Di meja makan rakyat Indonesia, tempe bukan sekadar lauk. Ia adalah penolong nan diam-diam bekerja setiap hari: murah, bergizi, mudah diolah, dan berkawan dengan semua kelas sosial. Di warung nasi, di dapur rumah, di angkringan, di meja kos-kosan, hingga di restoran modern, tempe selalu punya tempat. Dari sekian banyak olahan tempe, tempe mendoan punya pesona tersendiri. Ia lahir dari tradisi Banyumas, sangat lekat dengan Purwokerto, digoreng separuh matang, lembek, hangat, wangi daun bawang lampau dicocol sambal kecap alias digigit berbareng cabe rawit.
Namun, di kembali wajah tradisional dan kesederhanaannya, tempe mendoan menyimpan cerita ekonomi dunia nan tidak sederhana. Sepotong tempe mendoan nan kita makan rupanya tidak sepenuhnya berdiri di atas kaki sendiri. Kedelainya banyak berjuntai pada impor. Tepung terigunya juga berasal dari gandum impor. Artinya, makanan nan terasa sangat lokal itu rupanya punya urat nadi nan tersambung ke pasar global, kapal dagang, nilai komoditas internasional dan dolar Amerika Serikat.
Inilah ironi mini di dapur besar Indonesia. Kita merasa sedang makan makanan rakyat, tetapi sebagian bahan bakunya dibeli dengan mata duit global. Ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, dampaknya tidak hanya terasa di layar pialang saham alias laporan ekonomi pemerintah. Ia juga menyelinap ke wajan penggorengan, ke gerobak pedagang gorengan, ke dapur pengrajin tempe dan akhirnya ke kantong masyarakat.
Kedelai adalah bahan utama tempe. Masalahnya, kebutuhan kedelai nasional belum bisa dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Indonesia tetap mengimpor jutaan ton kedelai setiap tahun, dengan Amerika Serikat sebagai salah satu pemasok utama. Sementara itu, tepung terigu nan membalut mendoan juga bukan cerita swasembada. Indonesia memang mempunyai industri penggilingan tepung, tetapi bahan dasarnya, ialah gandum, nyaris seluruhnya kudu didatangkan dari luar negeri. Jadi, walaupun tempe mendoan dibuat di Purwokerto, dijual di warung Banyumas dan dimakan dengan logat ngapak nan hangat, rupanya struktur biayanya ikut digoyang oleh pasar global.
Tekanan terhadap rupiah membikin persoalan ini semakin terasa. Ketika dolar menguat, biaya impor condong naik. Importir kudu mengeluarkan rupiah lebih banyak untuk membeli bahan baku nan sama. Kenaikan itu kemudian bergerak berantai: dari importir ke distributor, dari pemasok ke pengrajin tempe, lampau dari pengrajin ke pedagang gorengan, hingga akhirnya sampai ke pembeli. Rantai ini tidak selalu terlihat, tetapi nyata.
Pedagang tempe mendoan berada di posisi nan sulit. Bila nilai dinaikkan, pembeli bisa protes. Bila ukuran diperkecil, pembeli merasa kecewa. Bila kualitas dikurangi, rasa dan kepercayaan ikut turun. Akhirnya banyak pedagang memilih jalan tengah: nilai naik sedikit, ukuran menipis sedikit, alias isi satu porsi dikurangi pelan-pelan. Inilah corak inflasi nan sering tidak kita sadari. Bukan hanya nilai nan berubah, tetapi juga ukuran, rasa, dan kepuasan.
Bagi masyarakat, tempe bukan peralatan mewah. Justru lantaran murah dan mudah didapat, tempe menjadi penyangga gizi rakyat. Ia sumber protein bagi family nan tidak selalu sanggup membeli daging, ayam, alias ikan setiap hari. Karena itu, ketika nilai tempe dan olahannya naik, nan terganggu bukan hanya selera makan, tetapi juga daya tahan sosial masyarakat bawah. Kenaikan seribu alias dua ribu rupiah mungkin tampak mini bagi sebagian orang, tetapi bagi family nan menghitung shopping harian secara ketat, perubahan mini bisa berfaedah pengurangan lauk.
