaran bangunan. Api pada lahan gambut dapat memperkuat jauh lebih lama meski sudah digempur air.

“Kalau kita bicara kebakaran gedung 1-2 jam dengan kita gempur bersama-sama selesai. Kalau kebakaran gambut, bisa berdurasi sembilan jam di situ saja,” jelasnya.

Berdasarkan info BPBD Kotim hingga 20 Agustus 2026, telah tercatat 401 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai lebih dari 1.394 hektare nan tersebar di sejumlah kecamatan.

Ancaman karhutla kian memprihatinkan tercermin dari tingginya akumulasi hotspot (titik panas) di Kotim sejak Januari hingga 20 Agustus 2026 nan mencapai 6.139 titik. Kecamatan Teluk Sampit tercatat sebagai wilayah menyumbang hotspot terbanyak, ialah 1.066 titik.

Melihat tingginya nomor tersebut, Multazam menegaskan penanganan karhutla memerlukan pendekatan lebih luas melalui pencegahan dan support lintas sektor, tidak hanya bersandar pada pemadaman saat api sudah muncul. (Ant/P-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia