Strategi Balik Tanah Pertanian Bantu Atasi Karhutla

Sedang Trending 17 jam yang lalu
Strategi Balik Tanah Pertanian Bantu Atasi Karhutla Ilustrasi(Dok Istimewa)

KEMENTERIAN Koordinator Bidang Pangan menerapkan strategi pengolahan lahan pasca panen guna mengantisipasi praktik pembukaan dan pembersihan lahan dengan langkah membakar nan menimbulkan kabut asap oleh petani. Strategi dengan langkah membalik tanah dan jerami sisa panen ini dinilai memberikan untung bagi petani sekaligus mengatasi kebakaran rimba dan lahan (Karhutla).

Sejak beberapa hari terakhir sedikitnya 50 unit Rotavator, perangkat pertanian pengolah tanah dan ratusan personil Brigade Pangan dikerahkan serentak membolak-balikkan tanah pada lahan persawahan pasca panen di sejumlah desa di Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar. Termasuk lahan sawah nan mengalami kandas panen akibat terserang (benih)penyakit dan kekeringan. 

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurafiq saat memantau aktivitas pembalikan lahan sawah di Kecamatan Gambut, mengungkapkan berasas hasil identifikasi darat dan udara (drone) kondisi Karhutla pada blok-blok sumber kabut asap di Kecamatan Gambut dan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar diketahui sebagian besar areal nan didominasi lahan pertanian sawah tersebut sudah terbakar. Tim juga menemukan praktik pembersihan lahan pasca panen maupun lahan kandas panen akibat tandus sengaja dibakar.

"Jerami sisa panen maupun lahan nan kandas panen itu menjadi bahan bakar. Banyak petani tetap melakukan praktik membakar untuk membersihkan alias membuka lahan. Tentu ini menjadi penyumbang asap nan rawan bagi kesehatan, terlebih jika meluas, merambah ke areal lainnya. Karena itu langkah kita adalah menghilangkan bahan bakarnya dengan langkah membalikkan lahan," tegas Hanif. Cara ini nantinya bakal diterapkan untuk menghilangkan praktik membakar dalam land clearing nan tetap banyak dilakukan petani di sejumlah daerah.

Terkait strategi ini, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kalsel, Syamsir Rahman, Jumat (16/10) menyebut ada sekitar 8.500 hektare areal persawahan di Kecamatan Gambut, dengan sisa lahan belum terbakar kurang 1.000 hektare. "Fokus kita adalah membalikkan lahan areal persawahan tersebut. Dengan pengerahan perangkat berat maka petani tidak ada kesempatan membakar lahan, sekaligus membantu petani dalam proses pengolahan lahan pertanian untuk persiapan musim tanam selanjutnya. Jerami tersebut nantinya bakal menjadi kompos dan petani dapat menekan biaya pembelian pupuk kimia nan selama ini kerap jadi kendala," kata Syamsir.

Menjaga Kesuburan Tanah

Strategi membalik lahan pasca panen tidak hanya mencegah kebakaran lahan, tetapi juga memberi untung bagi petani nan terbantu penghematan biaya pengolahan lahan. "Membalik lahan dengan sisa jerami nan ada dan tidak dibakar, juga membikin kesuburan tanah tetap terjaga. Sederhananya jerami bakal menjadi kompos alias pupuk organik. Cara ini justru lebih efektif daripada dengan langkah membakar,' ungkap Emi Risanti, salah seorang Mantri Tani alias penyuluh swadaya di Kecamatan Gambut.

Riza Adrianoor Saputra, akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin menuturkan jerami padi merupakan salah satu limbah pertanian nan belum optimal pemanfaatannya. "Jerami sebagai limbah pertanian seringkali menjadi persoalan bagi petani sehingga seringkali dilakukan pembakaran untuk mengatasi persoalan tersebut. Pembakaran limbah pertanian meningkatkan konsentrasi karbon dioksida di atmosfer sehingga berkontribusi terhadap pemanasan global," tuturnya. 

Pembakaran jerami nan terus menerus pada lahan pertanian dapat menyebabkan peningkatan suhu permukaan tanah dan pencemaran udara sehingga dapat mematikan mikroorganisme nan berfaedah untuk proses biologis tanah, seperti dekomposer bahan organik tanah. "Hal ini dapat menyebabkan kandungan bahan organik di dalam tanah semakin berkurang. Solusi nan dapat dilakukan adalah dengan membikin kompos jerami padi, dimana kompos jerami dapat meningkatkan unsur hara dalam tanah dan mengurangi biaya produksi bagi petani dalam penyediaan pupuk," kata Riza, sembari menyebut pemanfatan jerami sebagai kompos ini mulai diterapkan para petani sejumlah desa di Hulu Sungai Selatan

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