Sulit mengatakan “tidak” kepada orang lain, pernahkah berada di posisi ini? Mengapa perihal ini bisa terjadi? Kadang, kita takut jika seseorang bakal berakhir menyukai kita alias berpikir jelek tentang kita, sehingga tidak berani melakukan penolakan termasuk berbicara tidak pada orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering kali dihadapkan pada beragam tawaran dan pilihan seperti diajak nongkrong di akhir pekan dan alias diminta tolong untuk mengerjakan sesuatu sementara di sisi lain ada deadline tugas nan sudah menanti dan kudu segera diselesaikan. Lalu gimana responsnya, apakah Anda jenis nan selalu mempertimbangkan sesuatu terlebih dulu dengan matang alias Anda jenis nan enggan menolak dan enggan mengatakan tidak ketika berada di posisi itu. Kadang muncul pertanyaan: apakah kita melakukan dan menerima tawaran itu lantaran betul-betul mau melakukannya alias hanya lantaran merasa takut mengecewakan orang lain jika kita menolaknya?
Pada budaya kita, tertanam konsep “tidak enakan” nan mandarah daging. Seringkali muncul rasa bersalah hanya lantaran menolak rayuan orang lain, muncul ketakutan bakal label tidak sopan, egois, dianggap buruk, takut dijauhi dan lain sebagainya. Padahal berbicara “tidak” pada orang lain merupakan salah satu kewenangan kita dalam upaya untuk menjaga diri.
Salah seorang Psikolog dari Career and Student Development Unit (CSDU) FEB UGM, Anisa Yuliandri, S.Psi., M.Psi,. Psikolog, menjelaskan bahwa seseorang nan condong untuk selalu menyenangkan dan susah mengatakan tidak pada orang lain sering dikenal dengan istilah people pleaser. Fenomena ini seringkali terjadi di masyarakat lantaran perseorangan mau tetap menjaga relasi, mau memperoleh pengakuan alias menghindari bentrok sosial. Individu juga kadang susah mengatakan tidak lantaran takut dianggap tidak bertanggung jawab, dicap negatif, alias takut dianggap egois. Di kembali munculnya sikap ini, ada dorongan mendalam dalam diri perseorangan untuk dicintai dan diterima.
Dalam teori jenjang kebutuhan Abraham Maslow, setelah kebutuhan dasar terpenuhi, manusia bakal berupaya memenuhi kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial dan kebutuhan kasih sayang. Pada konteks ini, kebiasan enggan berbicara tidak pada orang lain merupakan salah satu upaya perseorangan untuk memenuhi kebutuhan rasa kondusif dari masalah bentrok dan menjaga stabilitas lingkungan agar tidak terjadi bentrok dengan lingkungan. Pada kebutuhan kasih sayang, kebiasaan ini menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan psikologis perseorangan untuk berinteraksi sosial dan diterima oleh orang lain.
Sebagai makhluk sosial seseorang mau selalu merasa dicintai dan dihargai orang lain. Banyak orang tetap tersenyum meskipun sebenarnya hatinya tidak setuju, tetap menerima tugas tambahan meskipun sebenarnya kewalahan apalagi mengorbankan waktu istirahatnya hanya lantaran mau menyenangkan orang lain. Kebaikan seperti ini tidak selalu buruk, namun, kecenderungan untuk selalu mengiyakan semua permintaan orang lain bukanlah sesuatu nan baik, lantaran kebiasaan ini bisa merugikan diri sendiri, menguras energi, tenaga, emosi, waktu, nilai diri apalagi bisa berakibat pada kesehatan mental kita sendiri.
Kelelahan emosional dan kesehatan mental nan kurang baik menjadi salah satu tanda awal ketika kita terlalu banyak mengiyakan permintaan orang lain. Rasa marah nan terpendam dan tidak bisa diungkapkan, emosi kecewa lantaran merasa dimanfaatkan, kebiasaan tetap tak bersuara lantaran takut hubungan hancur, jika dibiarkan begitu saja bakal berakibat jelek pada psikologis kita sendiri. Pada akhirnya, kita tidak bisa mengenal diri kita sendiri dan tidak bisa mengetahui apa nan sebenarnya kita inginkan lantaran terlalu sibuk memenuhi kemauan orang lain. Selain itu, dalam jangka panjang kebiasaan ini bisa menyebabkan kelelahan emosional, menurunkan kesejahteraan psikologis, meningkatkan akibat stres, munculnya kekhawatiran dan gangguan kesehatan mental serta hubungan sosial nan jelek lantaran hubungan sosial nan semestinya penuh support namun berubah menjadi tekanan nan tentu bakal merugikan diri kita sendiri.
Perilaku people pleaser memiliki hubungan nan signifikan dengan self-boundaries (batasan diri) yang rendah, lantaran perseorangan tidak mempunyai batas diri nan jelas, condong merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain dan susah menolak permintaan orang lain meskipun permintaan tersebut melampaui kapabilitas nan dimiliki.
Konteks sosial budaya nan tertanam dalam masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia nan menjunjung tinggi keharmonisan, menghindari konflik, menghargai orang lain juga memperkuat kecenderungan perseorangan untuk selalu mementingkan kepentingan orang lain dibanding kepentingan sendiri, sehingga menjadi orang nan tidak enakan alias sungkan dianggap sebagai sesuatu nan wajar dan apalagi diharapkan dalam sebuah pola hubungan sosial di masyarakat Indonesia. Munculnya rasa enggan untuk berbicara tidak pada orang lain juga bisa tumbuh dari pola asuh dengan cinta bersyarat, misalnya dipuji ketika berperilaku baik dan kehilangan kasih sayang ketika anak melakukan penolakan. Sikap ini juga bisa muncul jika perseorangan sejak mini tidak pernah diberi kesempatan untuk menentukan pilihannya sendiri alias penerimaan balasan ketika perseorangan menolak sesuatu, perihal ini nan menjadikan kita bakal selalu merasa takut untuk melakukan penolakan.
Kebiasaan enggan berbicara tidak pada setiap permintaan orang lain kudu mulai kita kurangi. Berani mengatakan tidak pada orang lain bukan berfaedah kita berakhir menjadi orang baik. Justru ini adalah salah satu langkah agar menjadi orang baik dengan tetap mempunyai batas diri dan sehat emosional nan peduli pada orang lain tanpa kudu mengorbankan diri sendiri.
Pada akhirnya, menjadi orang baik tidak kudu mengabaikan diri kita sendiri. Kita tetap bisa menjadi baik, ramah, peduli, sopan, menghormati orang lain, tanpa kudu mengorbankan diri sendiri dan kehilangan identitas diri. Kemampuan menghargai diri sendiri, menjaga emosi untuk tetap stabil dan menerapkan batas nan sehat juga tetap tetap dilakukan untuk menjaga relasi dengan orang lain dan lingkungan. Kita juga bisa menerapkan komunikasi interpersonal nan baik dengan mengkomunikasikan apa nan kita inginkan, rasakan, dan pikirkan kepada orang lain serta berbicara tidak kepada orang lain, namun dengan tetap menghargai dan menjaga kewenangan serta emosi orang lain.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·