Terbang dan Melaju Bersama PT DI

Sedang Trending 19 jam yang lalu
Terbang dan Melaju Bersama PT DI Kegiatan liputan Reporter Cilik Media Indonesia ke PT Dirgantara Indonesia, Bandung, pada Senin (24/8).(MI/Permana)

Kisahku dengan pesawat dimulai pada hari ini, 24 Agustus 2026. Hari ini, saya pergi ke PT Dirgantara Indonesia (PT DI) sebagai Reporter Cilik (Repcil) berbareng 49 peserta lainnya. Di PT DI, saya diajak berkeliling ke hanggar dan tempat pembuatan pesawat.

Di tempat pertama nan saya kunjungi, terdapat beragam jenis miniatur pesawat PT DI. Di sana, saya mencoba naik ke pesawat nan sudah tidak digunakan alias tidak diterbangkan lagi. Di tempat pertama tersebut, saya juga diberi tahu beragam jenis pesawat. Salah satunya adalah N-12 nan mempunyai fitur dapat mendarat di air.

Lalu, saat di hanggar, saya dibentuk berpasangan untuk bertanya kepada pekerja nan berada di sana. Saya berbareng Kirana bertanya kepada kakak nan bekerja di bagian quality control.

Saya menanyakan beberapa pertanyaan kepada kakak nan ada di sana. Ternyata, di PT DI, pekerja kudu bisa menggunakan perangkat nan disediakan, membaca gambar alias sketsa pesawat, serta membikin sketsa dan jadwal.

Lalu, saya bertanya, “Seberapa krusial PT DI?” Menurut kakak tersebut, PT DI sangat krusial lantaran merupakan satu-satunya perusahaan pesawat di Asia Tenggara.

Saya bertanya lagi, “Mengapa Kakak tertarik bekerja di PT DI?” Menurut kakak tersebut, ketika orang tuanya tetap kecil, orang tuanya pernah memandang pesawat N-250 terbang. Menurutnya, perihal tersebut sangat menarik dan akhirnya membuatnya tertarik untuk bekerja di PT DI. Masih banyak pertanyaan lainnya nan saya tanyakan kepada kakak-kakak nan ada di sana.

Setelah saya beristirahat selama satu jam, saya melanjutkan aktivitas lainnya, ialah sesi tanya jawab dengan Ibu Dhea Widhianti sebagai Direktur Keuangan dan SDM serta Bapak Dena Hendriawan sebagai Direktur Produksi. Ada beberapa pertanyaan nan saya ajukan. Pertama, “Pesawat apa nan paling Bapak banggakan?” Bapak Dena menjawab pesawat N219 lantaran pesawat tersebut merupakan buatan anak bangsa dan dapat terbang di tempat nan rendah.

Lalu, saya bertanya, “Berapa biaya untuk membikin satu pesawat?” Jawabannya, salah satunya, adalah pesawat CN235 nan berbobot sekitar 14 juta dolar AS alias sekitar Rp700 miliar.

Kesan dan pesan saya di PT DI adalah PT DI sangat bagus dan luas. Tempatnya bersih dan kakak-kakaknya ramah. Informasi nan diberikan juga sangat banyak dan informatif sehingga saya menjadi lebih tahu tentang pesawat dan langkah membikin pesawat. Saya merasa sangat senang lantaran sudah bisa diundang ke PT DI. (X-6)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia