Subsidi Energi Sepanjang 2026 Bakal Lewati Target APBN, Ini Penyebabnya

Sedang Trending 11 menit yang lalu
Pengendara sepeda motor mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di SPBU COCO Jalan Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (31/3/2026). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

Subsidi daya sepanjang tahun 2026 diprediksi melewati sasaran nan ditetapkan APBN. Ini terjadi lantaran tingginya proyeksi realisasi alias outlook nilai tukar Rupiah hingga nilai minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP).

Dalam Buku Nota Keuangan RAPBN 2027, hingga semester I 2026, nilai tukar Rupiah rata-rata berada pada level Rp 17.197 per dolar AS. Adapun kisaran outlook ialah Rp 17.000-Rp 17.500 per dolar AS, lebih tinggi dari dugaan dasar Rp 16.500 per dolar AS lantaran dinamika geopolitik dan arah kebijakan moneter global.

Sementara itu, rata-rata ICP semester I tahun 2026 terealisasi sebesar USD 90,46 per barel, di atas kisaran outlook USD 75-85 per barel akibat gangguan pasokan sebagai akibat bentrok di Timur Tengah.

Dengan demikian, proyeksi subsidi daya hingga akhir tahun 2026 bisa mencapai Rp 227,2 triliun, naik cukup signifikan dari sasaran dalam APBN 2026 nan ditetapkan sebesar Rp 210 triliun.

"Pada outlook tahun 2026, subsidi daya diperkirakan mengalami peningkatan menjadi Rp 227.258,1 miliar," dikutip dari Buku Nota Keuangan RAPBN 2027, Sabtu (22/8).

Selama 2022-2025, pemerintah mencatat realisasi subsidi daya mengalami perkembangan nan naik turun dengan kecenderungan meningkat, dari semula Rp 171,85 triliun pada tahun 2022, menjadi Rp 185,16 triliun pada tahun 2025. Sehingga rata-rata mencapai Rp 174,73 triliun per tahun.

Pada periode tersebut, realisasi subsidi Jenis BBM Tertentu (JBT) dan LPG tabung 3 kg mendominasi dengan rata-rata Rp 104,2 triliun per tahun, sementara rata-rata realisasi subsidi listrik mencapai Rp 70,45 triliun per tahun alias tumbuh 12,9 persen.

Pada outlook tahun 2026, subsidi JBT dan LPG 3 Kg diperkirakan mencapai Rp 116,84 triliun. Hal ini dipengaruhi oleh dugaan dasar ekonomi makro khususnya ICP dan nilai tukar Rupiah, volume penyaluran, nilai referensi produk BBM (Mean of Platts Singapore/MOPS) dan produk LPG (Contract Price Aramco/CP Aramco), serta pembayaran kekurangan subsidi tahun sebelumnya.

Selain itu, perkembangan subsidi JBT juga dipengaruhi oleh perubahan kebijakan subsidi tetap. Pada tahun 2022, subsidi tetap JBT minyak solar ditetapkan sebesar Rp 500/liter. Selanjutnya pada tahun 2023-2026, subsidi tetap JBT minyak solar menjadi sebesar Rp 1.000/liter.

video story embed

Volume Penyaluran Naik

Selama periode 2022–2026, perkembangan volume penyaluran JBT minyak solar menunjukkan tren peningkatan. Pada tahun 2022, realisasi volume penyaluran mencapai 17,6 juta kiloliter, kemudian meningkat menjadi 18,4 juta kiloliter pada tahun 2025. Kuota penyaluran JBT minyak solar pada outlook tahun 2026 sebesar 18,6 juta kiloliter.

Kenaikan juga terjadi pada volume penyaluran JBT minyak tanah, dari 488,5 ribu kiloliter pada tahun 2022 menjadi 507,8 ribu kiloliter pada tahun 2025. Kuota penyaluran minyak tanah pada outlook tahun 2026 sebesar 526,0 ribu kiloliter.

Sementara tren realisasi volume penyaluran LPG tabung 3 kg juga naik dari 7,8 juta metrik ton pada tahun 2022, menjadi 8,5 juta metrik ton pada tahun 2025. Adapun kuota penyaluran pada outlook tahun 2026 sebesar 8,0 juta metrik ton.

Adapun realisasi subsidi listrik selama periode 2022–2025 menunjukkan tren peningkatan rata-rata sebesar 12,9 persen dari semula Rp 56.24 triliun pada tahun 2022 menjadi Rp 81.03 triliun pada tahun 2025.

Pada outlook tahun 2026, subsidi listrik diperkirakan naik mencapai Rp 110.41 triliun. Perkembangan ini terutama dipengaruhi oleh ICP, nilai tukar Rupiah, volume listrik bersubsidi, dan pembayaran kekurangan subsidi tahun sebelumnya.

Alokasi Subsidi Energi 2027

Dalam RAPBN 2027, subsidi daya direncanakan sebesar Rp 272,94 triliun alias meningkat sebesar 20,1 persen andaikan dibandingkan dengan outlook tahun 2026 sebesar Rp 227,25 triliun.

Rinciannya ialah subsidi JBT dan LPG 3 kg direncanakan sebesar Rp 142.83 triliun alias meningkat 22,2 persen andaikan dibandingkan dengan outlook tahun 2026 sebesar Rp 116.84 triliun.

Sedangkan anggaran subsidi listrik direncanakan sebesar Rp 130,1 triliun alias meningkat 17,8 persen andaikan dibandingkan dengan outlook tahun 2026 sebesar Rp 110.41 triliun.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan