Tambak Udang dan Laut yang Mulai Lelah

Sedang Trending 4 jam yang lalu
Ilustrasi udang air tawar. Foto: Shutterstock

Di banyak pesisir, laut tetap sering diperlakukan seperti ruang raksasa nan tak pernah penuh. Ia dianggap bisa menerima apa saja: sisa pakan, lumpur organik, air buangan tambak, hingga ambisi produksi nan terus meningkat dari tahun ke tahun. Laut dipahami sebagai sistem nan selalu tersedia untuk menopang pertumbuhan ekonomi.

Namun perlahan, laut mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan.

Air tambak semakin susah stabil. Ledakan plankton lebih mudah terjadi, lampau mendadak meninggal massal. Dasar kolam sigap menghitam oleh sludge. Oksigen terlarut turun drastis menjelang awal hari. Penyakit udang datang semakin sigap dengan pola nan susah ditebak. Di banyak area budidaya intensif, kondisi seperti ini bukan lagi kejadian sesekali; dia mulai menjadi bagian dari rutinitas produksi.

Ironisnya, semua itu terjadi justru ketika teknologi budidaya semakin maju.

Kincir bertambah banyak. Sensor kualitas air semakin modern. Pakan semakin presisi. Namun, stabilitas lingkungan justru semakin rapuh. Situasi ini memunculkan pertanyaan penting: Apakah persoalan utama tambak udang hari ini betul-betul soal teknologi, alias justru tentang langkah manusia memperlakukan lingkungan pesisir?

Selama dua dasawarsa terakhir, industri tambak udang berkembang sangat agresif. Udang Vaname menjadi primadona ekspor lantaran permintaan pasar dunia terus meningkat. Kawasan pesisir berubah menjadi sentra produksi baru. Padat tebar dinaikkan, siklus dipercepat, produktivitas dikejar setinggi mungkin.

Di atas kertas, pertumbuhan itu terlihat mengesankan.

Namun di kembali nomor produksi, ada biaya ekologis nan perlahan mulai muncul ke permukaan.

Ilustrasi udang air tawar. Foto: Shutterstock

Menurut Claude E. Boyd dan Craig S. Tucker (2012), budidaya intensif menghasilkan beban nutrien tinggi berupa nitrogen, fosfor, dan bahan organik dari sisa pakan serta metabolisme udang. Ketika limbah tersebut terus terakumulasi tanpa pengelolaan nan memadai, kualitas lingkungan perairan bakal mengalami penurunan secara bertahap.

Masalahnya, penurunan kualitas lingkungan sering kali tidak langsung terlihat. Ia datang perlahan, nyaris diam-diam.

Awalnya hanya air nan mulai susah dikontrol. Kemudian, kebutuhan aerasi meningkat. Setelah itu, penggunaan treatment bertambah. Lalu penyakit mulai muncul lebih sering. Produksi mungkin tetap bisa dipertahankan, tetapi biaya untuk menjaga stabilitas tambak terus membengkak.

Dalam banyak kasus, tambak akhirnya masuk ke lingkaran nan melelahkan: semakin tinggi intensitas produksi, semakin besar pula daya dan biaya nan dibutuhkan untuk menjaga lingkungan tetap 'hidup'.

Padahal, lingkungan pesisir sejatinya mempunyai pemisah daya dukung.

Penelitian Fernando Páez-Osuna (2001) menunjukkan bahwa limbah tambak udang mengandung bahan organik dan nutrien dalam konsentrasi tinggi, nan dapat mengubah struktur ekosistem pesisir. Akumulasi limbah tersebut memicu eutrofikasi, ialah ledakan nutrien nan menyebabkan pertumbuhan alga berlebihan dan berujung pada penurunan oksigen terlarut di perairan.

Bagi udang, kondisi seperti itu sangat berbahaya.

Udang adalah organisme nan sensitif terhadap perubahan lingkungan. Ketika kualitas air tidak stabil, stres fisiologis meningkat dan daya tahan tubuh menurun. Dalam situasi inilah penyakit menjadi lebih mudah berkembang.

Menurut Donald V. Lightner (2011), buruknya kualitas lingkungan merupakan salah satu aspek utama nan meningkatkan akibat penyakit pada budidaya udang. Artinya, pandemi penyakit bukan sekadar persoalan patogen, melainkan juga gambaran dari ekosistem nan mulai kehilangan keseimbangannya.

Di sinilah rumor ekonomi biru menjadi sangat relevan.

