Suara Tak-Tek-Tok Hidupi Warga Kampung Dukuh hingga Bisa Ekspor

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

Banyak rumah di Kampung Dukuh, Desa Pasir Mukti, Citeureup, Bogor, kerap mengeluarkan bunyi tak-tek-tok tak-tek-tok. Suara unik tersebut makin nyaring terdengar pada malam hari menjelang momen-momen besar seperti Lebaran dan hari-hari besar lainnya.

Menariknya, makin nyaring suaranya membikin penduduk setempat tersenyum lebar. Tak-tek-tok tak-tek-tok bukan bunyi mistis. Namun menjadi penanda penduduk di kampung tersebut mendapat rezeki.

Suara tak-tek-tok tersebut berasal dari rumah-rumah para perajin kaleng nan banyak ditemui di kampung itu. Salah satu rumah nan kerap mengeluarkan bunyi unik tersebut ialah milik Mansur (67).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun usianya tidak lagi muda, skill Mansur untuk menyulap lembaran aluminium menjadi kerajinan kaleng kerupuk mini tidak boleh diremehkan. Tangannya tampak terampil dalam memotong setiap lempeng aluminium.

Bermodalkan palu kecil, tang potong, dan dasar kayu, tangan Mansur tampak terampil memotong setiap lembar aluminium secara presisi. Jika sudah menghasilkan potongan presisi maka langkah selanjutnya ialah merakit dengan langkah sedikit memukul-mukul pada sejumlah sisi dan menghasilkan bunyi 'tak-tek-tok'. Dari bunyi itu kemudian tercipta kaleng kerupuk mini dan produk kerajinan lainnya sesuai dengan pesanan pelanggan

Dia mengatakan skill tersebut dimiliki bukan baru sehari alias dua hari saja. Namun, keahliannya menyulap lembaran aluminium menjadi kaleng sudah dimiliki sejak 15 tahun lalu.

Mansur muda mengasah kemampuannya dari sang ayah nan dahulunya merupakan perajin kompor minyak tanah dan jenis perangkat dapur. Sejak kecil, dia terbiasa memperhatikan dan terlibat langsung untuk membantu sang ayah membikin beragam produk tersebut.

"Sudah 15 tahun (jadi pengrajin). Ya dulu mah bapak saya segala macam dipegang (dibuat) gitu kompor gitu. Kalau saya dulu juga membikin Loyang apa saja. Sekarang satu macam saja," kata Mansur saat ditemui detikcom di rumahnya di Citeureup, Bogor, beberapa waktu lalu.

Di tengah gempuran produk plastik buatan pabrik, ketekunan Mansur dan penduduk Kampung Dukuh menjaga kerajinan tangan ini menjadi karakter tersendiri. Dentang tak-tek-tok nan terus bergaung bukan sekadar proses pembuatan kerajinan kaleng kerupuk mini, melainkan degub nadi kehidupan dan lambang ketahanan ekonomi penduduk desa nan terus dirawat dari generasi ke generasi.

Setiap bunyi 'tak-tek-tok' dari perangkat kerja menyimpan angan Mansur untuk terus menghidupi keluarganya. Harapan tersebut pun membuahkan hasil. Mansur bercerita dari bunyi tersebut dirinya bisa menafkahi anak dan istri. Bahkan, dirinya bisa membuatkan rumah untuk buah hati tercintanya.

"Alhamdulillah sih rumah udah ada. Anak udah kebikin rumah. Alhamdulillah sih itu mah," katanya.

Adaptasi dan Memanfaatkan Setiap Peluang

Mansur bercerita, beradaptasi dan memanfaatkan setiap kesempatan menjadi salah satu kunci bunyi 'tak-tek-tok' tetap nyaring terdengar di Kampung Dukuh, Desa Pasir Mukti.

Dia mengatakan dulunya kampung tersebut kebanyakan perajin kompor minyak. Namun, lantaran penggunaan kompor minyak sudah dibatasi, banyak perajin nan beranjak ke kerajinan lain.

Mansur mengatakan para perajin di kampung tersebut tidak hanya konsentrasi pada satu produk saja. Namun, mereka memproduksi beragam macam produk berbahan dasar aluminium seperti loyang, cetakan kue, kaleng kerupuk, dan lain sebagainya.

