Ilustrasi(Unsplash)
PERUBAHAN iklim dunia bukan lagi sekadar prediksi masa depan, melainkan ancaman mematikan nan sedang terjadi saat ini. Sebuah studi terbaru nan dipublikasikan dalam jurnal Current Biology mengungkapkan kebenaran mengerikan mengenai akibat cuaca ekstrem terhadap satwa liar di Indonesia. Siklon Senyar, sebuah siklon tropis langka nan dipicu oleh perubahan iklim, dilaporkan telah memusnahkan sekitar 7% dari total populasi orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), hanya dalam waktu empat hari.
Orangutan Tapanuli, nan baru diidentifikasi sebagai jenis terpisah pada 2017, merupakan satwa endemik nan hanya hidup di ekosistem Hutan Batang Toru, Sumatra Utara. Berdasarkan info tahun 2019, seluruh jenis ini diperkirakan hanya tersisa 767 individu, dengan 581 di antaranya mendiami wilayah Blok Barat forest area tersebut.
Ketika Siklon Senyar menerjang, angin besar ini membawa curah hujan ekstrem nan mencapai lebih dari 500 milimeter dalam beberapa hari. Curah hujan nan masif ini memicu musibah tanah longsor luar biasa di area seluas 8.303 hektare nan menjadi kediaman utama monyet besar ini. Para peneliti sukses mengidentifikasi lebih dari 50.000 titik longsor alias "luka" pada lanskap rimba nan menyebabkan runtuhnya kanopi pohon secara mendadak. Akibatnya, sekitar 58 ekor orangutan Tapanuli diperkirakan tewas lantaran tertimbun hidup-hidup, mengalami trauma tumbukan dari pohon nan tumbang, alias tenggelam akibat aliran puing-puing tanah.
Para intelektual nan terlibat dalam penelitian ini menyampaikan peringatan keras mengenai situasi darurat ini.
"Mengingat tingginya kepadatan longsor di lereng curam nan menyebabkan runtuhnya kanopi dan aliran puing ke jaringan drainase, serta terbatasnya kesempatan untuk melarikan diri melalui pepohonan selama keruntuhan lereng nan cepat, kami menganggap kematian akibat tertimbun, trauma, alias tenggelam setelahnya sangat mungkin terjadi."
Kehilangan ini menjadi pukulan telak bagi keberlangsungan hidup jenis tersebut. Orangutan dikenal mempunyai siklus reproduksi nan sangat lambat, di mana monyet betina hanya melahirkan satu kali setiap enam hingga sembilan tahun. Karakteristik biologis ini membikin mereka sangat rentan dan susah pulih dari penurunan populasi nan terjadi secara mendadak.
Selain kematian langsung, kerusakan jangka panjang pada lapisan tanah atas (topsoil) juga menakut-nakuti pasokan makanan bagi orangutan nan selamat. Karena jaringan jamur pemberi makan tumbuhan ikut hancur, para mahir memperkirakan butuh waktu lima hingga sepuluh tahun agar pohon buah dan dedaunan dapat tumbuh kembali. Kondisi ini memaksa kera-kera besar nan tersisa untuk beranjak ke area dataran tinggi nan miskin makanan alias wilayah rimba nan lebih sempit, nan pada akhirnya meningkatkan kejuaraan internal dan akibat kematian di masa mendatang.
Ancaman kepunahan akibat cuaca ekstrem ini selaras dengan laporan mendalam mengenai akibat kerusakan kediaman satwa di Indonesia nan dapat Anda saksikan dalam liputan WION Climate Tracker mengenai Ancaman Perubahan Iklim terhadap Kera Besar. Video ini memberikan gambaran visual nan jelas mengenai gimana pemanasan dunia mempercepat kepunahan jenis paling rentan di bumi melalui musibah alam nan semakin intens. (CNN/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·