Tak Hanya Jakpus, Operasi Tangkap Sapu-sapu Diperluas ke Seluruh Wilayah Jakarta

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Aktivitas penangkapan ikan sapu-sapu oleh PPSU Gondangdia dan sejumlah petugas campuran di depan aliran sungai depan mal di area Bundaran HI, Jakarta Pusat, Jumat (10/4/2026). Foto: Dok. PPSU Gondangdia

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan operasi penangkapan ikan sapu-sapu bakal diperluas ke seluruh wilayah Jakarta, tidak hanya terfokus di Jakarta Pusat.

Langkah ini dilakukan menyusul temuan tetap adanya sisa populasi ikan tersebut di sejumlah titik, termasuk di depan mal di area Bundaran HI nan telah dilaksanakan penangkapan.

Pramono mengatakan, operasi nan telah dilakukan sebelumnya memang belum bisa menuntaskan seluruh populasi ikan sapu-sapu dalam waktu singkat. Namun, dia menilai upaya tersebut sudah memberikan akibat positif.

"Jadi kemarin memang sudah cukup banyak, tapi nggak mungkin langsung bisa selesai. Tetapi ini menurut saya merupakan sesuatu nan berfaedah dan memberikan kontribusi positif,” ujar Pramono di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Minggu (22/4).

Aktivitas penangkapan ikan sapu-sapu oleh PPSU Gondangdia dan sejumlah petugas campuran di depan aliran sungai depan mal di area Bundaran HI, Jakarta Pusat, Jumat (10/4/2026). Foto: Dok. PPSU Gondangdia

Ia menjelaskan, keberadaan ikan sapu-sapu menjadi ancaman serius bagi ekosistem perairan. Selain merusak tanggul lingkungan, ikan tersebut juga berkarakter predator nan menghabiskan sumber makanan bagi ikan lokal.

"Memang ikan sapu-sapu ini merusak terutama tanggul lingkungan dan juga menjadi predator lantaran semua makanan bagi ikan nan lain dihabisin,” tutur Pramono.

“Sehingga wader dan ikan-ikan lain nan merupakan ikan lokal itu jika tidak dilakukan segera penangkapan dan juga mengurangi jumlah ikan sapu-sapu ini pasti ini bakal berpengaruh pada kita,” sambung dia.

Karena itu, Pemprov DKI bakal memperluas operasi penangkapan ke wilayah lain nan mempunyai populasi ikan sapu-sapu tinggi.

"Maka saya bakal meminta tidak hanya di Jakarta Pusat, di semua wilayah nan ikan sapu-sapunya banyak untuk kita adakan operasi. Jadi kita mulai apa nan di PI (Plaza Indonesia) kemarin sebagai awal,” katanya.

Kata Ahli Ikan IPB

Ahli Ikan dan Konservasi Ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Charles P. H. Simanjuntak, Ph.D., mengatakan ikan sapu-sapu alias dikenal juga dengan nama umum Amazon sailfin catfish (Pterygoplichthys pardalis), adalah ikan asing introduksi nan bisa berkembang dengan sangat pesat.

"Ikan sapu-sapu termasuk “a breeding machine” lantaran mempunyai fekunditas (jumlah telur) nan sangat tinggi, bisa mencapai 19,000 telur per satu ekor ikan betina; mereka bisa bereproduksi beberapa kali dalam satu tahun; satu ekor ikan jantan dapat membuahi dua ekor ikan betina; ikan jantan menjaga telur (parental care) di dalam liang nan mereka gali sampai menetas sehingga sintasan bisa mencapai lebih dari 90%; bisa bereproduksi pada ukuran nan tetap mini (23,9–28,99 cm untuk jantan; dan 13,0–25,98 cm untuk betina), sehingga mempercepat siklus infasi," jelas Charles dalam keterangan tertulisnya.

Ikan sapu-sapu termasuk ikan omnivora alias pemakan segala dan mempunyai kelenturan (plasticity) dalam memanfaatkan beragam jenis makanan nan ada di perairan.

Menurutnya tidak ada predator alami nan mengendalikan populasi ikan sapu-sapu di sungai-sungai di Jakarta, termasuk di Sungai Ciliwung. Di kediaman asalnya, di Sungai Amazon, Amerika Selatan, predator alami ikan sapu-sapu adalah ikan Common Snook (Centropomus undecimalis), ikan Tarpon (Megalops atlanticus), buaya Spectacled Caiman (Caiman crocodilus), dan burung Neotropic Cormorant (Phalacrocorax brasilianus).

"Tidak adanya predator spesifik dan efektif di ekosistem non-asli, seperti Sungai Ciliwung di Jakarta, adalah argumen utama kenapa ikan sapu-sapu menjadi jenis asing invasif nan begitu sukses dan susah untuk dikendalikan," jelasnya.

Ahli Ikan dan Konservasi Ikan dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB Charles P. H. Simanjuntak, Ph.D. Foto: Dok. Pribadi

Mampu Hidup di Lingkungan Tercemar

Ikan ini juga bisa hidup di lingkungan tercemar nan berpotensi mengandung logam berat berbahaya, terutama timbal.

Ia menambahkan bahwa ikan sapu-sapu telah terbukti mengakumulasi logam berat ini di dalam daging nan secara langsung berkorelasi dengan tingginya tingkat pencemaran di sungai.

Alih-alih meninggal keracunan, ikan invasif ini justru menyerap racun-racun tersebut ke dalam jaringan tubuhnya. Bahaya laten inilah nan bakal beranjak ke tubuh manusia jika ikan tersebut dijadikan lauk-pauk.

Menurut Charles, akumulasi logam berat pada ikan sapu-sapu dapat menimbulkan akibat langsung bagi kesehatan manusia jika dikonsumsi terus-menerus.

"Logam-logam ini dapat menyebabkan masalah kesehatan nan serius, termasuk kerusakan neurologis, disfungsi ginjal, dan peningkatan akibat kanker, khususnya pada anak-anak dan ibu hamil," kata dia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan