Smelter Nikel RI Terancam, Pasokan Sulfur Makin Tipis Gegara Perang

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketergantungan terhadap impor sulfur mulai menakut-nakuti keberlangsungan industri hilirisasi nikel dalam negeri. Pasalnya, gangguan rantai pasok global, terutama dari area Timur Tengah, berpotensi mengganggu operasional pabrik pengolahan nikel berbasis hidrometalurgi.

Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdana Kusumah mengungkapkan sekitar 75-80% kebutuhan impor sulfur Indonesia pada 2025 berasal dari Timur Tengah. Adapun dari total sekitar 5,3 juta ton impor, porsi terbesar disuplai oleh negara-negara di area tersebut.

"Pasokan nan sangat terkonsentrasi ini, setelah penutupan Selat Hormuz, mengakibatkan terganggunya apalagi bakal terputusnya sumber bahan baku utama untuk refinery HPAL di Indonesia," ungkapnya kepada CNBC Indonesia, dikutip Senin (27/4/2026).

Arif menjelaskan, sulfur merupakan komponen krusial dalam industri hilirisasi nikel, khususnya untuk memproduksi masam sulfat nan digunakan dalam proses pelindian (leaching) pada akomodasi pengolahan berbasis High Pressure Acid Leaching (HPAL).

"Produksi MHP (Mixed Hydroxide Precipitate) battery grade nickel dengan menggunakan teknologi HPAL nan sangat berjuntai pada masam sulfat," katanya.

Dari sisi kebutuhan, industri memerlukan sekitar 10-12 ton sulfur untuk menghasilkan 1 ton nikel dalam corak MHP. Hal ini menjadikan sulfur sebagai salah satu komponen biaya terbesar dalam proses produksi HPAL.

"Sebagai negara produsen terbesar untuk material nikel-kobalt (MHP) dari proyek-proyek HPAL, Indonesia sangat berjuntai pada impor sulfur dari Timur Tengah," katanya.

Sebagaimana diketahui, pemerintah mulai mewaspadai potensi gangguan pada rantai pasok sulfur nan dapat berakibat pada program hilirisasi nikel.

Hal tersebut diketahui setelah Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan berjumpa Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara.

Dalam pertemuan tersebut, Luhut menyampaikan sejumlah perkembangan terkini, termasuk akibat dari bentrok dunia nan berpotensi berkepanjangan terhadap sektor daya dan komoditas strategis.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya @luhut.pandjaitan, dia menyampaikan bahwa dalam tiga bulan ke depan, pertumbuhan dan aktivitas ekonomi Indonesia tetap relatif terjaga.

Namun demikian, pemerintah telah menyiapkan skenario untuk mengantisipasi beragam kemungkinan guna menghadapi situasi dunia nan semakin memburuk.

"Terutama jika bentrok dunia ini berjalan lebih lama dari nan kita perkirakan. Salah satu nan kami cermati adalah lonjakan nilai energi," terang Luhut, dikutip Kamis (23/4/2026).

Selain itu, pemerintah juga mencermati potensi gangguan rantai pasok komoditas krusial lainnya, terutama sulfur. Luhut menilai, komoditas ini mempunyai peran krusial dalam proses hilirisasi nikel serta pengembangan baterai kendaraan listrik di Indonesia.

"Selain energi, kami juga mencermati gangguan rantai pasok komoditas strategis lainnya; seperti sulfur nan krusial bagi hilirisasi nikel dan baterai kendaraan listrik," ujarnya.

(wia)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News