Badan Geologi: Struktur Geologi Rumit Perparah Dampak Gempa Sulteng

Sedang Trending 1 jam yang lalu
 Struktur Geologi Rumit Perparah Dampak Gempa Sulteng Bangunan runtuh terdampak gempa Sulteng.(Dok. Antara)

BADAN Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM) mengungkapkan bahwa karakter struktur geologi nan kompleks serta kondisi litologi tanah nan lunak menjadi aspek utama nan memperparah akibat kerusakan akibat gempa tektonik di Sulawesi Tengah (Sulteng).

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa kompleksitas pengetahuan bumi di letak terdampak telah memicu deformasi permukaan tanah nan masif. Hal ini disampaikan dalam konvensi pers kajian gempa bumi Sulawesi Tengah di Jakarta, Jumat (19/6/2026).

"Kejadian gempa utama nan diikuti banyaknya gempa susulan menunjukkan kondisi pengetahuan bumi nan rumit dengan jenis litologi nan beragam. Kedekatan episenter dengan permukiman dan kondisi tanah nan lunak mengamplifikasi pengaruh guncangan," ujar Lana.

Analisis Teknis dan Fenomena Alam

Guncangan gempa bermagnitudo 6,7 nan terjadi pada Selasa (16/6) tersebut mengakibatkan beragam kerusakan serius, mulai dari kerusakan struktural bangunan, retakan tanah, penurunan lahan (land subsidence), hingga longsoran akibat ketidakstabilan lereng di Gunung Kamarora.

Selain kerusakan fisik, tim mahir di lapangan berbareng masyarakat juga mengidentifikasi kejadian surutnya air laut di area Teluk Palu sesaat setelah gempa. Fenomena ini tetap memerlukan kajian lanjutan untuk memastikan penyebabnya.

Badan Geologi juga menyoroti kumpulan gempa susulan nan terjadi secara konstan, nan dinilai menyerupai karakter gempa swarm. Perubahan tegangan (stress) pasca-gempa utama diduga ikut memengaruhi sesar-sesar aktif lain di sekitarnya.

Faktor Pemicu Kerusakan:

  • Struktur pengetahuan bumi nan rumit dan litologi beragam.
  • Kondisi tanah lunak nan memperkuat (amplifikasi) guncangan.
  • Topografi lereng curam pada lapisan tanah tidak kompak (jalur logistik Napu).
  • Kedekatan pusat gempa (episenter) dengan area permukiman.

Data Korban dan Kerusakan Infrastruktur

Berdasarkan info Pusat Pengendalian Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Kamis (18/6) pukul 13.51 WIB, tercatat tiga orang meninggal dunia, 17 orang luka berat, dan 91 orang luka ringan. Korban meninggal bumi teridentifikasi berada di Desa Ampera (Kecamatan Palolo) dan Desa Kamarora A (Kecamatan Nokilalaki), Kabupaten Sigi.

Dampak kumulatif musibah ini melanda sedikitnya 2.109 Kepala Keluarga (KK) alias setara 6.412 jiwa nan tersebar di Kabupaten Sigi, Palu, dan Parigi Moutong. Kabupaten Sigi menjadi wilayah terdampak paling parah dengan 1.991 KK alias 6.418 jiwa terdampak.

Kerusakan prasarana bentuk mencakup:

Jenis Kerusakan Jumlah
Rumah Rusak Ringan 1.456
Rumah Rusak Sedang 112
Rumah Rusak Berat 47
Fasilitas Publik (Ibadah, Sekolah, Kantor) 56

Atas beragam akibat tersebut, Badan Geologi menekankan pentingnya penataan ruang dan mitigasi musibah berbasis kondisi pengetahuan bumi setempat. "Berbagai akibat nan muncul menunjukkan pentingnya mitigasi berbasis kondisi pengetahuan bumi untuk mengurangi akibat pada kejadian serupa di masa mendatang," pungkas Lana. (Ant/H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia