Kuota Solar Subsidi 19 Juta Kiloliter, LPG 8 Juta Metrik Ton

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan kuota subsidi untuk bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar dan minyak tanah untuk 2027 sebesar 19,561 juta kiloliter.

Jumlah kuota BBM subsidi ini sesuai dengan usulan nan telah ditetapkan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.

"Usulan volume BBM bersubsidi dalam RAPBN tahun 2027 sebesar 19,561 juta kiloliter dengan rincian minyak tanah sebesar 0,561 juta kiloliter dan minyak solar sebesar 19 juta kiloliter," ujar Bahlil dalam Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR, di Jakarta, Senin (31/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Minyak solar tetap banyak dipergunakan untuk transportasi darat, transportasi laut, kereta api, upaya perikanan, upaya pertanian, upaya mikro, dan pelayanan umum sehingga diperlukan upaya menjaga nilai jual satuan minyak solar," paparnya lagi.

Terkait perihal ini, Bahlil mengatakan nilai dan proses masuknya pasokan bahan bakar bakal mempertimbangkan situasi dunia dan perubahan harga.

Lebih lanjut, Bahlil memaparkan pemerintah juga sudah menetapkan kuota subsidi untuk LPG 3 kg namalain gas melon pada 2027 mendatang sebanyak 8 juta metrik ton.

"Berdasarkan realisasi sampai dengan Juli 2026 diusulkan volume LPG 3 kg dalam RAPBN tahun 2027 sebesar 8 juta metrik ton, ini sejalan dengan beberapa pembahasan nan sudah kita lakukan di Komisi XII baik di bulan Februari maupun di bulan Juli," ujar Bahlil.

Tak hanya kuota subsidi BBM dan LPG 3 kg, Bahlil mengatakan dalam RAPBN 2027 pemerintah juga sudah menetapkan usulan subsidi listrik sebesar Rp 117,84 triliun. Angka ini dihitung dengan dugaan nilai Indonesian Crude Price (ICP) US$ 75 per barel, dengan nilai tukar Rp 17.500/dolar AS, dan tingkat inflasi sebesar 2,5%.

"Jadi jika harganya naik dugaan naiknya menjadi US$ 80 per barel ICP, maka ada kemungkinan penambahan subsidi termasuk nilai tukar. Ya kita bermohon aja mudah-mudahan nilai tukar tidak terlalu banyak terkoreksi," terangnya.

(igo/hns)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance