, JEMBRANA, – Sistem koperasi nan menaungi ratusan petani kakao di Kabupaten Jembrana, Bali, terbukti bisa menstabilkan nilai panen dan memberikan pendampingan komprehensif. Hal ini membikin komoditas pertanian tersebut semakin berkekuatan saing, apalagi menembus pasar internasional.
Ketut Sudomo, seorang petani kakao di Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya, mengungkapkan bahwa stabilitas nilai dari koperasi menjadi fondasi krusial bagi petani. "Harga nan stabil tidak hanya menambah penghasilan kami, tapi juga bisa menjadi dasar kalkulasi kami untuk menanam dan merawat pohon kakao," katanya saat menerima kunjungan awak media nan mengikuti program Accelerating Consumer Transformation (ACT) and Sustainability in Indonesia, Kamis.
Ia menambahkan, pendampingan dari Koperasi Kerta Semaya Samaniya dan Yayasan Kalimajari tidak hanya meningkatkan kualitas biji kakao, tetapi juga volume panen. Dengan lahan seluas tiga hektare, dia bisa menghasilkan lebih dari 1 ton biji kakao kering setiap tahunnya, sebuah capaian nan signifikan untuk menopang perekonomian keluarga.
"Saat nilai bagus seperti pada tahun 2024 dan 2025, hasil panen saya cukup besar. Dengan nilai nan stabil dari koperasi, otomatis penghasilan saya sebagai petani juga lumayan besar," ujar petani nan kerap menjadi rujukan di Kabupaten Jembrana itu.
Pendampingan Hulu ke Hilir
Direktur Kalimajari, Agung Widiastuti, dan Ketua Koperasi Kerta Semaya Samaniya, I Ketut Wiadnyana, menjelaskan bahwa kunci keberhasilan produksi kakao personil koperasi terletak pada pendampingan nan utuh dan instan. Pendampingan dilakukan mulai dari pemilihan bibit, proses penanaman, perawatan, hingga panen.
"Bibit kakao nan ditanam kami sesuaikan dengan kondisi tanah nan bisa jadi berbeda-beda. Kami juga mengajari petani melakukan treatment terhadap lahannya, agar sesuai dengan kebutuhan pohon kakao," kata Widiastuti. Untuk memastikan perihal tersebut, pihaknya mengambil contoh tanah untuk diuji di laboratorium guna mengetahui perincian kandungan tanah dan menentukan treatment nan tepat.
Guna mendapatkan kakao berbobot nan memenuhi standar internasional, petani bimbingan menerapkan sistem pertanian organik. "Dari proses nan konsisten, kakao fermentasi Jembrana diakui merupakan salah satu nan terbaik di dunia. Kami sudah acapkali mengekspor komoditas pertanian ini," tegas Wiadnyana.
Proses Fermentasi dan Ekspor
Saat ini, terdapat 750 petani kakao nan berasosiasi dalam koperasi tersebut, semuanya mendapatkan pendampingan dari petugas koperasi. Berorientasi pada pengolahan kakao fermentasi untuk ekspor, proses pemilahan dilakukan sangat ketat, mulai dari panen hingga pengambilan biji.
"Buah kakao nan tidak sehat alias terkontaminasi (benih)penyakit kami pisahkan dari buah nan sehat. Saat pengambilan biji, juga dicek lagi agar mendapatkan biji kakao nan betul-betul baik," jelasnya. Biji kakao nan telah dipilah kemudian dibawa ke letak fermentasi koperasi untuk diproses dan dipasarkan.
Terobosan dan pendampingan nan diakui bumi internasional ini menjadikan Koperasi Kerta Semaya Samaniya dan Yayasan Kalimajari sebagai rujukan utama komoditas kakao di Kabupaten Jembrana. Pola koperasi nan mengawal petani dari hulu sampai hilir ini pun menarik perhatian banyak pihak, termasuk konsorsium nan berasosiasi dalam program Accelerating Consumer Transformation (ACT) and Sustainability in Indonesia nan didukung oleh Uni Eropa. Melalui program tersebut, mereka mendorong transformasi pola konsumsi konsumen Indonesia agar lebih sadar bakal akibat lingkungan, ekonomi, dan sosial.
Konten ini diolah dengan support AI.
sumber : antara
59 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·