Ilustrasi hubungan kerja sama: The 2nd Indonesia-Taiwan Industrial Collaboration Forum (ITICF).(dok. TETO)
INDONESIA berkesempatan memperluas kerjasama di bagian kesehatan digital dengan Taiwan, terutama dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI), telemedisin, dan perangkat kesehatan pandai untuk meningkatkan akses serta penemuan awal penyakit.
Peluang itu mengemuka melalui kejuaraan internasional Go Healthy with Taiwan 2026 nan menerima 832 proposal dari 62 negara. Jumlah tersebut meningkat sekitar 30% dibandingkan tahun lampau nan mencatat 638 proposal dari 55 negara. Sebanyak 20 semifinalis dari 16 negara terpilih dalam kategori Smart Healthcare serta Sport Tech & Cycling.
Kolaborasi tersebut disebut relevan bagi Indonesia nan menghadapi tantangan geografis dan kesenjangan akses pelayanan kesehatan antardaerah. Teknologi digital berpotensi membantu pemantauan kondisi pasien, mendukung diagnosis, serta menjangkau masyarakat di wilayah nan terbatas akomodasi kesehatannya.
Namun, penerapannya memerlukan sistem nan bisa berganti data, perlindungan privasi pasien, serta pengetesan untuk memastikan keamanan dan faedah klinis teknologi.
Direktur Taiwan Trade Center (TAITRA), Amy Hsiao, mengatakan kejuaraan tersebut dirancang untuk mempertemukan keahlian teknologi Taiwan dengan pendapat inovatif dari beragam negara guna menjawab persoalan kesehatan.
“Melalui Go Healthy with Taiwan, kami mau mempertemukan kekuatan teknologi Taiwan dengan ide-ide inovatif dari beragam negara untuk menjawab tantangan kesehatan nan nyata. Kami percaya bahwa kerjasama lintas negara dapat mempercepat lahirnya solusi nan lebih praktis, mudah diakses, dan berfaedah bagi masyarakat,” kata Amy dalam siaran pers nan disampaikan Kantor Dagang dan Ekonomi Taipei (TETO) di Jakarta, Kamis (15/10).
Dari 20 semifinalis nan terpilih, sekitar 70% telah memasarkan produknya. Sebanyak 45 persen peserta juga berasal dari perusahaan mini dan menengah. Inovasi nan dikembangkan meliputi perangkat skrining berbasis AI, pemantauan tanda vital, support diagnosis, hingga teknologi nan membantu lansia mempertahankan kemandirian.
Integrasi Data Kesehatan
Pengembangan teknologi kesehatan Taiwan disebut ditopang sistem asuransi kesehatan nasional alias National Health Insurance (NHI), nan beraksi sejak 1995 dan mencakup sekitar 99,9% penduduknya.
Taiwan juga mengembangkan NHI MediCloud, sistem nan memungkinkan tenaga kesehatan mengakses info medis pasien dari beragam fasilitas. Informasi tersebut meliputi riwayat penggunaan obat, pemeriksaan, hasil laboratorium, pencitraan medis, alergi, tindakan medis, dan vaksinasi.
"Pada 2024, penggunaan MediCloud telah menjangkau seluruh rumah sakit dan 98% klinik di Taiwan, dengan rata-rata sekitar 1,23 juta pencarian setiap hari. Integrasi tersebut membantu tenaga kesehatan memperoleh gambaran nan lebih komplit mengenai riwayat pelayanan pasien," kata keterangan dalam siaran pers.
Integrasi info itu membantu tenaga kesehatan memperoleh info lebih komplit mengenai riwayat pelayanan pasien. Data kesehatan juga dimanfaatkan untuk mengembangkan model AI nan membantu memperkirakan akibat penyakit kronis, termasuk glukosuria dan penyakit kardiovaskular.
Pendekatan tersebut membuka kesempatan untuk memperkuat pencegahan dan penemuan dini, bukan hanya mengandalkan penanganan setelah pasien jatuh sakit.
Ekosistem teknologi Taiwan turut ditopang industri elektronik, semikonduktor, teknologi info dan komunikasi, serta perangkat medis. Berdasarkan info pemerintah Taiwan nan dikutip dalam kajian mengenai ekosistem kesehatan digital, nilai upaya industri biomedis negara itu mencapai sekitar NT$830,1 miliar pada 2025.
Solusi Keterbatasan Fasilitas Kesehatan
Sejumlah semifinalis Go Healthy with Taiwan 2026 mengembangkan teknologi untuk menjawab persoalan kesehatan nan spesifik.
Horus ML dari Spanyol mengembangkan AI untuk skrining akibat penyakit jantung. Masima dari Brasil menggunakan AI untuk menganalisis gambaran CT dan MRI otak, sedangkan Neodocs dari India mengembangkan teknologi berbasis telepon pandai untuk membaca strip tes urine dalam waktu sekitar 30 detik.
Cardiac Centre Ethiopia mengembangkan sistem pendukung keputusan klinis nan dapat beraksi tanpa hubungan internet. Sementara itu, PragmaClin dari Kanada memanfaatkan kamera tiga dimensi dan AI untuk membantu menilai indikasi Parkinson di wilayah pedesaan.
Inovasi lainnya mencakup rekomendasi aktivitas fisik, penemuan ketika penderita demensia melangkah tanpa arah, serta perangkat untuk membantu lansia menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Berbagai contoh tersebut menunjukkan bahwa penerapan teknologi kesehatan perlu mempertimbangkan kondisi lapangan, kemudahan penggunaan, dan kebutuhan pasien. Ketersediaan teknologi saja tidak cukup jika masyarakat sasaran tidak dapat mengakses alias menggunakannya.
Bagi Indonesia, kesempatan kerjasama dengan Taiwan dapat diarahkan pada pengembangan dan pengetesan solusi nan sesuai dengan kebutuhan jasa kesehatan dalam negeri. Penerapannya perlu disertai interoperabilitas sistem, tata kelola info nan jelas, perlindungan privasi, serta pertimbangan keamanan dan efektivitas klinis.
Tanpa fondasi tersebut, perkembangan AI berisiko lebih banyak dinikmati masyarakat nan telah mempunyai akses terhadap akomodasi kesehatan dan teknologi memadai.
Go Healthy with Taiwan 2026 diselenggarakan oleh Taiwan Economic Ministry’s International Trade Administration (TITA) dan dilaksanakan oleh Taiwan External Trade Development Council (TAITRA). Kompetisi ini menerima 832 proposal dari 62 negara dan memilih 20 semifinalis dari 16 negara dalam kategori Smart Healthcare serta Sport Tech & Cycling. (B-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·