Haedar Nashir(Dok Muhammadiyah)
KETUA Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir membujuk umat Islam menjadikan Tahun Baru 1 Muharram 1448 Hijriah sebagai momentum hijrah menuju kemandirian di beragam bagian kehidupan. Menurutnya, prinsip hijrah bukan sekadar seremoni seremonial, melainkan perubahan nyata menuju kondisi nan lebih baik bagi umat secara perseorangan maupun kolektif.
Haedar menjelaskan, spirit hijrah nan dicontohkan Rasulullah SAW mengandung makna transformasi dari kondisi keterbelakangan menuju kemajuan nan membawa kemaslahatan luas. Ia menegaskan bahwa hijrah kudu diwujudkan dalam corak kesungguhan berjuang membangun kekuatan umat agar bisa menghadapi beragam tantangan zaman.
“Hijrah mengandung makna perubahan dari keadaan umat Islam nan tertinggal pada kemajuan nan lebih baik dan berakibat luas. Di situlah makna kemandirian sebagai bagian dari spirit hijrah dan kandungan aliran Islam untuk pemeluknya,” terang dia pada Senin (15/6).
Haedar menilai, kemandirian merupakan syarat krusial bagi umat Islam untuk dapat memberi faedah nan lebih besar kepada sesama. Ia mengutip pepatah Arab faaqidu asy-syai la yu’thi nan berfaedah seseorang nan tidak mempunyai sesuatu tidak bakal bisa memberi sesuatu. Karena itu, umat Islam perlu memperkuat keahlian dan sumber daya agar tidak berjuntai kepada pihak lain.
Menurutnya, tantangan besar nan tetap dihadapi umat Islam Indonesia adalah lemahnya kemandirian di bagian ekonomi dan politik kebangsaan. Padahal, sebagai golongan mayoritas, umat Islam mempunyai potensi besar untuk membangun kekuatan kolektif nan berkekuatan saing dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
“Kemandirian, otonomi, independensi, dan kata lain nan sejenis merupakan kesanggupan untuk berdiri sendiri dengan keberanian dan tanggung jawab dalam melaksanakan tanggungjawab guna memenuhi kebutuhan sendiri,” jelasnya.
Haedar menekankan, pembangunan kemandirian kudu melangkah beriringan dengan penguatan keimanan, ibadah, dan adab mulia. Keberagamaan nan kuat, menurutnya, kudu melahirkan kesalehan transformatif nan menghadirkan nilai-nilai kejujuran, keadilan, kedamaian, dan kemaslahatan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Lebih lanjut, dia membujuk umat Islam untuk tidak ragu terlibat dalam pengembangan sektor ekonomi, bisnis, dan kewirausahaan. Selain memberdayakan upaya mikro, kecil, dan menengah, umat Islam juga perlu mulai menggarap sektor-sektor strategis seperti industri, perkebunan, pertambangan, dan teknologi info secara profesional, amanah, dan bertanggung jawab.
“Umat Islam mesti berbisnis nan halalan thayyiban didukung profesionalitas nan tinggi. Bisnis mikro, kecil, dan menengah kudu terus diberdayakan secara masif. Selain itu, upaya pelaksana dan strategis dari level menengah sampai tinggi kudu mulai digarap oleh umat Islam secara amanah dan profesional,” tegasnya.
Haedar juga mengingatkan bahwa organisasi keagamaan tidak hanya bekerja memperkuat aspek keagamaan dan ibadah, tetapi juga mempunyai tanggung jawab untuk membangun kehidupan sosial, ekonomi, dan kebudayaan sebagai bentuk peran manusia sebagai khalifat fil ardh.
Mengutip pandangan sufi besar Jalaluddin Rumi, Haedar menegaskan pentingnya keterlibatan orang-orang saleh dalam urusan dunia. “Jika orang-orang saleh pasif di dunia, jangan salahkan manakala orang-orang kejam berkuasa,” kutipnya.
Di akhir Haedar berambisi Tahun Baru Hijriah 1448 menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperkuat kemandirian sekaligus memperluas kerjasama dalam menebar kemaslahatan. Kemandirian, menurutnya, tidak berfaedah hidup eksklusif, tetapi tetap membuka ruang kerja sama dan gotong royong dengan beragam pihak dalam membangun kehidupan nan lebih baik.
“Melalui momentum hijrah di tahun baru Hijriah, umat Islam semakin menemukan kekuatan kemandirian dalam beragam aspek kehidupan menuju kualitas sebagai khaira ummah alias umat terbaik sebagaimana diidealisasikan dalam Al-Qur’an,” tutup dia. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·