"Oh tadinya kan bikin kompor minyak tanah. Minyak tanah nggak ada. Terus bikin kompor batu bara gitu. Cuma nggak lama itu. Batu baranya susah. Terus bikin kaleng kerupuk," ungkapnya.

Tidak hanya mencoba dan melahirkan produk baru, Mansur pun turut berupaya membuka kesempatan baru dengan menjalin kerja sama dengan sejumlah pihak, salah satunya Kampung Kaleng.

Mansur mengatakan dari kerja sama itu dirinya bisa menjangkau konsumen lebih luas. Sebab, Kampung Kaleng turut membantu para pelaku upaya untuk memaksimalkan penjualan mereka.

"Kadang-kadang order dari luar kan," kata Mansur.

Sementara itu, CEO Kampung Kaleng Arif Rahmat mengatakan kehadiran Kampung Kaleng merupakan bagian dari upaya untuk mendorong produk-produk perajin. Menurutnya, dulu produk nan dihasilkan dari Kampung Dukuh belum terserap secara maksimal.

"Mereka itu kesulitan untuk terserap pasarnya. Pasarnya itu terbatas. Beberapa perajin terutama nan SDM-nya terbatas, modalnya terbatas, kemudian kemampuannya terbatas. Itu banyak nan cerita perihal begitu. Akhirnya ya 2015 pertengahan itu kita coba untuk bantu marketingnya produknya teman-teman. Jadi mereka biasa bikin apa. Mereka punya produk apa kita bantu promosikan," kata Arif kepada detikcom, beberapa waktu lalu.

Arif mengatakan salah satu upaya nan dilakukan untuk membantu pemasaran adalah dengan memaksimalkan media sosial. Dalam akun IG Kampung Kaleng, misalnya, Arif berbareng tim mengemas beragam produk para perajin dengan bungkusan konten menarik.

"Makanya akhirnya yaudah ada media sosial, ada website, itu untuk membagi traffic-nya. Biar tidak selalu berjuntai pada itu," jelasnya.

Tidak hanya melalui media sosial, upaya pemasaran nan dilakukan oleh Arif pun merambah ke marketplace dengan menghadirkan toko online di Shopee, Kampung Kaleng. Toko online nan dibuat 11 tahun lampau itu saat ini telah mempunyai beragam macam pelanggan.

Bahkan, jumlah orderannya pun sudah mencapai puluhan ribu dan mendapatkan penilaian 4,7 dari 5. Adapun produk nan cukup laku ialah kaleng kerupuk besar alias mini, celengan, panggangan ikan, cetakan kue, dan lain sebagainya.

Dia mengatakan pada masa COVID-19, beragam produk tersebut laku manis dibeli oleh para pelanggan. Sebab, patokan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) memaksa banyak orang untuk beraktivitas di rumah dengan melakukan sejumlah kegiatan, salah satunya membikin kue.

"Itu ya pernah sampai ribuan ya. Ribuan pesanan per bulan. Apalagi jika menjelang Hari Raya ya," ungkap Arif.

Arif mengatakan dalam mengembangkan upaya tersebut bukan perkara mudah. Sebab, ada sejumlah tantangan nan kerap dirasakan olehnya, salah satunya mengenai kenaikan nilai bahan baku.

Saat ini, dia mengatakan sejumlah perajin mengeluhkan kenaikan bahan baku sekitar 20%. Menurutnya, kenaikan nilai tersebut membikin Kampung Kaleng kudu melakukan perubahan nilai setiap minggunya.

Data London Metal Exchange (LME) mencatat nilai aluminium sudah mengalami kenaikan lebih dari 13% sejak perang AS-Israel vs Iran pada 28 Februari. Bahkan, sepanjang 2026 kenaikan sudah mencapai 19% dan mencapai level tertinggi sejak 2022 lalu.

Kenaikan tersebut juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor, salah satunya penutupan Selat Hormuz. Sekitar 7% aluminium bumi berasal dari Timur Tengah nan memanfaatkan Selat Hormuz untuk distribusinya.

"(Bahan baku) naik bisa 20%. Setiap minggu kita bikin nilai terbaru," jelasnya.

Produk Kabupaten Dilirik Negara Tetangga

Arif mengatakan produk kerajinan tersebut tidak hanya laku manis di pasar domestik, tetapi juga dilirik oleh negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina. Meskipun belum berskala besar, Arif mengatakan Kampung Kaleng pernah melakukan ekspor ke dua negara tersebut.

