Sejumlah visitor mengawasi gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta, Kamis (28/5/2026).(ANTARA/Reno Esnir)
PEMERINTAH Provinsi DKI Jakarta tengah mematangkan rencana penyesuaian tarif masuk Taman Margasatwa Ragunan (TMR). Usulan untuk meningkatkan nilai tiket menjadi Rp10.000 sekarang telah sampai di meja Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, untuk segera diputuskan.
Pramono menegaskan bahwa meski nomor tersebut sudah masuk dalam pembahasan, keputusan final mengenai tarif baru belum ditetapkan secara resmi. Ia memastikan proses pertimbangan bakal dilakukan secara komprehensif sebelum diumumkan kepada publik.
“Tiket Ragunan segera bakal saya putuskan. Memang belum diputuskan. Tetapi usulan Rp10 ribu itu ada,” ujar Pramono saat memberikan keterangan di Balai Kota, Selasa (8/9).
Menurut Pramono, penyesuaian tarif ini bukan sekadar kenaikan harga, melainkan bagian dari strategi besar untuk meningkatkan kualitas pengelolaan serta pelayanan bagi visitor di salah satu lokasi wisata favorit penduduk Jakarta tersebut.
MI/HO--Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung saat memberikan keterangan di Balai Kota, Selasa (8/9).
Dorongan dari Legislatif
Rencana kenaikan ini sebelumnya didorong oleh Komisi C DPRD DKI Jakarta. Ketua Komisi C, Dimaz Raditya, mengungkapkan bahwa tarif masuk Ragunan saat ini sudah tidak relevan lantaran tidak pernah mengalami perubahan selama dua dasawarsa terakhir.
“Tarif Ragunan ini sudah 20 tahun tidak pernah naik. Sementara kondisi ekonomi dan pendapatan masyarakat Jakarta terus meningkat,” kata Dimaz.
Ia menilai nomor Rp10.000 tetap sangat logis dan terjangkau jika dibandingkan dengan lokasi wisata lain di ibu kota.
Berikut adalah komparasi tarif masuk Taman Margasatwa Ragunan saat ini dengan usulan tarif baru:
| Dewasa | Rp4.000 | Rp10.000 |
| Anak-anak | Rp3.000 | (Dalam Kajian) |
Peningkatan Keamanan dan Kemandirian Finansial
Senada dengan Dimaz, Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth, menekankan bahwa kenaikan tarif wajib dibarengi dengan peningkatan standar keamanan. Hal ini merujuk pada kejadian jatuhnya seorang anak ke area kandang gajah pada Mei lampau nan menjadi catatan serius bagi pengelola.
Selain aspek pelayanan, penyesuaian tarif diharapkan bisa mengurangi ketergantungan Ragunan terhadap APBD. Saat ini, sekitar 70% kebutuhan operasional TMR tetap disubsidi oleh pemerintah daerah.
“Harapan kami dengan adanya peningkatan tarif ini adalah Taman Margasatwa Ragunan bisa berdikari secara finansial sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Efisiensi pada anggaran APBD nantinya bisa digunakan untuk program lain nan lebih membutuhkan,” pungkas Kenneth. (Z-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·