Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah bakal menggencarkan pembangunan jaringan gas rumah tangga untuk menekan impor Liquified Petroleum Gas (LPG). Target pemerintah ada 1.450.000 sambungan rumah tangga (SR) nan tersambung hingga tahun 2029.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (BAKOM) Muhammad Qodari menjelaskan, pemerintah telah menyiapkan perencanaan teknik alias Front End Engineering Design alias (FEED) dan Detail Engineering Design Construction (DEDC) untuk pembangunan jargas RT. Terhitung dalam kurun waktu tahun 2025-2028, ditargetkan 1.119.654 SR nan tersambung.
Pemerintah juga menyiapkan tiga skema pendanaan. Perinciannya adalah melalui anggaran pendapatan dan shopping negara (APBN), Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), dan investasi badan upaya milik negara (BUMN).
Di tahun 2026 ini diproyeksikan ada 150.000 SR nan bakal dibangun melalui anggaran APBN, 50.000 SR melalui KPBU, dan 100.000 melalui investasi BUMN. Kemudian nomor itu terus bertambah di tahun 2027 menjadi 150.000 SR dari APBN, 100.000 SR dari KPBU, dan 100.000 SR dari investasi BUMN.
"Secara total pembangunan jargas tahun 2025 hingga 2029 diproyeksikan mencapai 1.450.000 SR dengan rincian 600.000 SR melalui APBN, 350.000 SR melalui KPBU, dan 500.000 SR dari investasi BUMN," papar Qodari dalam keterangan pers di instansi BAKOM, Jakarta Pusat, Rabu (5/8/2026).
Foto: Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (BAKOM) Muhammad Qodari dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian dalam konvensi pers di instansi Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, Rabu (5/8/2026). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)
Qodari juga mengatakan bahwa kebutuhan anggaran pembangunan jargas mencapai Rp 10 juta per sambungan rumah, nan bakal menyesuaikan hasil perencanaan teknis, kondisi lapangan, letak pembangunan, serta hasil pengadaan.
Menurut Qodari, pembangunan jargas rumah tangga ini dilakukan untuk menekan impor LPG, nan mencapai 72% dari kebutuhan di dalam negeri. Dia memaparkan konsumsi gas untuk kebutuhan rumah tangga mencapai 5 juta ton, sedangkan produksi LPG dalam negeri hanya 1,4 juta ton.
"Artinya nan bisa dipenuhi hanya sekitar 30% kurang lantaran itu sisanya di impor," katanya.
Adapun dengan jaringan gas ini menggunakan metana dan etana nan sumber dayanya banyak dimiliki. Berbanding jauh dengan kesiapan gas propana dan butana, nan menjadi bahan baku LPG.
"Metana dan etana ini jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan dengan LPG. Mungkin sekitar tiga perempat dari kesiapan gas di Indonesia adalah kategori gas bumi alias metana dan etana," tuturnya.
Lebih lanjut, Qodari juga memaparkan beberapa faedah nan dirasakan dengan penyaluran gas bumi langsung ke rumah tangga. Menurutnya, kebijakan itu lebih praktis dan masyarakat mendapatkan nilai nan lebih stabil, dan tidak menghadapi akibat kelangkaan di tingkat pengecer. Qodari juga menyatakan penggunaan jargas bisa menghemat pengeluaran rumah tangga.
"Dengan dugaan konsumsi tiga tabung LPG 3 kilogram per bulan serta nilai jargas sekitar Rp4.000 per meter kubik, rumah tangga diperkirakan dapat berhemat antara Rp50.000 sampai dengan Rp80.000 per bulan alias Rp600.000 hingga Rp900.000 per tahun sesuai tarif jargas dan nilai LPG di masing-masing daerah," katanya.
(miq/miq)
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·