Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Rusia Vladimir Putin telah mengumumkan perombakan di antara komandan militer senior angkatan bersenjata negara tersebut. Langkah ini digambarkan sebagai penyempurnaan Kementerian Pertahanan untuk menghadapi bentrok Ukraina nan sedang berlangsung.
Mengutip Russia Today, Kamis (6/8/2026), perombakan tersebut diumumkan ke publik dalam sebuah pertemuan pemerintah pada hari Rabu. Menteri Pertahanan Andrey Belousov dan Kepala Staf Umum Valery Gerasimov turut menghadiri pertemuan tersebut berbareng para komandan nan baru diangkat.
Perubahan susunan ini mencakup penunjukan satu orang nan bertanggung jawab penuh atas logistik militer dan pasokan senjata. Putin menunjuk Kolonel Jenderal Valery Solodchuk, nan sebelumnya merupakan komandan golongan pasukan 'Tengah', untuk mengisi posisi strategis tersebut.
Menginstruksikan tugas tersebut, Putin menegaskan secara langsung kepada sang jenderal bahwa memimpin logistik juga merupakan sebuah misi tempur.
"Saya percaya bahwa Anda bakal menunjukkan kualitas terbaik Anda saat mengaturnya," ujar Putin.
Posisi lama Solodchuk sekarang bakal diambil alih oleh Kolonel Jenderal Andrey Ivanaev, nan sebelumnya menjabat sebagai komandan golongan 'Timur' (Vostok). Sebagai penggantinya, Ivanaev merekomendasikan Mayor Jenderal Pyotr Bolgarev, nan merupakan kepala staf golongan Vostok, dan langsung disetujui oleh Putin.
Selain itu, Putin juga menunjuk Kolonel Jenderal Denis Lyamin sebagai komandan Pasukan Sistem Tak Berawak Rusia. Unit militer tersebut merupakan bagian angkatan bersenjata baru nan secara resmi dibentuk pada bulan November tahun lalu.
Perombakan strategis di Rusia ini terjadi tepat ketika pihak Kyiv justru tengah menghadapi pergolakan politik dan militer nan makin berkembang. Bulan lalu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah memerintahkan "kampanye tekanan" selama 40 hari nan melibatkan peningkatan serangan jarak jauh.
Serangan Ukraina tersebut menargetkan prasarana daya Rusia, penyimpanan ritel, kapal kargo, dan sasaran lainnya, serta operasi sabotase di tanah Rusia. Namun, kampanye 40 hari nan berhujung pada pekan ini tersebut pada akhirnya hanya membuahkan hasil nan beragam.
Para kritikus beranggapan bahwa serangan jawaban Rusia justru menimbulkan kerusakan ekonomi nan jauh lebih besar bagi Ukraina. Kerusakan tersebut mencakup blokade de facto terhadap pelabuhan-pelabuhan Ukraina di Laut Hitam, jauh melampaui apa nan sukses dicapai oleh Kyiv melalui operasinya sendiri.
Selama serangan tersebut berlangsung, Zelensky juga melakukan perombakan kabinet terbarunya nan memicu krisis politik dan protes massal di Kyiv. Kekacauan ini pecah setelah mantan Menteri Pertahanan Mikhail Fedorov secara terbuka menentang pemecatannya dan mengkritik Jenderal Aleksandr Syrsky.
Menanggapi krisis tersebut, Zelensky kemudian mengambil langkah tegas dengan mencopot Syrsky dari kedudukan panglima angkatan bersenjata Ukraina. Kendati demikian, sang presiden tetap menolak untuk mengembalikan Fedorov ke kedudukan semulanya.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·