Ilustrasi laut. Foto: pablobueno/Shutterstock

Ekonomi biru bukan sekadar semboyan pembangunan kelautan. Ia lahir dari kesadaran bahwa laut bukan sumber daya tanpa batas. Produksi ekonomi kudu melangkah berbareng keahlian alam untuk pulih. Dalam konteks budidaya udang, ekonomi biru berfaedah gimana tambak tidak hanya mengejar tonase panen, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir tempat produksi itu berlangsung.

Sayangnya, dalam praktiknya, banyak sistem budidaya tetap melangkah dengan pola lama: ambil, gunakan, lampau buang.

Air laut dipompa masuk, dipakai secara intensif, kemudian dibuang kembali berbareng residu organik dan nutrien dalam jumlah besar. Siklus ini terus berulang tanpa sistem pemulihan lingkungan nan memadai.

Padahal menurut Max Troell dkk. (2014), model akuakultur nan tidak memperhatikan pengelolaan limbah bakal meningkatkan tekanan terhadap ekosistem pesisir dan mengurangi keberlanjutan produksi jangka panjang.

Masalah terbesar tambak modern sebenarnya bukan semata pada tingginya produksi, melainkan juga pada langkah produksi nan tetap royal dan linear.

Karena itu, manajemen budidaya di era sekarang tidak lagi cukup hanya konsentrasi pada: sasaran tonase, FCR, survival rate, alias kecepatan pertumbuhan.

Manajemen tambak kudu mulai memandang lingkungan sebagai bagian inti dari sistem produksi.

Ilustrasi udang. Foto: Dokumentasi pribadi

Air bukan lagi sekadar media budidaya, melainkan juga aset utama nan menentukan keberlanjutan usaha.

Pendekatan inilah nan mulai banyak diterapkan dalam konsep budidaya berkelanjutan. Salah satunya melalui sistem Recirculating Aquaculture System (RAS), ialah penggunaan air secara berulang dengan proses filtrasi dan pengolahan internal. Menurut Mikel Badiola dkk. (2012), sistem ini bisa mengurangi kebutuhan pergantian air dan menekan pelepasan limbah ke lingkungan.

Selain itu, digitalisasi tambak juga mulai mengubah pola pengelolaan budidaya. Teknologi berbasis Internet of Things memungkinkan monitoring kualitas air secara real-time, sehingga perubahan lingkungan dapat dideteksi lebih cepat.

Penelitian Di Li dkk. (2020) menunjukkan bahwa penerapan IoT membantu meningkatkan kecermatan pengambilan keputusan dan mengurangi akibat kegagalan produksi akibat keterlambatan respons terhadap perubahan kualitas air.

Suasana tambak udang di Kebumen, Jawa Tengah, Jumat (13/1). Foto: Dok: Kementerian Kelautan dan Perikanan

Namun, teknologi saja tidak cukup.

Ada satu aspek nan sering diabaikan dalam pembicaraan tentang ekonomi biru: manusia.

Banyak tambak sebenarnya mempunyai akomodasi nan cukup baik, tetapi kandas membangun budaya operasional nan disiplin terhadap lingkungan. Pengelolaan sludge sering ditunda. Monitoring kualitas air tidak konsisten. Penggunaan pakan tidak terkontrol. Keputusan operasional terlalu konsentrasi pada hasil jangka pendek.

Padahal, keberlanjutan tambak sangat berjuntai pada kualitas sumber daya manusianya.

Food and Agriculture Organization (FAO, 2020) menegaskan bahwa transformasi akuakultur berkepanjangan memerlukan peningkatan kapabilitas SDM, terutama dalam memahami ekologi budidaya, pengelolaan limbah, dan penggunaan teknologi berbasis lingkungan.

Foto udara di tambak budidaya udang berbasis area (BUBK) milik Kementerian Kelautan dan Perikanan di Kebumen, Jawa Tengah. Foto: Dok. KKP

Artinya, ekonomi biru bukan hanya soal teknologi ramah lingkungan, melainkan juga soal perubahan pola pikir.

Laut tidak bisa terus diperlakukan sebagai tempat pembuangan nan tak terbatas. Jika lingkungan pesisir rusak, tambak pada akhirnya juga bakal kehilangan fondasi produksinya sendiri.

Dan di tengah meningkatnya tuntutan pasar dunia terhadap produk nan berkelanjutan, rumor lingkungan bukan lagi sekadar persoalan moral alias aktivisme. Ia telah berubah menjadi persoalan ekonomi dan daya saing industri.

Karena pada akhirnya, masa depan tambak udang tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar produksi nan bisa dihasilkan, tetapi juga oleh seberapa lama lingkungan pesisir tetap bisa menopang produksi itu sendiri.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan