Ilustrasi(Magnific)
OBAT nan tengah banyak digunakan dalam penanganan diabetes jenis 2 dan obesitas sekarang menghadirkan temuan baru di bagian ortopedi. Menurut American Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOS), penggunaan agonis reseptor GLP-1 alias GLP-1 RA tercatat meningkat tajam sejak 2019.
Bersamaan dengan peningkatan tersebut, penelitian terbaru mulai menyoroti kaitan penggunaan GLP-1 dengan sejumlah kondisi kesehatan tulang dan sendi.
Penggunaan GLP-1 Meningkat dalam Operasi Ortopedi
Dalam laporan AAOS, salah satu penelitian menilai penggunaan GLP-1 dan semaglutide pada pasien obesitas nan menjalani beragam prosedur ortopedi. Studi ini menggunakan info klaim kesehatan nasional dan dipimpin Haroun Haque berbareng tim peneliti nan menunjukkan hasiln penggunaan GLP-1 dan semaglutide meningkat secara konsisten, dengan kenaikan tajam sejak 2019.
Pada beragam prosedur, pengguna GLP-1 mempunyai kemungkinan kunjungan ke unit darurat gawat setelah operasi nan lebih rendah tanpa ditemukan peningkatan akibat pembedahan.
Pada pasien nan menjalani penggantian dengkul total (TKA) dan penggantian panggul total (THA), penggunaan GLP-1 juga dikaitkan dengan nomor jangkitan luka operasi nan lebih rendah.
Namun, temuan tersebut tidak sepenuhnya seragam. Angka revisi lebih rendah pada pengguna GLP-1 nan menjalani TKA, tetapi meningkat pada pasien setelah pelepasan terowongan karpal.
Risiko Tulang Terlihat Setelah Lima Tahun
Temuan lain datang dari penelitian Muaaz Wajahath dan tim nan melakukan studi kohort retrospektif menggunakan rekam medis elektronik dari beragam lembaga untuk menilai akibat osteoporosis, masam urat, dan osteomalasia selama lima tahun.
Sebanyak 73.483 pasien nan menggunakan GLP-1 RA dibandingkan dengan golongan kontrol dengan karakter awal nan seimbang. Setelah lima tahun, osteoporosis tercatat pada 4,1 persen pengguna GLP-1 RA, dibandingkan 3,2% pada golongan kontrol. Rasio risikonya mencapai 1,29 dengan p<0,001.
Asam urat juga lebih tinggi, ialah 7,4% berbanding 6,6%, dengan RR 1,12. Untuk osteomalasia, angkanya 0,2% dibanding 0,1%, dengan RR 2,55. Seluruh perbedaan tersebut dinyatakan signifikan secara statistik.
Temuan Belum Menetapkan Sebab-Akibat
Temuan ini menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan GLP-1 RA dan kondisi tersebut. Namun, belum dapat membuktikan bahwa obat GLP-1 secara langsung menyebabkan osteoporosis, masam urat, alias osteomalasia.
Karena itu, peneliti Muaaz Wajahath menyarankan agar kondisi kesehatan tulang tetap diperhatikan, terutama pada pasien nan memang mempunyai akibat terhadap osteoporosis, masam urat, alias osteomalasia.
Ia menilai pemantauan kesehatan tulang dapat membantu mengidentifikasi komplikasi nan muncul dalam jangka panjang pada golongan berisiko. (American Academy of Orthopaedic Surgeons/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·