Di titik ini, tempe mendoan memberi pelajaran penting: ketahanan pangan tidak boleh hanya dibicarakan sebatas beras. Selama ini, obrolan pangan kita sering terlalu berpusat pada nasi. Padahal dapur rakyat juga ditopang oleh kedelai, tepung, minyak goreng, gula, garam, cabai, telur dan komoditas lain nan ikut menentukan hidup sehari-hari. Jika tempe adalah lauk harian jutaan orang, maka kedelai semestinya diperlakukan sebagai komoditas strategis, bukan sekadar urusan industri kecil.
Pemerintah perlu memandang masalah ini secara lebih jernih. Impor bukan dosa, selama dilakukan untuk menutup kekurangan produksi dan menjaga pasokan. Tetapi ketergantungan berlebihan terhadap impor adalah risiko. Apalagi jika bahan pangan itu dikonsumsi luas oleh masyarakat. Maka nan dibutuhkan bukan semboyan swasembada nan terdengar gagah tetapi susah dijalankan, melainkan strategi berjenjang dan konsisten: memperkuat produksi kedelai lokal, memberi insentif kepada petani, menjamin pembelian hasil panen, memperbaiki benih, memperluas riset varietas nan sesuai lahan Indonesia dan membangun ekosistem industri tempe nan lebih adil.
Untuk gandum, persoalannya berbeda. Indonesia bukan negara nan ideal untuk produksi gandum skala besar. Maka solusinya tidak bisa semata-mata memaksakan swasembada gandum. nan lebih masuk logika adalah mengurangi ketergantungan melalui diversifikasi bahan pangan dan bahan baku tepung. Tepung dari bahan pengganti seperti singkong, sagu, sorgum dan bahan pangan lokal lain perlu terus dikembangkan, bukan sebagai pengganti total terigu, tetapi sebagai penyeimbang. Selera masyarakat memang tidak bisa diubah dalam semalam, tetapi kebijakan pangan kudu berani memulai perubahan sejak sekarang.
Di sisi lain, pelaku upaya mini juga perlu dilindungi. Pengrajin tempe, pedagang tempe mendoan dan UMKM gorengan bukan sekadar
pelaku ekonomi informal. Mereka adalah penjaga degub pangan rakyat. Pemerintah wilayah bisa membantu melalui info nilai bahan baku nan transparan, koperasi pembelian kedelai, akses pembiayaan murah, training efisiensi produksi, dan jaringan pengedaran nan lebih pendek. Jangan sampai pedagang mini dibiarkan sendirian menghadapi gejolak dolar, sementara mereka tidak punya kekuatan untuk mengendalikan nilai bahan baku.
Masyarakat juga perlu bersikap adil. Ketika nilai tempe mendoan naik, jangan buru-buru menyalahkan pedagang. Bisa jadi mereka sedang berupaya memperkuat di tengah biaya nan meningkat. Di kembali mendoan nan sedikit mengecil, ada biaya kedelai, tepung, minyak, gas, sewa tempat, tenaga kerja dan ongkos hidup nan ikut naik. Pedagang mini bukan penyebab utama mahalnya pangan; mereka sering kali justru korban pertama dari rantai ekonomi nan panjang.
Tempe mendoan mengajarkan bahwa ekonomi dunia tidak selalu datang dalam corak nomor rumit. Kadang dia datang dalam corak gorengan hangat di piring kecil. Dolar AS nan menguat mungkin terdengar jauh, tetapi rupanya bisa membikin tempe lebih tipis, tepung lebih mahal, dan pedagang lebih gelisah. Dari sini kita belajar bahwa kedaulatan pangan bukan sekadar urusan sawah dan ladang, melainkan juga urusan nilai tukar, industri, distribusi, riset dan keberpihakan kepada rakyat kecil.
Maka, setiap kali kita menggigit tempe mendoan, ada baiknya kita tidak hanya menikmati gurihnya, tetapi juga merenungkan pesannya. Makanan tradisional ini sedang memberi tanda bahwa kita tidak cukup hanya bangga pada kuliner lokal tetapi juga kudu serius memperkuat bahan bakunya. Sebab, identitas kuliner nan kuat bakal rentan jika dapurnya terlalu berjuntai pada dolar AS.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·