Ilustrasi(MI/INDRASTUTI)
INDONESIA tetap menghadapi tantangan dalam penanganan stunting. Data dari Survei Kesehatan Indonesia (2023) menunjukkan bahwa prevalensi stunting pada anak berumur 0-59 bulan adalah 21,5 persen, nan tetap jauh dari sasaran 14 persen pada 2024. Sejumlah studi menunjukkan perilaku pemberian makan nan tidak tepat akibat kurangnya pengetahuan pengasuh alias orang tua berangkaian erat dengan status gizi anak.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2024, Kabupaten Lombok Timur merupakan salah satu wilayah dengan tingkat prevalensi stunting tertinggi di Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan prevalensi stunting 27,6 persen alias tetap berada diatas rerata nasional ialah 21,5 persen. Kabupaten tersebut juga mempunyai komitmen tinggi dalam penanganan stunting nan dibuktikan dengan lahirnya sejumlah peraturan wilayah dalam upaya penanganan stunting.
Oleh lantaran itu, wilayah ini menjadi pilihan penelitian oleh mahasiswa doktoral IPB University Indriani nan kemudian diajukan dalam sidang terbuka dengan titel Model Penyuluhan Pola Asuh Makan pada Anak Usia Dini Melalui Whatsapp Group.
"Diperlukan upaya penyuluhan untuk mendorong perubahan perilaku pola asuh makan anak usia dini, melalui pemanfaatan WA nan paling sering digunakan masyarakat Indonesia," jelas Indriani dalam sidang terbuka di IPB University pada Rabu (15/7).
Penelitian menggunakan kerangka teoretis nan mengintegrasikan Theory of Planned Behavior (TPB) dan Technology Acceptance Model (TAM) untuk menjelaskan sistem perubahan perilaku melalui pembentukan persepsi, kendali perilaku nan dirasakan, serta penerimaan terhadap media digital sebagai sarana penyuluhan.
Penelitian nan dilakukan pada Juli hingga Oktober 2025 ini melibatkan 128 responden dari enam PAUD, dengan metode penelitian semu ini bertujuan menganalisis pola asuh makan anak usia awal di Kabupaten Lombok Timur, menganalisis pengaruh pemanfaatan WA terhadap perubahan praktik pola asuh makan dalam upaya penanganan stunting, dan merumuskan model pemanfaatan dalam penyuluhan penanganan stunting.
Pengumpulan info dilakukan dua tahap ialah info awal (baseline) dan info akhir (endline). Pada tahap baseline, seluruh responden pada kedua golongan memperoleh pamflet mengenai pola asuh makan dengan konsep Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) dan Panduan Gizi Seimbang Berbasis Pangan Lokal (PGS-PL). Selanjutnya, golongan intervensi memperoleh delapan video penyuluhan mengenai praktik pemberian makan dengan konsep B2SA dan PGSPL nan dibagikan melalui grup WhatsApp, sedangkan golongan kontrol tidak menerima intervensi tambahan.
Analisis info dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk menguji hubungan struktural antarvariabel, uji Wilcoxon dan Mann–Whitney untuk menguji perbedaan sebelum dan sesudah intervensi, serta Multi-Group Analysis (MGA) untuk mengidentifikasi perbedaan sistem antar kelompok.
Hasil SEM-PLS pada tahap baseline menunjukkan bahwa aspek support lingkungan dan karakter pesan penyuluhan berkedudukan krusial dalam membentuk persepsi kemudahan pemberian makan serta persepsi terhadap WA Group sebagai saluran difusi pesan. Persepsi kemudahan pemberian makan dan persepsi terhadap WA Group selanjutnya berasosiasi positif dengan perilaku pola asuh makan anak.
Pada tahap endline, persepsi kemudahan pola asuh makan dan persepsi terhadap WA Group berpengaruh positif dan signifikan terhadap pola asuh makan anak. Perubahan perilaku tidak terjadi secara langsung akibat paparan intervensi digital, melainkan melalui pembentukan persepsi nan memperkuat kendali perilaku nan dirasakan dan penerimaan terhadap media penyuluhan.
Dalam sistem ini, WA Group berkedudukan sebagai perantara nan menghubungkan pengaruh lingkungan sosial dengan perilaku: support lingkungan memperkuat persepsi terhadap WA Group sebagai saluran difusi, dan persepsi tersebut selanjutnya mendorong pola asuh makan.
Hasil uji beda nonparametrik menunjukkan bahwa intervensi video edukasi berbasis WA Group selama sepuluh minggu efektif menghasilkan perubahan signifikan secara statistik pada aspek sikap dan praktik pola asuh makan dibandingkan golongan kontrol nan hanya menerima brosur. Pada aspek pengetahuan dan loyalitas, golongan intervensi menunjukkan kecenderungan peningkatan nan lebih besar daripada kontrol, namun perbedaannya belum mencapai taraf signifikan.
Hasil kajian Multi-Group Analysis (MGA) memberikan temuan tambahan bahwa intervensi video melalui WA Group condong memperkuat jalur pengaruh lingkungan sosial terhadap persepsi saluran difusi pesan penyuluhan. Pada golongan intervensi, aspek lingkungan menjadi aktif dalam membentuk persepsi masyarakat terhadap faedah WA Group sebagai saluran komunikasi, sementara pada golongan kontrol peran tersebut tidak ditemukan.
"Temuan ini mengindikasikan bahwa lingkungan sosial, khususnya support dari pihak-pihak di sekitar masyarakat, berkedudukan krusial dalam menghidupkan kegunaan saluran komunikasi digital dalam penanganan stunting berbasis penyuluhan," kata Indriani nan juga berprofesi sebagai wartawan di LKBN Antara.
Secara keseluruhan, penelitian ini menyimplukan bahwa model penyuluhan pola asuh makan nan efektif menempatkan karakter pesan sebagai penentu utama pembentukan persepsi kemudahan, persepsi kemudahan sebagai penggerak inti perubahan pola asuh makan, serta lingkungan sosial sebagai aspek penguat nan mengaktifkan kegunaan WA Group sebagai saluran difusi pesan penyuluhan.
Model nan dihasilkan, dinamakan Sosial, Edukasi, Mediasi, Transmisi, Orientasi, dan Norma alias SEMETON nan menempatkan lingkungan sosial sebagai aspek penguat nan melengkapi sistem utama perubahan pola asuh makan nan tepat pada anak. Temuan ini memberikan kontribusi konseptual dan empiris bagi pengembangan strategi komunikasi kesehatan berbasis digital nan lebih kontekstual, integratif, dan realistis dalam perbaikan gizi berbasis komunitas. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·