Stafsus Menag RI Gugun Gumilar sedang memberikan wejangan pada mahasiswa UIN Mataram, Selasa (11/8)/(DOK KEMENAG)
MAHASISWA kudu berani bermimpi besar, mempunyai cita-cita tinggi, serta berani memperjuangkan pendidikan sebagai bekal menghadapi persaingan global. Demikian Staf Khusus Menteri Agama RI, Gugun Gumilar, memotivasi mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram agar lebih maju. Tak lupa, Stafsus Gugun, menyebut bahwa Seskab Teddy Indra Wijaya sebagai <i>role model<p> pemimpin muda Indonesia.
“Seskab Teddy menjadi role model kepimpinan anak anak muda Indonesia. Dia punya leadership, kecederdasan, intelektualitas dan inregritas. Insha Allah, kita doakan beliau menjadi pemimpin Indonesia ke depan”, ujar Gugun.
Gugun juga membujuk para mahasiswa untuk tidak membatasi diri dengan kondisi saat ini. Menurutnya, generasi muda kudu mempunyai keberanian untuk bermimpi sekaligus membangun kapabilitas diri agar bisa mewujudkan cita-cita dan mengambil peran di tingkat global.
“Adik-adik kudu berani bermimpi, berani punya cita-cita besar, dan nan paling krusial berani memperjuangkannya. Pendidikan adalah salah satu jalan untuk mempersiapkan diri agar bisa bersaing, bukan hanya di tingkat nasional, tetapi juga di tingkat global,” ujar Stafsus Menag RI Gugun.
Dia juga menekankan pentingnya perguruan tinggi dalam mempersiapkan human capital nan unggul di tengah perubahan bumi nan semakin cepat. Menurutnya, persaingan ke depan tidak hanya berbincang mengenai teknologi, tetapi juga kualitas manusia, keahlian berpikir, karakter, kreativitas, dan keahlian beradaptasi.
“Kita sedang menghadapi talent war. Negara-negara di bumi berlomba-lomba menciptakan dan mendapatkan talenta terbaik. Karena itu, kampus kudu bisa mempersiapkan human capital nan unggul, berkarakter, adaptif, dan mempunyai daya saing global,” katanya.
Selain penguatan kapabilitas akademik dan keterampilan, Gugun berambisi kampus terus menjadi motor penggerak literasi moderasi beragama. Hal tersebut dapat dilakukan melalui riset, pengabdian kepada masyarakat, pelatihan, hingga integrasi nilai-nilai moderasi berakidah dalam kurikulum dan kehidupan kampus.
Menurutnya, perguruan tinggi keagamaan mempunyai posisi strategis dalam membentuk generasi nan tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga bisa memahami keberagaman, membangun dialog, dan menjadi bagian dari solusi bagi bangsa. “Kampus jangan hanya menjadi tempat untuk mendapatkan ijazah. Kampus kudu menjadi ruang untuk membangun langkah berpikir, memperluas wawasan, mengasah kemampuan, dan melahirkan generasi nan bisa membawa perubahan,” pungkasnya. (Yan)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·