Di sebuah rumah sederhana di area Jalur Hijau, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, anak-anak berkumpul untuk belajar setiap Jumat dan Sabtu sore.
Rumah itu bukan sekolah formal. Tak ada meja belajar nan cukup untuk menampung seluruh siswa. Ruangannya pun terbatas. Namun, bagi puluhan anak nan datang ke sana, rumah tersebut menjadi tempat untuk mendapatkan pelajaran tambahan sekaligus ruang untuk bertumbuh.
Tempat itu berjulukan Sikkola Rakyat.
Sikkola Rakyat merupakan rumah belajar nan dibentuk oleh mahasiswa untuk membantu anak-anak dari family kurang mampu. Nama "Sikkola" berasal dari bahasa Batak nan berfaedah sekolah.
Sikkola Rakyat dibentuk pada 2022, berasal dari keresahan para mahasiswa memandang minimnya akses pendidikan di desa nan ada di Porsea, Kabupaten Toba. Keresahan itu kemudian mendorong mereka untuk bergerak dan membentuk rumah belajar bagi anak-anak.
Kini, Sikkola Rakyat datang di tiga lokasi, ialah Jalan Starban, Medan Polonia; Jalur Hijau, Kecamatan Percut Sei Tuan; dan Bandar Khalipah, Kecamatan Percut Sei Tuan.
Di letak Jalur Hijau, sekitar 25 anak dari tingkat SD hingga SMP mengikuti pembelajaran. Mereka tidak dipungut biaya untuk belajar.
Anak-anak tersebut datang dengan latar belakang nan beragam. Sebagian berasal dari family nan mempunyai keterbatasan ekonomi. Bahkan, ada anak nan kudu membantu orang tuanya mengupas bawang sebelum datang ke tempat belajar.
"Iya betul (keluarga kurang mampu). Karena salah satu dari ekonomi masyarakat ini tetap mengupas bawang. Jadi, di saat mereka mau belajar, mereka kudu kupas bawang dulu nih sebelum ke les gitu. Jadi, terkadang kami juga ikut juga bantu orang tuanya untuk anak-anaknya biar sigap selesai," ucap Albert.
Albert Danuarta Butarbutar (20), Kepala Rumah Belajar Sikkola Rakyat, mengatakan mengajar anak-anak dengan latar belakang berbeda bukan perkara mudah. Namun, kondisi tersebut justru menjadi tantangan bagi para relawan untuk tetap mendampingi mereka.
"Dalam mengajari anak-anak itu banyak. Tetapi kami tetap menunjukkan kualitas kami, di mana bisa membimbing, membujuk mereka. Ada dari anak-anak nan bandel dan tidak mendapatkan kasih sayang orang tuanya, lantaran orang tuanya jauh dari dia gitu, kami juga merangkul mereka," kata Albert saat ditemui di Sikkola Rakyat, Selasa (15/9).
Tiga Kelas untuk Anak-anak
Sikkola Rakyat membagi pembelajaran ke dalam tiga kelas berasas tingkat keahlian dan jenjang pendidikan.
Kelas pertama adalah kelas pondasi untuk anak kelas 0 hingga kelas 2 SD. Berikutnya, kelas intermediate alias kelas menengah untuk anak kelas 3 hingga kelas 5 SD. Sementara kelas advance alias kelas atas diperuntukkan bagi siswa kelas 6 SD hingga SMP.
Pembagian itu menjadi krusial lantaran para relawan menemukan tetap ada anak SD nan belum mendapatkan pembelajaran secara maksimal. Bahkan, beberapa di antaranya belum bisa membaca.
Sikkola Rakyat kemudian menjadi tempat bagi mereka untuk mendapatkan pelajaran tambahan di luar sekolah.
Untuk menemukan siswa, para relawan mendatangi dan mencari anak-anak nan berasal dari family kurang mampu. Mereka kemudian membujuk anak-anak tersebut untuk belajar tanpa dipungut biaya.
Setiap Jumat dan Sabtu, pembelajaran dimulai pukul 14.30 WIB.
Antusiasme anak-anak untuk datang belajar cukup tinggi. Mereka tetap datang meski akomodasi rumah belajar tersebut tetap terbatas.
Rumah nan digunakan sebagai tempat belajar merupakan rumah sewa dengan biaya Rp6 juta per tahun. Di dalamnya, anak-anak tetap belajar tanpa meja dan kudu berbagi ruang belajar nan terbatas.
Keterbatasan akomodasi tidak membikin aktivitas belajar berhenti. Bahkan, Sikkola Rakyat pernah menerima anak penyandang disabilitas untuk ikut belajar. Namun, anak tersebut sekarang tidak lagi mengikuti pembelajaran setelah rumahnya digusur.
Para orang tua juga menyambut baik keberadaan rumah belajar tersebut.
Bertahan dari Donasi
Sejak dibentuk pada 2022, Sikkola Rakyat telah menjadi tempat belajar bagi ratusan anak. Perjalanan itu juga melibatkan banyak relawan nan datang untuk membantu proses pembelajaran.
Saat ini, sekitar 50 relawan tetap bersedia mengajar anak-anak dari family kurang mampu.
Untuk menjalankan kegiatan, Sikkola Rakyat mengandalkan biaya operasional dari penggalangan dana. Mereka juga membikin produk sendiri dan menjalankan warung jajan nan dijual kepada masyarakat.
Namun, pemasukan tersebut belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan operasional rumah belajar.
Albert, nan juga merupakan mahasiswa Universitas HKBP Nommensen Medan, berambisi keberadaan Sikkola Rakyat dapat semakin dikenal dan mendapat support lebih luas, termasuk dari pemerintah.
"Harapan untuk Sikkola Rakyat ini mungkin lebih dikenal luas oleh masyarakat, boleh dibantu oleh pemerintah baik itu Dinas Sosial dan Dinas Pendidikan. Karena ini kan juga dari masyarakat, timbul dari keresahan masyarakat gimana kualitas pendidikan anak-anak di sekolah. Masa anak-anak di sekolah SD aja tetap belum ada nan bisa membaca," pungkas Albert.
Di rumah sederhana itu, keterbatasan akomodasi tetap menjadi bagian dari keseharian. Namun, di tengah keterbatasan tersebut, para relawan tetap membuka ruang bagi anak-anak untuk belajar—berangkat dari keresahan terhadap pendidikan dan kepercayaan bahwa kesempatan belajar semestinya tidak berakhir lantaran kondisi ekonomi.
43 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·