Sosok Nurlaela, Guru SD Korban Kecelakaan Maut Kereta Dikenal Pekerja Keras

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi pascakecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO

Kepergian Nurlaela meninggalkan duka mendalam bagi keluarga. Perempuan berumur 30 tahun itu meninggal bumi dalam kecelakaan maut kereta di Stasiun Bekasi Timur.

Sehari-hari, Nurlaela bekerja sebagai pembimbing di SDN Pulogebang 11, Jakarta Timur. Ia telah mengabdi selama tujuh tahun mendidik anak-anak di sana.

Pada malam kecelakaan, Senin (27/4), family sangat resah setelah mendapat berita KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek bertabrakan. Mereka berupaya menghubungi Nurlaela, namun ibu satu anak itu tidak menjawab. Dari kembali telepon, terdengar bunyi orang lain nan menjawab panggilan tersebut—ia mengaku sebagai petugas kereta api.

Sang paman, Mulyadi, langsung bergerak menuju Stasiun Bekasi Timur.

“Dijemput ke sana, rupanya sudah meninggal. Sampai rumah duka sekitar jam tiga pagi,” kata Mulyadi nan tak bisa menyembunyikan kesedihan.

Nurlaela, pembimbing SD nan menjadi korban kecelakaan kereta di Bekasi Timur. Foto: Dok. kumparan

Menurut keluarga, Nurlaela mengalami patah kaki akibat tumbukan keras.

Sosok Pekerja Keras

Di mata keluarga, Nurlaela dikenal sebagai sosok pekerja keras, pendiam, dan sepenuhnya mendedikasikan diri pada pekerjaannya.

Tiga bulan sebelum wafat, dia baru saja menyelesaikan pendidikan S2 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), sebuah pencapaian nan menjadi kebanggaan keluarga.

“Dia pekerja nan ulet, enggak banyak bicara, betul-betul pekerja keras,” kata Mulyadi.

Selain menjadi guru, Nurlaela juga dipercaya mengemban tugas tambahan sebagai bendaharawan sekolah dan pengelola perpustakaan. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, terutama bagi putra semata wayangnya nan sekarang duduk di bangku kelas VI SD.

Prosesi pemakaman berjalan dalam suasana haru. Isak tangis mengiringi langkah family dan kerabat menuju peristirahatan terakhir almarhumah.

Bagi penduduk sekitar, Nurlaela dikenang bukan hanya sebagai guru, tetapi juga sebagai simbol ketekunan seorang wanita nan meniti masa depan lewat pendidikan, namun kudu terhenti di perjalanan pulang.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan