Songket dan Suntiang Jadi Inspirasi, Budaya Minangkabau Didorong Masuk Industri Kreatif

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Songket dan Suntiang Jadi Inspirasi, Budaya Minangkabau Didorong Masuk Industri Kreatif Ilustrasi(Dok Istimewa)

Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya menjadi momentum mengenang perjalanan bangsa, tetapi juga ruang untuk memperkuat apresiasi terhadap kekayaan budaya Nusantara. Semangat tersebut turut diwujudkan melalui penemuan industri imajinatif nan mengemas warisan tradisi dalam produk nan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Salah satunya dilakukan jenama lokal Saskara melalui koleksi terbaru berjudul Bungo Ameh, nan mengangkat keelokan budaya Sumatera Barat. Koleksi ini menjadi bagian dari perjalanan Koleksi Nusantara nan secara konsisten memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui kreasi perlengkapan ibadah untuk wanita dan laki-laki.

Konseptor sekaligus desainer Saskara Andya Kartika mengatakan Bungo Ameh berasal dari bahasa Minang nan berfaedah Bunga Emas. Nama tersebut merepresentasikan keindahan, kemuliaan, dan nilai luhur nan telah lama melekat dalam budaya Minangkabau.

“Bungo Ameh terinspirasi dari kemegahan Mahkota Suntiang dan keelokan motif kain Songket unik Sumatera Barat. Susunan ornamen kembang nan berkilau pada mahkota suntiang serta motif songket nan sarat makna kami padukan untuk menghadirkan koleksi nan tidak hanya indah, tetapi juga kaya nilai budaya,” ujar Andya, Selasa (18/8/2026).

Menurut dia, pengembangan produk berbasis budaya menjadi salah satu langkah untuk menjaga warisan Nusantara tetap relevan di tengah perubahan style hidup masyarakat. Tradisi tidak hanya ditempatkan sebagai bagian dari sejarah, tetapi dapat dihadirkan dalam produk sehari-hari dengan pendekatan kreasi lebih modern.

Dalam budaya Minangkabau, songket kerap digunakan dalam beragam peristiwa dan seremoni krusial serta sakral. Melalui Bungo Ameh, komponen motif songket dan kembang pada mahkota suntiang diterjemahkan ke dalam perlengkapan ibadah nan memadukan nilai Islam, tradisi, dan seni tenun Sumatera Barat.

Koleksi tersebut juga mengambil inspirasi dari falsafah masyarakat Minangkabau, “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”, nan berarti budaya berdasarkan hukum dan hukum berdasarkan Kitabullah alias Alquran.

“Falsafah ini mencerminkan keselarasan antara budaya dan aliran Islam, sejalan dengan tujuan Koleksi Nusantara sekaligus dedikasi SASKARA menghadirkan perlengkapan ibadah nan layak untuk menghadap kepada Sang Maha Kuasa,” lanjut Andya.

Bungo Ameh tersedia dalam enam pilihan warna. Lini wanita mencakup prayer set nan terdiri dari mukena, sajadah, dan pouch, serta hijab. Sementara lini laki-laki menghadirkan sarung dengan kreasi nan dibuat senada.

Untuk mukena, Saskara menggunakan material satin silk halus, lembut, dan tidak mudah kusut. Koleksi itu juga dilengkapi sajadah fungsional serta dirancang dalam ukuran ringkas sehingga praktis dibawa bepergian.
Kehadiran koleksi ini memperlihatkan gimana kekayaan budaya wilayah bisa menjadi bagian dari perkembangan industri imajinatif nasional. 

Warisan seperti songket dan suntiang tidak hanya dipertahankan sebagai simbol tradisi, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk berbobot tambah nan mempunyai relevansi dengan kebutuhan masyarakat modern.
Sejak berdiri pada 2018, Saskara konsisten mengangkat kekayaan budaya dan pesona Nusantara melalui koleksi-koleksinya. Bungo Ameh menjadi kelanjutan dari misi tersebut, ialah merayakan warisan budaya dan keelokan beragam wilayah Indonesia sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat luas.

Langkah ini juga sejalan dengan semangat lokal to global, ketika kekayaan budaya Indonesia tidak berakhir sebagai identitas daerah, tetapi mempunyai kesempatan untuk dikemas menjadi karya imajinatif nan dapat dikenal lebih luas, termasuk di pasar internasional. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia