Survei IPO: Prabowo Masih Puncaki Elektabilitas Capres dengan 23,4 Persen

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan keterangan pers berbareng PM Thailand Anutin Charnvirakul usai pertemuan bilateral di Istana Merdeka, Jakarta, Indonesia, Senin (3/8/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Lembaga Survei Indonesia Political Opinion (IPO) merilis hasil survei terbaru mengenai elektabilitas tokoh politik. Survei menunjukkan Presiden Prabowo Subianto tetap menjadi tokoh dengan elektabilitas tertinggi andaikan pemilihan presiden digelar saat ini. Prabowo memperoleh support sebesar 23,4 persen.

Prabowo unggul atas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi nan memperoleh elektabilitas 21,7 persen. Selisih keduanya hanya 1,7 persen.

Di posisi berikutnya terdapat Anies Baswedan dengan 11,5 persen. Kemudian Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 4,5 persen, Ganjar Pranowo 4,1 persen, dan Gibran Rakabuming Raka 3,9 persen.

Sementara itu, sejumlah tokoh lainnya memperoleh elektabilitas di bawah 3 persen. Di antaranya Sherly Tjoanda 2,1 persen, Mahfud MD 1,7 persen, Purbaya Yudhi Sadewa 1,5 persen, Muhaimin Iskandar 1,2 persen, dan Zulkifli Hasan 1 persen.

Survei tersebut juga mencatat 17 persen responden belum menentukan pilihan alias memilih merahasiakan jawabannya.

Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah mengatakan hasil tersebut diperoleh melalui simulasi top of mind. Dalam simulasi itu, responden tidak diberikan daftar nama dan bebas menyebut tokoh nan pertama kali terlintas dalam pikirannya.

“Dalam simulasi terbuka, di mana responden bebas menjawab tanpa intervensi, nama Presiden Prabowo Subianto tetap berada di posisi teratas, meskipun memang tidak signifikan meninggalkan nama-nama nan lain,” kata Dedi.

Menurut Dedi, posisi Prabowo sebagai kepala negara tetap memberikan pengaruh terhadap tingkat keteringatan masyarakat. Namun, kemunculan Dedi Mulyadi dengan selisih elektabilitas nan tipis menunjukkan adanya figur lain nan mulai mendapat perhatian publik.

Dia juga menilai 17 persen responden nan belum menentukan pilihan menunjukkan persaingan menuju Pilpres tetap dinamis. Kelompok tersebut dinilai berpotensi mengubah konfigurasi elektoral andaikan terjadi perubahan persepsi publik terhadap para tokoh.

“Ingatan publik semacam ini perlu dijaga, tentu dengan kebijakan nan dekat dengan kebutuhan publik, jika semua program Presiden diterima dan mendapat penilaian baik, bakal menjadi lebih bagi Presiden Prabowo untuk kembali memenangi kontestasi di periode keduanya,” ujar Dedi.

Dedi Kurnia Syah Direktur Eksekutif IPO. Foto: Dok. Pribadi

Metode Survei

Survei nasional IPO dilakukan pada 27 Juli hingga 3 Agustus 2026 terhadap 1.200 responden. Survei mempunyai tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin of error sekitar ±2,9 persen.

Sampel dipilih menggunakan metode multistage random sampling. Responden merupakan masyarakat berumur minimal 17 tahun alias sudah menikah dengan komposisi 50 persen laki-laki dan 50 persen perempuan.

Pemilihan sampel dilakukan secara bertingkat mulai dari kelurahan alias desa, kemudian lima RT dipilih secara random pada setiap kelurahan alias desa terpilih. Dari setiap RT dipilih dua family alias rumah tangga, lampau satu responden dari setiap family dipilih menggunakan lembar random (random sheet).

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan