Liputan6.com, Jakarta - Sosok wanita memanggul tas cokelat di tengah lautan demonstran mencuri perhatian. Sebuah kantong plastik besar berwarna hitam dibawanya. Matanya menyapu jalanan, mencari sampah nan tersisa setelah massa beraksi.
Dia adalah Sisi. Datang berama suaminya, Reza. Keduanya berbagi peran. Membersihkan letak dan menyediakan logistik untuk peserta aksi. Sisi menyusuri ruas jalan Gatot Subroto menuju ke Gedung DPR/MPR, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2026).
“Saya sama suami, tapi suami lagi ambil logistik support lagi di mobil,” kata Sisi saat ditemui.
Pembagian peran itu dilakukan lantaran mereka kudu berpencar. Reza sebelumnya membeli delapan dus makanan dan minuman, termasuk wafer untuk dibawa kepada peserta aksi.
Sementara Sisi memilih pekerjaan nan menurutnya paling bisa dilakukan di letak ialah memungut sampah.
“Yang pertama saya sepakat dengan apa nan disuarain oleh penduduk sama masyarakat sipil. Dan part nan paling bisa saya bantu paling maksimal ini saya bisa bersihin jalanan biar pasukan orange setelah ini enggak terlalu berat kerjanya,” ujarnya.
Suami Sisi juga membantu menyediakan makanan dan minuman. Bagi Sisi, support terhadap demonstrasi tidak kudu selalu diwujudkan dengan berdiri membawa poster alias menyampaikan tuntutan.
Ia memilih mengambil bagian lain ialah memastikan jalanan kembali bersih dan peserta tindakan mendapat kebutuhan dasar. Ia tidak mau demonstrasi selalu dilekatkan dengan kerusuhan dan sampah.
“Aksi demonstrasi itu adalah sebuah tindakan nan dilindungi oleh undang-undang. Jadi semuanya kudu terlindungi, semuanya aman,” kata dia.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334355/original/086651100_1787835480-IMG_7301.jpg)
Perbesar
“Saya enggak mau ada stigma demo itu bikin rusuh, demo itu bikin kotor, demo itu bikin orang pingsan kepanasan alias kehausan. Jadi saya rasa ini nan paling bisa saya bantu," sambungnya.
Sisi tinggal di Jakarta Selatan. Ia datang setelah menyelesaikan pekerjaannya pukul 13.30 WIB. Perjalanan menuju area DPR MPR tidak mudah. Sejumlah jalan ditutup sehingga dia kesulitan mencari akses.
Sampai di area aksi, dia baru bisa masuk melalui Spark. Akses dari tempat lain sudah ditutup. Karena itu, kantong plastik nan dibawanya baru mulai terisi setelah dia sukses mencapai lokasi.
Ini bukan kali pertama Sisi berada di tengah tindakan demonstrasi. Pada Agustus tahun lalu, dia juga datang ke tempat nan sama. Bedanya, saat itu dia lebih banyak ikut menyuarakan aspirasi sebagai massa aksi.
Tahun ini perannya berubah. Ia dan Reza datang dengan pembagian tugas nan lebih jelas. Sisi membersihkan jalan. Reza mengupayakan logistik sampai ke lokasi.
Keputusan itu juga berfaedah mereka bersedia berada di tengah situasi nan mempunyai risiko. Kemungkinan terkena akibat kericuhan apalagi sudah mereka bicarakan sebelum datang.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334356/original/095965700_1787835482-IMG_7310.jpg)
Perbesar
“Sudah pernah ngobrol sama suami, sudah sepakat, selama ngebela nan betul dan halal, jika salah satu dari kita sakit alias kenapa-kenapa, ya enggak apa-apa,” kata Sisi.
Bagi Sisi, membantu tindakan semacam itu bukan sesuatu nan baru muncul tahun ini. Ia menyebutnya sebagai bagian dari sikapnya sebagai penduduk negara.
“Dari dulu, dari saya lahir jadi WNI. Kalau saya bisa bantu apa pun, saya bantu apa pun, asalkan itu benar,” terang Sisi.
Bagi Sisi, nan terpenting adalah aspirasi masyarakat nan mau didengar. Ia mengatakan kemauan itu sudah berjalan sejak lama. Harapannya ada tanggapan dan ruang untuk duduk bersama.
“Dari dulu semua sama, hanya pengen didengar dan ditanggapi. Itu aja enggak pernah dapat. Kita enggak pernah ada sit down, duduk berbareng dengan nan berwajib, nan punya jabatan. Itu aja,” pungkasnya.
Baca buletin terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·