Polisi lakukan oleh TKP kasus bunuh diri seorang ibu rumah tangga di Blora nan kesulitan untuk membiayai sekolah anaknya.(MI/Akhmad Safuan.)
TRAGIS. Diduga mengalami beban berat untuk menyekolahkan anaknya, seorang ibu rumah tangga nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di rumahnya, Selasa (23/6). Ia merupakan penduduk Desa Mojorembun, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Pemantauan Media Indonesia, Selasa (23/6) hingga sore, waga Blora tetap membicarakan tindakan nekat seorang ibu rumah tangga M, 41, nan mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri di rumahnya. Ia lantas ditemukan suami dan anaknya.
Perbincangan tidak hanya menyangkut kasus bunuh diri tersebut, tetapi banyak penduduk menyoroti penyebab tindakan nekat dilakukan korban. Menurut dugaan sementara, penyebabnya ialah kemiskinan dan beban berat ditanggung family korban nan mau menyekolahkan anaknya ke pondok pesantren.
"Sebelum peristiwa bunuh diri, korban mengeluhkan beban ekonomi nan cukup berat untuk menyekolahkan anaknya," ujar seorang penduduk desa tersebut.
Saat ditemukan tewas bunuh diri pada Selasa (23/6) pagi, ungkap penduduk lain berjulukan Sukirman, suasana desa menjadi geger. Hujan tangis tidak terbendung ketika suami R, 41, dan anaknya nan baru pulang dari rumah orangtuanya di desa lain menemukan korban M meninggal dengan langkah gantung diri.
Kepala Humas Polres Blora Ajun Komisaris Midiyono membenarkan kasus bunuh diri tersebut. Bahkan berasas hasil pemeriksaan, tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan di tubuh korban. "Itu murni bunuh diri dengan langkah gantung diri menggunakan taki plastik warna kuning," tambahnya.
Korban diketahui seorang wiraswasta. Awalnya, dia berbareng suami dan anaknya berumur 12 tahun berada di rumah orangtuanya di Kecamatan Kedungtuban.
Sekitar pukul 04.30 WIB, korban M hendaklah pulang ke rumah dengan melangkah kaki. Namun perihal itu dilarang suaminya R lantaran jauh dan hari tetap gelap, sehingga kemudian diantar pulang ke rumah menggunakan sepeda motor.
Sekitar pukul 05.00, mereka sampai di rumah. M meminta suaminya untuk menjemput anaknya nan tetap berada di rumah orangtuanya.
Tanpa menunggu waktu lama, menurut Midiyono, suaminya kembali kembali untuk menjemput anaknya dan korban masuk ke dalam rumah. Sekitar satu jam kemudian suami dan anaknya datang dan dikagetkan dengan kondisi M nan telah meninggal bumi dengan langkah gantung diri.
"Setelah menerima laporan itu, sejumlah petugas diturunkan untuk melakukan pemeriksaan di TKP dan menyelidiki kasus tersebut," kata Midiyono.
Berdasarkan hasil pemeriksaan dan keterangan pihak keluarga, demikian Midiyono, sebelum kejadian korban dan suaminya sempat membahas rencana biaya sekolah anak mereka nan beriktikad masuk ke pondok pesantren. Namun lantaran kemiskinan dan tidak mempunyai biaya untuk menyekolahkan anaknya menjadi beban berat bagi korban. (I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·