Menariknya, secara nasional ekonomi imajinatif tergolong mempunyai potensi nan besar untuk dilirik oleh pasar mancanegara. Data Badan Pusat Statistik 2025 menyebut sektor fesyen, kriya, dan kuliner menempati posisi tertinggi dengan nilai ekspor nan cukup tinggi.

Suara Tak-Tek-Tok Hidupi Warga Kampung Dukuh hingga Bisa EksporFoto: Istimewa

Berdasarkan nomor total nilai ekspor ekonomi imajinatif (ekraf) periode Januari-Oktober 2025, kategori fesyen tembus US$ 14.860,9 juta, kriya US$ 11.101,0 juta, dan kuliner US$ 645,1 ribu. Sementara itu, untuk nilai ekspor periode Januari-Oktober 2025, US$ 8,32 miliar (Amerika), US$ 3,57 miliar (Switzerland), dan US$ 1,32 miliar (Japan).

"Ya jika bahasanya sih sebenarnya bukan ekspor gede-gedean. Dari nan pake kontainer itu nggak sih. Paling ke luar pernah. Cuma memang kuantitinya nggak banyak. Pernah besar itu paling 2000 pcs. Belum sampai nan kontainer-kontaineran belum. Karena itu kan kudu bayarnya kudu besar ya. Kalau hanya kayak ke Malaysia, ke Filipina," ungkapnya.

Arif mengatakan pihaknya pun gencar mengikuti sejumlah training untuk memaksimalkan potensi pasar global. Menurutnya, training ekspor membantu dirinya untuk membaca kemauan pembeli dari luar negeri.

"Ya saya pula ikut training Program Ekspor Shopee. Saya ikut Kampus Shopee," tuturnya.

Suara Tak-Tek-Tok Bantu Lahirkan Lapangan Kerja Baru

Ekosistem nan terbentuk dari industri kerajinan kaleng tidak hanya sebatas menghadirkan perajin hingga pembeli dari dalam dan luar negeri. Namun, juga melahirkan pekerjaan baru, ialah host dan ahli media sosial. Kehadiran pekerjaan baru tersebut menambah warna baru dalam melakukan promosi di ranah digital.

Dalam sebuah riset nan dirilis oleh AdWeek pada 2020 lampau menyebut peran konten video memberikan pengaruh cukup besar kepada konsumen untuk membeli suatu produk. Menariknya, laporan tersebut juga menyebut konten video membikin 70% konsumen bakal merasa terhubung dengan suatu merek serta bisa mendorong mereka untuk menghabiskan duit hingga dua kali lipat.

Khusus di Indonesia, We Are Social mencatat jumlah pengguna internet tembus 221 juta alias setara 79,5% dari total populasi nan ada di dalam negeri. Meskipun tidak menyebut nomor secara pasti, We Are Social menyebut streaming video, musik, dan konten digital menjadi salah satu penyumbang terbesar trafik internet di Indonesia.

Sementara itu, seorang host sekaligus content creator di Kampung Kaleng, Moya (23), turut merasakan akibat positif dari kehadiran industri kerajinan aluminium. Dia mengatakan membikin konten video hingga live streaming menghadirkan pengalaman baru dalam mempromosikan suatu produk.

Apalagi saat pertama kali mulai terjun bumi tersebut, rasa grogi untuk berbincang depan kamera kerap dirasakan olehnya.

"Dulu sih pas awal live streaming sempet grogi, sekarang sudah nggak," ungkapnya.

Saat live pun, dia mengatakan sejumlah persiapan dilakukan mulai dari berdandan, melakukan hiasan di sekitar area live, dan mengatur pencahayaan. Menurutnya, langkah itu dilakukan untuk membikin konten menjadi lebih menarik.

"Kalau di sini live-nya 3 jam dengan mempromosikan kaleng kerupuk mini. Karena di sini produk unggulannya itu kaleng kerupuk mini," ujarnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan hasil live tersebut pun digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan keluarga.

"Untuk kebutuhan sehari-hari," jelasnya.

Kontribusi UMKM Terhadap Perekonomian Nasional

Perajin kaleng Citeureup, Bogor, merupakan satu dari banyak upaya mikro, kecil, dan menengah (UMKM) nan turut memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Data dari Kementerian UMKM menyebut terdapat 65,5 juta UMKM di Indonesia pada 2025.

