Jakarta, CNBC Indonesia - PT Freeport Indonesia (PTFI) memproyeksikan kontribusi tahunan ke negara bisa menembus nomor di atas Rp 100 triliun jika produksi tambang pulih 100%. Diperkirakan, operasional tambang mulai kembali normal 100% pada akhir 2027.
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas menjelaskan, pemulihan operasional tambang pasca kejadian longsor material basah pada September 2025 lampau itu tetap memerlukan waktu. Ia menegaskan bahwa peningkatan kapabilitas produksi dilakukan secara bertahap, nan mana pada akhir 2026 ditargetkan berada di level 65% dari kondisi normal.
"Tahun depan (setoran ke negara) tentu bakal lebih tinggi lagi lantaran tahun depan kita kan bisa mencapai Semester I (2027) itu 75% dan akhir tahun depan itu menuju ke 100%. Dan jika kita sudah 100% itu kontribusi kepada negara bisa luar biasa besar, lebih dari Rp 100 triliun, mungkin Rp 120 triliun setiap tahunnya," katanya di Tembagapura, Papua Tengah, dalam program Mining Zone CNBC Indonesia, dikutip Jumat (21/8/2026).
Proyeksi peningkatan setoran hingga Rp 120 triliun alias setara US$ 7 miliar per tahun tersebut setelah kapabilitas produksi penuh dihitung berasas dugaan nilai komoditas tembaga dan emas nan stabil di pasar global.
Selain setoran langsung ke pemerintah pusat, kontribusi tersebut mencakup biaya bagi hasil untuk pemerintah wilayah di wilayah Provinsi Papua Tengah.
"Di tahun 2028 itu kita dari forecast nan ada sekarang dengan nilai mineral nan patokan kita tuh nilai tembaga US$ 6 per pound, nilai emas US$ 4.500 per ounce. Dengan patokan nilai seperti itu, kita bisa berkontribusi kepada negara lebih dari US$ 7 miliar," ujarnya.
Meskipun produksi belum optimal, perusahaan tetap memproyeksikan kontribusi ke kas negara pada 2026 berada pada kisaran Rp 47 triliun melalui setoran pajak, dividen, serta royalti.
"Tahun ini kita dalam mode recovery jadi memang produksi hanya sekitar 65% dan tapi meskipun demikian kita tetap bakal berkontribusi kepada negara kira-kira Rp 47 triliun menurut proyeksi nan kita rencanakan di tahun ini," ungkapnya.
Dalam mencapai sasaran operasional penuh tersebut, pihaknya terus mempercepat pengeluaran material lumpur basah nan saat ini progresnya sudah mencapai 84%. Perusahaan juga melakukan modifikasi teknis pada sejumlah peralatan tambang agar lebih andal dalam mendukung proses peningkatan produksi ke depan.
"Fokus kita bukan hanya tahun ini, tapi adalah long term-nya apalagi jika kita diperpanjang, sudah resmi diperpanjang melampaui tahun 2041," tandasnya.
(wia)
[Gambas:Video CNBC]
44 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·