Sebelumnya, skandal dugaan pemalsuan riset menyeret nama Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Dua peneliti asal Indonesia dari UNY disebut-sebut melakukan pemalsuan riset, apalagi dipresentasikan di forum internasional.
Dua peneliti tersebut atas nama Rifaldy Putra dan Prihartini, keduanya mepresentasikan penelitiannya di Kopenhagen, Denmark pada 17 hingga 21 Mei 2026 lalu. Terkait perihal ini, Wakil Rektor Bidang Akademik UNY, Prof Nur Hidayanto angkat bicara. Nur Hidayanto mengatakan, saat ini pihaknya tetap melakukan penelusuran tentang dua nama nan ramai diperbincangkan di media sosial ini.
Nur Hidayanto membeberkan dua nama ialah Rifaldy Putra dan Prihartini memang tercatat di database sebagai alumni UNY.
"Dua nama ialah Rifaldy Fajar dan Prihartini, dua nama itu memang ada di database (alumni) kami. Rifaldy merupakan mahasiswa Matematika tahun 2014 dan Prihartini mahasiswa Matematika tahun 2015," kata Nur Hidayanto, Selasa (26/5/2026).
Tercatat sebagai Mahasiswa ITB
Sementara itu, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB, Aep Patah, mengakui bahwa Prihantini merupakan alumni program Magister FMIPA ITB angkatan 2020 dan telah menyelesaikan studinya pada 2022. Saat menempuh pendidikan magister di ITB, Prihantini diketahui menyusun tesis berjudul “Kajian Analitik Gelombang Air Akibat Longsoran pada Pantai Miring”.
Aep mengatakan, pihak kampus prihatin atas dugaan tindakan fraud alias manipulasi riset nan dilakukan Prihantini dalam forum internasional.
"ITB menyampaikan keprihatinan atas sorotan dan perbincangan publik terhadap tindakan Prihantini nan diduga melakukan fraud alias manipulasi riset dalam sebuah konvensi internasional,” kata Aep dalam keterangan nan diterima, Kamis (28/5/2026).
Namun demikian, ITB menegaskan materi nan dipresentasikan Prihantini dalam konvensi internasional tersebut tidak berangkaian dengan tesis maupun aktivitas akademik di lingkungan kampus.
"Materi nan dipresentasikan nan berkepentingan dalam konvensi internasional tersebut tidak berangkaian dengan tesis maupun aktivitas akademik di ITB," ujar Aep.
ITB juga menyatakan dugaan tindakan pemalsuan riset tersebut mempunyai akibat norma andaikan terbukti benar. Kampus, lanjut Aep, bakal menghormati setiap proses norma nan mungkin ditempuh mengenai kasus tersebut.
"Jika terdapat proses norma atas tindakan tersebut, maka ITB sangat menghormati upaya norma dimaksud," katanya.
ITB menegaskan komitmennya untuk terus menjaga dan memperkuat budaya akademik nan menjunjung tinggi integritas, khususnya dalam aktivitas penelitian ilmiah.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·