Asaki menyebut industri keramik kudu bayar gas US$15-16 per MMBTU akibat suplai PGN menurun.(Dok. Antara)
KETUA Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto menyebut industri keramik sekarang kudu menanggung nilai gas rata-rata US$15-16 per MMBTU. Angka itu lebih dari dua kali lipat Harga Gas Bumi Tertentu alias HGBT nan ditetapkan sebesar US$7 per MMBTU.
Menurut Edy, lonjakan biaya terjadi lantaran pasokan gas dari PGN terus menurun. Sepanjang Januari-Mei 2026, alokasi gas industri tertentu alias AGIT dari PGN hanya mencapai 47,5%. Sisanya kudu dipenuhi melalui gas regasifikasi LNG dengan nilai jauh lebih mahal, ialah sekitar US$20,5 per MMBTU.
“Suplai gas dari PGN semakin menurun. Januari-Mei 2026 ini AGIT dari PGN hanya 47,5%, dan selebihnya industri kudu bayar nilai regasifikasi LNG nan sangat mahal, US$20,5 per MMBTU,” ujar Edy saat dihubungi, Selasa (23/6).
Dengan kondisi tersebut, kata Edy, industri keramik kudu bayar gas pada kisaran rata-rata US$15-16 per MMBTU. Beban ini dinilai bakal terus menekan daya saing dan menurunkan utilisasi kapabilitas produksi.
“Industri keramik kudu bayar gas dengan kisaran rata-rata US$15-16 per MMBTU, namalain dua kali lipat di atas HGBT US$7 per MMBTU. Daya saing bakal terus tergerus dan utilisasi kapabilitas produksi bakal menurun,” katanya.
Edy menegaskan, Asaki tidak hanya memperjuangkan nilai gas nan kompetitif, tetapi juga keberlangsungan industri keramik nasional, investasi, dan lapangan kerja. Industri keramik nan tergabung dalam Asaki menyerap sekitar 150 ribu tenaga kerja.
“Industri tidak meminta keistimewaan. Kami hanya berambisi memperoleh kesiapan suplai gas dengan nilai nan kompetitif agar dapat terus tumbuh, menyerap tenaga kerja, dan berkontribusi bagi perekonomian nasional,” ujar Edy.
Asaki berambisi nilai gas industri dapat berada di kisaran US$7-9 per MMBTU, setara dengan nilai gas industri di Malaysia dan Thailand. Harga tersebut dinilai krusial agar industri keramik nasional tetap berkekuatan saing, terutama di tengah tekanan impor dari Tiongkok dan India.
“Angka tersebut semestinya bisa direalisasikan dengan AGIT 80% dan selebihnya menggunakan nilai regasifikasi LNG,” pungkas Edy. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·