Para pelaku UMKM telah menyumbang setidaknya 61% dari produk domestik bruto dan menyerap tenaga kerja mencapai 97%. Adapun struktur usahanya didominasi oleh kategori upaya mikro seperti nan dimiliki oleh Mansur berbareng perajin lainnya di Kampung Dukuh, Bogor.

"Bayangkan, kontribusi UMKM terhadap PDB mencapai 57-60 persen. Sementara sektor di luar UMKM hanya sekitar 40-43 persen. Jadi jika kalian betul-betul mau berkontribusi kepada bangsa dan negara, UMKM adalah salah satu ruang dan kesempatan terbaik itu," ujar Menteri UMKM Maman Abdurrahman dikutip dari website Kementerian UMKM.

Dari sisi aplikasi, Deputy Director of Government Relations Shopee Indonesia Balques Manisang menilai pentingnya mendorong UMKM untuk lebih adaptif terhadap teknologi digital. Menurutnya, lewat keahlian itu pelaku UMKM bisa memaksimalkan pasar digital.

"Ada tuntutan nan besar nan dirasakan pengusaha juga untuk terus melakukan pengembangan upaya nan terus kudu terukur secara efisien. Tantangan krusial lainnya ialah keahlian digital dan pemasaran online. Terasa sekali dengan teknologi nan semakin berkembang, pelaku upaya dalam negeri juga kudu terus meningkatkan lagi keahlian digital mereka agar bisa maksimal dalam memakai platform online dan teknologi, khususnya di dalam Shopee," kata Balques beberapa waktu lalu.

Selain penyesuaian terhadap teknologi, dia mengatakan ada sejumlah tantangan lain nan perlu dihadapi oleh pelaku UMKM untuk mengembangkan upaya mereka. Adapun tantangan tersebut mencakup bijak mengelola anggaran pemasaran, melindungi kewenangan kekayaan intelektual (HKI), hingga bisa memperluas pasar di dalam hingga luar negeri.

Balques mengatakan untuk membantu pelaku UMKM, pihaknya mempunyai sejumlah penemuan mulai dari pemasaran hingga menjangkau konsumen dalam dan luar negeri. Berbagai penemuan tersebut sengaja dihadirkan untuk membantu produk lokal agar bisa terus berkembang.

"Pertama, bisa buka akses untuk menjangkau jutaan pengguna melalui satu platform. Kita belum bisa katakan sempurna, tapi kita menuju ke sana. Kemudian meningkatkan eksposur. Eksposur ini krusial lantaran produk lokal butuh ya di platform agar lebih mudah ditemukan oleh konsumen dan juga bisa meningkatkan potensi pembelian sebagai tujuannya. Kemudian menyederhanakan proses manajemen stok, pemrosesan pesanan, akses logistik, dan juga untuk membikin proses operasional upaya jadi lebih efisien," ujarnya.

Suara Tak-Tek-Tok Hidupi Warga Kampung Dukuh hingga Bisa EksporFoto: Istimewa

"Ada fitur-fitur dan program e-commerce juga nan bisa membantu penjual ekspansi jangkauan pasar ke seluruh negeri hingga akses nan mungkin Pak Budi juga sering dengar ya Pak, akses ekspornya Shopee, alhamdulillah terus bertumbuh. Dan terakhir, e-commerce seperti Shopee juga bisa membantu mengamankan merek, desain, dan penemuan produk dari praktik pemalsuan tadi alias pembajakan di platform," sambungnya.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyambut baik upaya nan dilakukan oleh Shopee. Menurutnya, kontribusi dari marketplace bisa memberikan pengaruh positif terhadap ekosistem UMKM di Indonesia.

"Kita sering bekerja-sama dengan Shopee dan platform-platform e-commerce lainnya. Kenapa? Karena ekosistem e-commerce kudu dibangun dengan baik. Seperti nan tadi Ibu Balques jelaskan, ekosistem itu terdiri dari produk alias seller (para pelaku UMKM), kemudian ada platform alias pedagang nan juga berjuang untuk memasarkan produk Bapak/Ibu semua, dan nan ketiga adalah konsumennya," tutupnya.

(anl/ega)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance