Sudaryono soal Insiden di UGM: Kami Hadir Untuk Berdialog Secara Demokratis

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (17/6/2025). Foto: Widya Islamiati/kumparan

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono angkat bicara mengenai kejadian nan terjadi dalam agenda obrolan di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Selain Sudaryono, obrolan itu juga dihadiri Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko. Adapun sejumlah mahasiswa melakukan tindakan protes hingga aktivitas tidak dapat dilanjutkan.

Sudaryono menegaskan, dirinya berbareng Nusron dan Budiman sejak awal datang ke UGM untuk berbincang secara terbuka dengan mahasiswa.

"Kami datang ke UGM memang untuk berdiskusi. Acara ini sudah direncanakan sejak lama dan telah mendapat izin dari pihak kampus. Ini juga bukan aktivitas pertama semacam ini," ujar Sudaryono dalam keterangan tertulis, Selasa (16/6).

Menurut dia, ruang perbincangan telah dibuka seluas-luasnya. Ia menyebut, mahasiswa dipersilakan menyampaikan pertanyaan maupun kritik terhadap kebijakan pemerintah.

"Ditanya apa saja tidak masalah. Diadili seperti apa saja juga tidak masalah. Kami datang untuk berbincang secara demokratis," katanya.

Sudaryono menjelaskan, obrolan sempat berjalan sekitar 30 hingga 40 menit. Namun, situasi kemudian berubah ketika sebagian peserta menghendaki agar obrolan dihentikan.

"Kami sempat berbincang sekitar 30 sampai 40 menit. Tetapi kemudian ada sekelompok orang nan menginginkan forum dihentikan. Padahal sebagian besar mahasiswa justru mau mendengar dan berdialog," ungkapnya.

Ratusan mahasiswa menggeruduk aktivitas obrolan di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM). Foto: Dok. Istimewa

Meski situasi mulai memanas, Sudaryono mengaku tetap memperkuat di letak berbareng Nusron lantaran meyakini perbincangan merupakan langkah terbaik untuk menyelesaikan perbedaan pandangan.

Namun, kondisi disebut semakin tidak kondusif setelah terjadi pelemparan air dan dugaan tindakan bentuk terhadap dirinya.

"Saya merasa ada nan memukul saya. Ada pelemparan air juga. Karena situasi sudah tidak kondusif, pihak keamanan menyarankan kami keluar," ujarnya.

Sudaryono juga membantah dugaan bahwa dirinya dan Nusron meninggalkan letak lantaran menghindari mahasiswa nan mau berdialog.

"Kalau ada nan mengatakan Sudaryono dan Nusron kabur, itu tidak tepat. Justru kami nan datang untuk berdiskusi. Bahkan saat mobil kami dicegat dan kami dicari-cari, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog," tegasnya.

Dalam perbincangan nan berjalan setelah kejadian tersebut, sejumlah mahasiswa menyampaikan kritik mengenai persoalan agraria dan dugaan penggusuran. Sudaryono mengaku terbuka untuk memeriksa langsung beragam persoalan nan disampaikan mahasiswa.

"Kalau memang ada penggusuran alias persoalan agraria tertentu, mari kita cek bersama. Saya apalagi siap menggunakan biaya pribadi untuk mendatangi letak dan memandang langsung persoalannya," kata Sudaryono.

Ia menegaskan pemerintah tidak anti terhadap kritik. Menurutnya, kritik merupakan bagian dari praktik kerakyatan selama disampaikan dengan tetap menghormati pandangan pihak lain.

"Kalau ada nan keliru, kita perbaiki. Itu gambaran demokrasi. Orang boleh punya pendapat, tetapi juga kudu menghargai pendapat orang lain," ujarnya.

Sudaryono juga menyampaikan permohonan maaf kepada mahasiswa nan datang dengan tujuan mengikuti diskusi, tetapi tidak dapat mengikuti forum secara maksimal akibat kericuhan nan terjadi.

"Saya minta maaf kepada adik-adik mahasiswa nan sebetulnya mau berbincang secara baik. Kami siap jika diundang kembali, baik di Yogyakarta maupun Jakarta. nan krusial kita berdiskusi," katanya.

Menurut Sudaryono, pemerintah bakal terus membuka ruang komunikasi dengan beragam golongan masyarakat, termasuk mahasiswa.

"Atas dasar cinta kepada negara, kami siap berbincang dengan siapa pun. Ini bukti bahwa pemerintah demokratis dan terbuka terhadap kritik maupun masukan," pungkasnya.

Sebelumnya, sejumlah mahasiswa menggeruduk aktivitas obrolan di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM). Dalam video nan beredar, mahasiswa meneriaki "revolusi" hingga menggebrak-gebrak mobil.

Acara obrolan ini semula melangkah lancar. Ketiga narasumber bicara di atas panggung. Lalu saat Budiman membahas soal eks Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto—bahwa jangan ada nan menyentuh Tiyo, sejumlah mahasiswa naik ke panggung.

Spanduk dibentangkan mulai dari "UGM Menolak Pengkhianat Reformasi" dan "UGM Menolak Penjilat Rezim". Teriakan "Satuan Penjilat Prabowo-Gibran" pun berulang kali terdengar.

Terpantau pula sempat terjadi pelemparan gelas air mineral. Ketiga pejabat ini lampau dievakuasi ke luar, namun, mahasiswa telah mengadang di sekitar mobil para pejabat.

Ratusan mahasiswa menggeruduk aktivitas obrolan di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM). Foto: Dok. Istimewa
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan