Jakarta, CNN Indonesia --
Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mendorong Polda Metro Jaya mengungkap dugaan tokoh intelektual di kembali kericuhan 27 Agustus 2026 dengan mendalami mobilisasi massa hingga dugaan pendanaan.
Bukan hanya itu, Kompolnas mengaku menemukan dugaan kemiripan nan terjadi pada Agustus lampau dengan pola kericuhan nan terjadi pada bulan nan sama di 2025 lalu.
Komisioner Kompolnas Choirul Anam mengatakan pengungkapan diperlukan untuk mengetahui secara menyeluruh pihak nan berada di kembali peristiwa tersebut, khususnya kericuhan pada malam hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Iya, kami Kompolnas tetap mendorong Polda Metro untuk membongkar siapa tokoh intelektual di kembali peristiwa tanggal 27 kemarin. Khususnya nan di malam hari," kata Anam dalam keterangannya, Jakarta, Kamis (3/9).
Menurut dia, pola nan ditemukan dalam peristiwa 27 Agustus mempunyai kemiripan dengan peristiwa nan terjadi pada 2025, sehingga perlu menjadi bahan pendalaman kepolisian.
Anam mengatakan pendalaman tidak hanya perlu diarahkan terhadap pelaku di lapangan, tetapi juga mencakup dugaan mobilisasi massa dan pendanaan nan berangkaian dengan peristiwa tersebut.
"Karena kita bisa belajar dari peristiwa 2025. Ada pola nan bisa kita rasakan di lapangan itu mirip antara 2025 dan 2026 kemarin. Sehingga tokoh intelektual di kembali peristiwa tanggal 27 kemarin maupun peristiwa nan lain itu kudu segera diungkap," ujar laki-laki nan pernah jadi Wakil Ketua Komnas HAM itu.
Ia juga mengapresiasi langkah Polda Metro Jaya nan telah merilis dua sketsa laki-laki nan diduga berangkaian dengan kasus pengeroyokan alias penganiayaan terhadap penduduk di Pejompongan saat kericuhan 27 Agustus.
Namun, menurut Anam, penanganan perkara perlu diikuti dengan pendalaman terhadap dugaan pihak nan berada di kembali mobilisasi massa dan pendanaan.
Kompolnas, kata dia, bakal terus mengawasi proses penanganan perkara tersebut agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi.
"Negara tidak boleh kalah, negara kudu hadir. Dengan langkah apa? Ya, sekali lagi kudu dibongkar siapa pun tokoh intelektual di kembali peristiwa tersebut, baik mobilisasi maupun pendanaan, itu nan paling mudah. Nah, itu nan kita awasi dan diharapkan oleh masyarakat," kata Anam.
Sebelumnya, Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya menyatakan sedang mendalami dugaan adanya tokoh intelektual, penyedia dana, dan penggerak massa di kembali kericuhan di Jakarta pada Kamis (27/8).
"Kami sedang melakukan pendalaman terhadap tokoh intelektual, melakukan pendalaman terhadap dugaan penyedia dana, maupun para penggerak massa perusuh," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanuddin di Jakarta, Rabu (2/9).
Menurut Iman, pendalaman dilakukan berasas pola tindakan para pelaku nan dinilai menunjukkan indikasi mobilisasi dan perencanaan.
Polda Metro Jaya juga telah menetapkan 47 orang sebagai tersangka mengenai perusakan akomodasi umum dan penganiayaan dalam rangkaian kericuhan 27 Agustus.
Selain itu, polisi menangkap tiga orang berinisial FR, MH, dan FM mengenai kasus perusakan kamera pengawas lingkungan (CCTV) milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
(antara/kid)
48 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·