Siti Khodijah (61) histeris. Tangisnya pecah saat menyadari paspornya lenyap saat berada di Bandara Jeddah, jelang kepulangan ke Indonesia usai melaksanakan ibadah haji, Rabu (3/6).
Padahal, penerbangan wanita nan kesehariannya bekerja sebagai pedagang kopi keliling di Pelabuhan Tanjung Priok itu, sudah tinggal beberapa jam lagi.
Nenek Ijah sempat syok lantaran mengira dirinya bakal tertahan dan tidak bisa kembali ke Tanah Air imbas paspor hilang.
"Tadinya nangis Emak. Katanya Emak enggak boleh pulang. Akhirnya Emak nangis," kata Nenek Ijah.
Melihat kepanikan janda nan ditinggal wafat suaminya sejak 2016 itu, petugas Daerah Kerja (Daker) Bandara langsung bergerak cepat. Langkah pertama ialah menenangkan Nenek Ijah.
Selanjutnya, petugas langsung mengurus manajemen darurat untuk menerbitkan arsip pengganti.
Sekretaris Daker Bandara, Aruji Maswatu, menegaskan penanganan arsip paspor lenyap langsung diprioritaskan sore itu juga. Petugas langsung membikin dan melayangkan surat permohonan ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah agar arsip darurat bisa segera diproses.
"Nah, ini penanganannya adalah kami di Daerah Kerja Bandara ini membikin permohonan ke KJRI. KJRI untuk diterbitkan nan kita sebut alias kita kenal dengan SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor). Nah, kelak SPLP telah terbit, kemudian bakal diambil," jelas Aruji Maswatu.
Demi memastikan Nenek Ijah tidak telantar dan tetap nyaman, petugas langsung memboyongnya ke akomodasi penginapan unik milik petugas Daker Bandara di Hotel Ashil. Di sana, Nenek Ijah diberikan tempat rehat nan layak sembari menunggu kepastian dokumennya selesai.
Seorang petugas airport berjulukan Wahidin Hasan langsung berinisiatif menghubungi pihak family Nenek Ijah di Indonesia. Langkah ini membikin Nenek Ijah jauh lebih tenang lantaran anak dan menantunya di rumah sudah mengetahui situasi dan kondisinya.
Aruji menambahkan, setelah arsip SPLP terbit, pihak otoritas haji bakal langsung menyisipkan nama Nenek Ijah ke agenda penerbangan paling cepat. Petugas memastikan jemaah tidak kudu menunggu kloter asal JKG berikutnya jika memang ada bangku kosong di penerbangan menuju Jakarta.
Setelah mendapat kejelasan nasibnya, Nenek Ijah berulang kali mengucapkan rasa syukur atas support petugas, baik nan mendampinginya sejak di Madinah, Makkah hingga di bandara.
"Ya Allah, terima kasih para petugas haji nan di Madinah, maupun nan Hotel. Petugas-petugasnya spesial semua, terima kasih. Emak hanya punya angan dan doa, mudah-mudahan mereka dipanjangkan sama Allah kesehatannya, umur nan panjang ya Allah. Diberikan ya Allah dia ketulusan hati nan tulus untuk menjalankan tugas-tugasnya," tutur Nenek Ijah.
Bagi Nenek Ijah, kesempatan beragama di Tanah Suci merupakan bingkisan ulang tahun terindah dari Allah SWT nan tidak pernah dia bayangkan sebelumnya, terutama lantaran hari ulang tahunnya nan ke-61 jatuh tepat saat dia sedang berada di Tanah Suci.
Kasus Kehilangan Paspor nan Sama
Menurut info Pelayanan Kedatangan dan Keberangkatan PPIH Arab Saudi Daerah Kerja (Daker) Bandara, ada dua jemaah nan kehilangan paspor pada hari nan sama. Satu Nenek Ijah, dan lainnya adalah Abas Suganda nan tergabung dalam kloter KJT 04 rombongan 7.
Kepala Daker (Kadaker) Bandara, Abdul Basir, memastikan bahwa penanganan kedua jemaah melangkah lancar tanpa ada nan terlantar lama.
"Abas Suganda tetap dapat terbang dengan kloternya. Sementara Siti Khodijah dimutasi ke kloter KJT-5 dan terbang hari ini juga," ungkapnya.
Staf Teknis Imigrasi KJRI Jeddah, Okky, menegaskan bahwa pihaknya memberikan atensi penuh terhadap kasus-kasus darurat seperti ini.
"KJRI berkomitmen menyelesaikan proses SPLP secepat mungkin demi pelayanan terbaik kepada jemaah haji. KJRI juga mendukung penuh PPIH Arab Saudi," tegas Okky.
Atas sinergi dan mobilitas sigap nan ditunjukkan oleh tim imigrasi, Kadaker Bandara pun menyampaikan apresiasi nan setinggi-tingginya. "Kami sangat berterima kasih atas kerja sigap tim KJRI Jeddah," pungkas Abdul Basir.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·