Demian Aditya, CEO DMS+, saat diwawancarai media dalam aktivitas Ruang Tamu DMS+ Vol. 2 di Jakarta, Rabu (2/9/2026). Demian membahas rencana pengembangan konten DMS+(MI/Chatrine)
PLATFORM berbasis konten seram DMS+ bersiap memasuki babak baru dalam ekspansi ekosistemnya. Setelah tiga tahun mengudara, platform ini sukses mencatatkan portofolio impresif berupa lebih dari 3.600 konten, 2 juta unduhan, 1,3 juta pengguna terdaftar, serta lebih dari 224 ribu subscriber. Capaian tersebut sekarang diposisikan sebagai injakan utama untuk meluncurkan transformasi skala besar nan dijadwalkan mulai 2027.
“Kita penasaran kenapa kita kudu berdiri di situ, lantaran ini adalah sebuah awal. Kita merasa kita butuh sesuatu nan lebih besar lagi, kita pengen coba scale up lagi. Makanya tahun 2027 bakal menjadi sebuah start buat kita, untuk menjadi lebih melebar, wider, higher, and bigger,” ujar CEO DMS+, Demian Aditya.
Guna merealisasikan arah baru tersebut, DMS+ mengusung tiga pilar strategi utama:
Ekspansi Kolaborasi dan Format Film Vertikal
Melalui pilar Wider, DMS+ memperluas sumber konten dengan membuka pintu kerjasama bagi para pembuat konten seram serta merambah ke ranah produksi movie vertikal. Sejalan dengan langkah ini, identitas platform bakal beralih bentuk menjadi Horrortainment pada 2027, ditandai dengan logo baru berbentuk lingkaran merah bergaris melingkar menyerupai pagar.
“Kita mau beralih bentuk sehingga membuka kesempatan untuk semua content creator bisa join sama kita. Kita juga tidak hanya punya content creator, kita pengen punya film, movie vertikal,” tutur Demian.
Pengembangan vertical movie dirancang unik untuk konsumsi layar ponsel dengan lama bervariasi, mulai dari 2–3 menit, 5 menit, hingga format serial. Tantangan utamanya terletak pada pemeliharaan build up ketegangan unik cerita seram agar tidak sekadar menjual kejutan instan.
“Horor itu punya format sendiri nan berbeda dibandingkan nan lain. Karena jika seram itu ada build up-nya. Tidak mungkin kita misalkan ada jeng-jeng alias jumpscare per dua menit, orang lama-lama capek juga. Itu nan kita coba untuk kita jagain,” tambahnya.
Proses produksi movie vertikal dijadwalkan mulai awal Oktober dengan beberapa titel perdana seperti Obsessed, End Live, dan Chapter Akhir Papa. DMS+ menargetkan bisa memproduksi hingga 15 titel movie vertikal pada 2027.
Optimalisasi Arsip dan Pemanfaatan AI
Melalui strategi Higher, DMS+ memperkuat prasarana lewat kehadiran Creator Room serta pemanfaatan teknologi. DMS+ mengoptimalkan pedoman info penelusuran hingga akhir 2023 nan memuat lebih dari 8.000 sosok misterius untuk dikembangkan menjadi kekayaan intelektual (Intellectual Property/IP). Selain itu, disiapkan pula 1.000 titel konten berbasis kepintaran buatan (AI) nan diangkat dari arsip tersebut.
“Kita punya hantu-hantu nan story-nya jelas, background story-nya jelas. Kenapa tidak kita majuin saja? Kita tinggal pilih dari 8 ribu itu, oh ini menarik, kita develop jadi sebuah cerita nan menarik, dipublish, ya mari semua orang nikmatin. Jadi tidak sekadar hanya nakut-nakutin, jumpscare, tapi ada message-nya,” jelas Demian.
Tata Kelola IP dan Pemasaran Global
Pilar Bigger difokuskan pada pengelolaan aset imajinatif melalui IP Management guna melindungi kewenangan cipta pembuat sekaligus membuka jalan lintas media.
“Saya lagi bikin ekosistem. Ketika movie vertikal bagus, langsung meningkatkan lagi sebagai movie layar lebar. Kalau tidak terpilih, kita bikin tadi jika misalnya ada 1.000 titel AI, kita bakal bikin AI-nya. Jadi memang secara ekosistemnya kita sudah ada, tinggal menjalankannya saja,” kata Demian.
Melalui ekosistem terpadu ini, Demian berambisi narasi seram lokal dapat terangkat menjadi komoditas industri imajinatif nan membanggakan hingga ke tingkat internasional.
“Indonesia ini sudah, misalkan orang bilang mistisnya kental banget. Ya iya, mari kita bikin ini jadi sebuah kebanggaan. Jepang sukses dengan semua hantu-hantu yokai-nya. Indonesia banyak juga. Kenapa mesti malu? Pocong, itu karakter khasnya kita. Itu nan saya mimpi, bumi kudu tahu,” pungkasnya. (Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·