Suasana di tengah tawuran penduduk di Manggarai.(Dok. Antara)
ANGGOTA DPRD DKI Jakarta Justin Adrian Untayana mengusulkan pencabutan bantuan sosial (bansos) bagi family pelaku tawuran nan tercatat dalam satu kartu family (KK). Usulan itu disampaikan menyusul kembali terjadinya tawuran di area Manggarai, Jakarta Selatan, Minggu (18/10).
Ia menilai penanganan tawuran tidak cukup hanya melalui pendekatan pencegahan, seperti penyediaan akomodasi olahraga, aktivitas keagamaan, dan pembentukan posko gabungan. Menurut dia, langkah tersebut perlu disertai hukuman tegas agar memberikan pengaruh jera.
“Jadi satu masalah di Jakarta solusinya tidak bisa hanya satu ya. Termasuk juga dengan tawuran, itu solusinya bukan hanya dengan ring tinju aja, bukan hanya dengan aktivitas keagamaan, bukan hanya dengan posko,” kata Justin dikutip Selasa (20/10).
Ia merespons rencana Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung membentuk posko campuran di Manggarai untuk mencegah tawuran berulang.
Justin menilai, pendekatan pencegahan perlu diimbangi akibat nan jelas bagi pelaku. Ia menyebut pencabutan Kartu Jakarta Pintar (KJP) bagi pelajar nan terlibat tawuran belum cukup efektif lantaran tindakan serupa tetap terjadi. Karena itu, dia mendorong pemerintah mempertimbangkan hukuman nan turut menyasar family pelaku.
“Saya dari kemarin sudah menyuarakan bahwa diperlukan hukuman khusus. Kalau untuk KJP dicabut, anak sekolah tawuran, itu pun sepertinya tidak terlalu efektif lantaran tawuran tetap terus berlangsung,” ujarnya.
Justin berpandangan, family perlu dilibatkan dalam upaya mencegah personil keluarganya terjerumus dalam tindakan kekerasan. Ia pun mengusulkan pencabutan bansos bagi seluruh personil family pelaku nan tercatat dalam satu KK.
"Jadi diperlukan untuk pencabutan akomodasi bansos untuk seluruh personil family dari pelaku tawuran,” ucapnya.
Ia juga mengkritik penanganan tawuran nan dinilainya kerap berhujung dengan perdamaian antara pelaku dan orang tua tanpa akibat lanjutan. Menurut dia, pola tersebut berisiko membikin pelaku mengulangi perbuatannya.
“Jangan sampai pelaku-pelaku tawuran ini sudah ditangkap, sudah dibawa ke kepolisian, tapi semuanya hanya berhujung dengan meterai, tangis-menangis, berpelukan dengan orang tuanya, kemudian dikembalikan, besoknya begitu lagi. Saya kira itu sama sekali tidak efektif,” katanya. (H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·