Jakarta, CNN Indonesia --
Kementerian Agama mengungkap argumen 1 Muharram 1448 H jatuh pada hari ini, Selasa (16/6). Keputusan ini berbeda dengan Nadhlatul Ulama (NU) nan memutuskan 1 Muharram 1448 H jatu besok, Rabu (17/6).
Dilansir dari Detikcom, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag Arsad Hidayat mengatakan bulansabit awal Muharam sudah memenuhi kriteria imkanur rukyat Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura alias MABIMS.
Menurutnya berasas hasil kalkulasi pada 15 Juni 2026, tinggi bulansabit awal Muharam 1448 H saat mentari terbenam berada pada rentang 0,92 derajat di Merauke hingga 4,02 derajat di Sabang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara, perspektif elongasinya berkisar antara 5,64 derajat hingga 6,98 derajat.
"Dengan parameter tersebut, sebagian besar wilayah Indonesia telah memenuhi kriteria minimum MABIMS. Sehingga awal Muharam 1448 H jatuh pada hari Selasa, 16 Juni 2026," kata Arsad, Selasa (16/6).
Kriteria MABIMS menurutnya juga digunakan dalam penyusunan almanak hijriah Indonesia dan disusun berbareng master falak.
Terkait perbedaan dengan NU, Kemenag menghormati keputusan PBNU nan menetapkan awal Muharam jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026. Keputusan itu diambil setelah PBNU melakukan rukyatul bulansabit dan menyatakan bulansabit tidak terlihat.
"Menghormati keputusan PBNU," ujar Kepala Biro Hubungan Masyarakat (Humas) dan Komunikasi Publik, Thobib Al Asyhar.
Sementara itu Kepala Subdirektorat Hisab Rukyat dan Syariah Ismail Fahmi menjelaskan terdapat beberapa pendekatan dalam penentuan awal bulan kamariah ialah rukyatulhilal, wujudul hilal, dan imkanur rukyat.
Menurutnya, metode imkanur rukyat nan menjembatani pendekatan observasi dan kalkulasi astronomi melalui kriteria berasas kajian info rukyat jangka panjang serta kalkulasi hisab dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
"Karena itu, ketika cuaca tidak mendukung pengamatan, info hisab tetap memberikan info nan jeli mengenai posisi bulansabit dan menjadi bagian krusial dalam penyusunan almanak hijriah," katanya.
Dia mengatakan kejadian bulansabit tidak terlihat akibat mendung merupakan perihal nan lazim. Kondisi tersebut, katanya, tak mengurangi validitas info astronomi nan menunjukkan posisi bulansabit telah berada pada parameter nan ditetapkan.
Sebelumnya Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengumumkan 1 Muharam 1448 H jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026. PBNU menetapkan perihal tersebut lantaran bulansabit belum terlihat kemarin.
Karena itu bulan Zulhijah digenapkan jadi 30 hari dan 1 Muharram 1448 H diputuskan jatuh pada besok hari.
"Sebagai tidak lanjutnya, maka awal bulan Muharam 1448 H bertepatan dengan Rabu Kliwon 17 Juni 2026 M (mulai malam Rabu) atas dasar istikmal," demikian pernyataan NU.
(tim/sur)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·