Telkom Dorong Kedaulatan Digital di Indonesia Higher Education CIO Forum 2026

Sedang Trending 48 menit yang lalu
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, menyampaikan paparan dalam Indonesia Higher Education CIO Forum 2026 di Institut Teknologi Bandung. Foto: Dok. Telkom

PT Telkom Indonesia Tbk (Telkom) turut andil dalam Indonesia Higher Education CIO Forum 2026 berjudul “Empowering PDDikti through IDREN Collaboration: Advancing IT Governance, Cyber Resilience, and Operational Excellence” di Aula Barat Institut Teknologi Bandung pada 31 Agustus-1 September 2026.

Forum ini membahas tata kelola teknologi informasi, hubungan jaringan riset dan pendidikan, ketahanan siber, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).

Indonesia Higher Education CIO Forum juga mempertemukan rektor dari beragam perguruan tinggi terkemuka, Chief Information Officer (CIO), dan Head of IT dari beragam universitas dalam Indonesia Research and Education Network (IDREN), serta ketua universitas internasional dari beragam negara.

Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, menegaskan bahwa transformasi digital pendidikan tinggi menjadi kebutuhan untuk menyongsong era digital dan komputasi kuantum, sekaligus membangun kesiapan menghadapi disrupsi teknologi.

“Teknologinya sudah tersedia. Kesenjangan digital dapat diatasi secara bersama-sama sehingga jauh lebih murah, lebih cepat, dan lebih kondusif dibandingkan dilakukan sendiri-sendiri. Tidak ada satu lembaga pun nan bisa membangunnya sendirian. Di sinilah kerjasama pentahelix menjadi kunci,” ujar Seno.

Seno menambahkan, kesiapan digital perguruan tinggi sekarang turut menentukan akreditasi, daya serap lulusan, hingga reputasi riset. Namun, kondisi antarkampus tetap timpang.

“Melalui IDREN sebagai landasan bersama, satu model info nasional, serta SOC dan CSIRT, kesenjangan tersebut dapat ditutup secara kolektif dengan biaya lebih efisien,” jelasnya.

Forum ini juga menyoroti urgensi kesiapan menghadapi era kuantum, terutama terhadap ancaman “harvest now, decrypt later”, ialah kondisi ketika pihak tak bertanggung jawab mengumpulkan info terenkripsi nan dapat membahayakan info identitas mahasiswa, kekayaan intelektual riset, hingga lebih luas di lingkup pendidikan nasional.

Menjawab tantangan tersebut, Seno menegaskan bahwa langkah pertama bukanlah membangun laboratorium kuantum, melainkan melakukan inventarisasi kriptografi dan menyusun rencana migrasi Post-Quantum Cryptography (PQC) nan tuntas sebelum 2030.

“Telkom menyiapkan arsitektur jaringan quantum-safe nan memadukan PQC, Quantum Key Distribution (QKD), dan Zero-Trust Architecture di lapisan jaringan akses, jaringan inti, hingga pusat data,” kata Seno.

Untuk itu, lanjutnya, Telkom mempunyai tiga peran utama. Pertama, sebagai tulang punggung konektivitas dan prasarana digital nasional, Telkom melalui InfraNexia menyediakan 112.000 kilometer jaringan fiber optik, termasuk 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik.

Kedua, Telkom mengorkestrasi penemuan kampus melalui joint lab, testbed, hingga jalur komersialisasi riset menuju pasar. Ketiga, Telkom membuka akses terhadap teknologi mutakhir melalui kemitraan strategis global, skema investasi berbareng berbasis konsumsi (OPEX), serta penjajakan pendanaan riset.

“Komitmen tersebut dibuktikan lewat sejumlah implementasi, di antaranya penyediaan produk AI bagi sejumlah universitas, pra-peluncuran platform kedaulatan nan memadukan AI, komputasi awan, dan keamanan siber, serta program Digistar Class untuk mempercepat transformasi digital pendidikan tinggi melalui penyiapan talenta digital Indonesia,” jelas Seno.

Kolaborasi teraebut menjadi bagian dari upaya Telkom memperkuat fondasi digital pendidikan tinggi sekaligus mendorong terwujudnya Indonesia nan berdaulat, aman, dan pandai secara digital.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan