Sosiolog: Solusi Tawuran Bukan Razia, Akar Masalahnya Ada di Keluarga dan Pendidikan

Sedang Trending 2 hari yang lalu
 Solusi Tawuran Bukan Razia, Akar Masalahnya Ada di Keluarga dan Pendidikan ilustrasi tawur(dok.MI)

MARAKNYA tawur yang tetap terjadi di sejumlah wilayah Jakarta dinilai tidak bisa diselesaikan hanya melalui pendekatan penegakan hukum. Persoalan tersebut berakar pada masalah nan lebih mendasar, ialah pembentukan nilai dan karakter di lingkungan keluarga serta lembaga pendidikan. Sosiolog Nia Elvina mengatakan tawur merupakan gambaran dari persoalan sosial nan berkembang dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak.

Karena itu, upaya pencegahan kudu dimulai dari penguatan peran family dan sekolah dalam menanamkan nilai-nilai sosial kepada generasi muda. “Permasalahan tawur berakar dari ranah nilai alias didikan. Didikan dari family dan lembaga pendidikan,” kata Nia, Sabtu (14/6).

Namun, menurutnya, penguatan kegunaan family dan pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kondisi ekonomi masyarakat. Nia menjelaskan, stabilitas ekonomi menjadi fondasi krusial agar orang tua mempunyai ruang dan waktu nan cukup untuk menjalankan kegunaan pengasuhan.

Tanpa kondisi ekonomi nan memadai, perhatian family lebih banyak tersita untuk memperkuat hidup dibandingkan melakukan pembinaan terhadap anak-anak mereka. “Supaya didikan dari family dan lembaga pendidikan bisa optimal, jika dasar ekonomi family sudah kuat,” ujarnya.

Karena itu, dia menilai penanganan tawur perlu dilakukan secara komprehensif, tidak hanya berfokus pada pelaku alias letak kejadian, tetapi juga menyentuh persoalan kesejahteraan masyarakat nan menjadi akar masalah.

“Jika konsentrasi orang tua alias masyarakat tetap pada ranah gimana memenuhi kebutuhan untuk hidup, maka saya kira urusan tawur akan susah untuk diminimalisir alias dieliminir dalam masyarakat,” tegasnya.

Nia menambahkan, kebijakan pencegahan tawur perlu disertai penguatan program kesejahteraan keluarga, peningkatan kualitas pendidikan, serta penyediaan ruang-ruang aktivitas positif bagi remaja. Tanpa pembenahan pada aspek tersebut, tawur berpotensi terus berulang meski abdi negara melakukan beragam langkah penindakan. (Far/P-3) 

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia