Tenang yang Mahal di Era Bising Media Sosial

Sedang Trending 1 jam yang lalu
https://www.meta.ai/prompt/ff2a15ec-2257-4ba4-bc87-ade75ba222bb

Di tengah rimba info dan tuntutan hidup modern nan serba cepat, rasa resah seolah menjadi kawan setia sehari-hari. Mulai dari tekanan pekerjaan, ekspektasi sosial, hingga notifications ponsel nan tak pernah berhenti, otak dan jiwa manusia dipaksa bekerja tanpa jeda. Banyak orang akhirnya menganggap bahwa "TENANG" adalah sebuah keberuntungan alias karakter bawaan lahir nan hanya dimiliki orang-orang tertentu.

Namun, benarkah demikian?

Kenyataannya, ketenangan jiwa bukanlah takdir nan kaku, melainkan-sebuah keahlian jiwani nan dapat dipelajari, dilatih, dan dibiasakan. Sama seperti otot tubuh nan perlu dilatih di tempat kebugaran agar makin kuat, jiwa manusia pun memerlukan ruang latihan agar tak mudah goyah saat diterjang angin besar kehidupan.

Dalam tradisi Islam, instrumen utama untuk melatih ketenangan tersebut sangat mendasar dan telah menjadi rutinitas harian: mengingat Allah (zikir) dan menunaikan salat.

Secara psikologis, kekhawatiran sering kali berasal dari pikiran nan melayang jauh ke masa depan (kekhawatiran atas perihal nan belum terjadi) alias tertambat di masa lampau (penyesalan). Zikir—secara bahasa berfaedah "mengingat"—berfungsi memutus rantai pikiran liar tersebut dan mengembalikannya ke momen sekarang berbareng Sang Pencipta.

Allah SWT secara tegas menegaskan hubungan langsung antara mengingat-Nya dengan ketenangan jiwa dalam Al-Quran " (Yaitu) orang-orang nan beragama dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)

Zikir mendidik kesadaran kita bahwa di kembali segala riuh rendah kekuasaan dan masalah duniawi, ada Zat nan Maha Mengatur. Ketika kesadaran itu hadir, beban di dada perlahan terangkat lantaran kita sadar tidak sedang melangkah sendirian.

Salat: Tempat Perhentian dan "Reset" Harian

Jika zikir adalah pengingat nan bisa diucapkan kapan saja, maka salat adalah jarak terstruktur harian. Lima kali sehari, manusia diminta meninggalkan segalanya—komputer, rapat, gawai, dan urusan rumah tangga—untuk berdiri tegak di hadapan Tuhan.

Bagi Rasulullah SAW, salat bukanlah beban tanggungjawab nan menggencet, melainkan tempat beristirahat dari lelahnya aktivitas duniawi. Dalam sebuah hadits shahih, beliau pernah berseru kepada muazinnya: "Wahai Bilal, kumandangkanlah iqamah untuk salat, **istirahatkanlah kami dengan shalat tersebut." (HR. Abu Dawud No. 4985, dishahihkan oleh Al-Albani)

Secara medis dan neurosains modern, aktivitas salat nan dilakukan secara tumakninah (tenang/tidak terburu-buru), terutama saat sujud, terbukti membantu menurunkan hormon stres (kortisol) dan menurunkan irama gelombang otak ke fase nan lebih rileks (gelombang alfa). Salat nan betul adalah mindfulness tingkat tinggi, di mana fokus, aktivitas tubuh, dan referensi menyatu secara utuh.

Tentu, meraih ketenangan lewat salat dan zikir tidak terjadi secara instan ibaratkan membalikkan telapak tangan. Ia memerlukan proses, latihan, dan konsistensi (istiqamah).

Kunci utamanya terletak pada kualitas kehadiran diri (khusyuk). Salat nan sekadar menggugurkan tanggungjawab secara tergesa-gesa tidak bakal memberi akibat transformatif nan sama dengan salat nan diresapi pada setiap gerakannya. Untuk itu, kita perlu melatih diri:

1. Niatkan sebagai jeda. Jadikan waktu salat sebagai momentum untuk menyegarkan pikiran, bukan gangguan terhadap pekerjaan.

2. Hadirkan hati. Saat melafalkan kalimat zikir, resapi maknanya. Jangan biarkan mulut mengucap sementara pikiran mengembara ke perihal lain.

3. Tumakninah. Beri jarak pada setiap aktivitas salat. Ketenangan fisik, lambat laun, bakal merambat menjadi ketenangan jiwa.

Ketenangan bukanlah ketiadaan masalah, melainkan keahlian untuk tetap stabil di tengah masalah. Dengan menjadikan zikir dan salat sebagai sarana latihan harian, kita sedang menempa jiwa agar tidak mudah retak saat dihantam ujian kehidupan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan