Jakarta, CNBC Indonesia - Kekerasan di Timur Tengah terus terjadi. Belum selesai panasnya Israel di Gaza dan Lebanon, serta Iran dan Amerika Serikat (AS), sekarang muncul kekerasan antara golongan Houthi di Yaman dengan Arab Saudi.
Dalam pembaruan terbaru Rabu (14/10/2026), Arab Saudi mengonfirmasi serangan terhadap sebuah gedung milik Aramco di wilayah timur kerajaan itu nan memicu kebakaran. Insiden ini terjadi beberapa jam setelah koalisi ketua Arab Saudi nan mendukung pemerintahan sah Yaman memerangi golongan Houthi ,mencegat sejumlah rudal pada Selasa malam.
Secara rinci, seorang pejabat kementerian daya Saudi juga mengatakan sebuah gedung manajemen milik perusahaan minyak raksasa Aramco di Dhahran terkena serangan pada Selasa malam. Beruntung tidak ada korban luka maupun jiwa.
Di sisi lain, dilaporkan pula bahwa empat orang di ibu kota, Riyadh, terluka akibat serpihan dari rudal Houthi nan sukses dicegat militer. Badan pertahanan sipil Arab Saudi menyatakan mereka terdiri dari dua wanita, seorang pria, dan seorang anak di mana 15 rumah mengalami kerusakan.
Sebelumnya pada hari Selasa, koalisi Arab Saudi menyerang sejumlah akomodasi minyak di wilayah barat Yaman sebagai tanggapan atas serangan paling mematikan di wilayah kerajaan itu dalam beberapa tahun terakhir. Serangan di Sanaa, serta provinsi Dhamar dan Saada di wilayah barat, menyasar fasilitas-fasilitas nan disebut digunakan Houthi untuk mendukung upaya perang Houthi dan menakut-nakuti wilayah selatan Laut Merah, dan jalur pelayaran.
Siapa Houthi?
Mengutip Reuters dan NDTV, Houthi adalah aktivitas militer, politik, dan keagamaan nan menguasai sebagian besar wilayah barat laut Yaman. Kelompok ini telah mengganggu pasar perdagangan dan daya dunia dengan serangan terhadap kapal kargo dan tanker di Laut Merah.
Houthi awalnya muncul di ujung utara Yaman pada tahun 1990-an sebagai aktivitas kebangkitan sekte Zaydi Islam Syiah, nan pernah memerintah Yaman. Wilayah utara itu diketahui merupakan wilayah miskin dan terpinggirkan.
Mereka melancarkan serangkaian perang gerilya melawan tentara nasional Yaman. Konflik perbatasan singkat dengan Arab Saudi nan merupakan Islam Sunni juga terjadi.
Ketika presiden lama Yaman Ali Abdullah Saleh digulingkan dalam protes "Arab Spring" tahun 2011, golongan tersebut mengonsolidasikan kendalinya atas Yaman utara. Bahkan menolak transisi politik nan didukung negara-negara Teluk.
Dengan support Iran, pemimpin golongan itu, Abdul Malik al-Houthi sukses mengubah faksi pejuang gunungnya menjadi kekuatan beranggotakan puluhan ribu orang. Puncaknya, pada tahun 2014, mereka merebut ibu kota Sanaa, mendorong pemerintah nan diakui secara internasional ke selatan menuju Aden.
Gerakan Houthi menyebut dirinya Ansar Allah (Pembela Tuhan). Istilah terkenal "gerakan Houthi" merujuk pada pendirinya, mendiang pemimpinnya, Hussein Badruddin Houthi.
Dari info di 2019, Houthi menguasai sekitar sepertiga wilayah Yaman, tempat nyaris 70% penduduknya tinggal. Sebuah laporan pada bulan September di tahun nan sama memperkirakan kekuatan mereka mencapai 180.000-200.000 orang bersenjata dengan akses terhadap sistem persenjataan mulai dari tank dan kendaraan teknis hingga peluru kendali anti-tank dan rudal balistik jarak jauh.
Konflik 2015 & Gencatan Senjata
Sebenarnya, ada kekhawatiran bakal meningkatnya pengaruh Iran di Yaman dan kekacauan di perbatasan. Hal inilah nan pada akhirnya mendorong Arab Saudi memimpin intervensi militer terhadap Houthi pada awal tahun 2015 untuk mengusir golongan tersebut, memulihkan pemerintahan dan menghidupkan kembali rencana transisi.
Perang terjadi antara koalisi Arab Saudi nan mendukung pemerintah dengan Houthi dan memicu salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia, menyebabkan pertempuran sengit selama bertahun-tahun. Serangan udara Houthi kala itu tak hanya menghantam Arab Saudi, tapi juga mitra koalisinya, termasuk Uni Emirat Arab (UEA).
Setelah bertahun-tahun berperang, PBB menjadi perantara gencatan senjata antara pihak-pihak nan bertikai di Yaman pada tahun 2022. Perdamaian sementara itu sukses setidaknya sampai 2023, saat Israel menyerang Gaza, Palestina.
Houthi mulai menembaki kapal-kapal di Laut Merah dan meluncurkan drone dan rudal ke Israel pada November 2023. Mereka mengatakan bahwa mereka melakukan perihal tersebut untuk mendukung penduduk Palestina selama perang Israel di Gaza nan dimulai bulan sebelumnya.
Kenapa Terus Menyerang Arab Saudi Lagi?
Mengutip The Guardian dalam analisanya, pemilihan waktu nan dilakukan Houthi menyerang Arab Saudi bukan hanya sbersifat oportunis tetapi juga berakar pada dinamika bentrok di Teluk terutama AS dan Israel melawan Iran.
Kelompok Houthi pada awalnya tidak ikut kombinasi dalam bentrok nan mulai awal tahun ini. Namun bulan lalu, Houthi tiba-tiba menguasai wilayah utama Yaman dan menguasai selat Bab al-Mandab, nan mendominasi Laut Merah, jalur pelayaran krusial untuk ekspor minyak dan gas dari wilayah tersebut.
Hal ini membikin pasukan pemerintah Yaman dan sekutu lokalnya memulai serangan jawaban besar-besaran pekan lampau untuk mengusir Houthi dari Bab al-Mandab dan juga menyerang posisi Houthi lainnya. Arab Saudi berada di garis bidik terdepan Houthi lantaran mendukung pemerintah Yaman nan didukung PBB dan pasukannya.
Serangan mereka terhadap sasaran-sasaran krusial di kerajaan seperti prasarana minyak dan airport ibu kota- nan merupakan simbol utama integrasi internasional dan masa depan ekonomi- memperjelas akibat jelek dari pilihan strategis Riyadh. Perlu diketahui pula, saat serangan Houthi dilancarkan massif pekan lampau ke bandara-bandara Arab Saudi pekan lampau dan Senin, sebenarnya kerjaan tengah menjadi tuan rumah dua konvensi besar daya dan investasi.
Salah satunya Kongres Perminyakan Dunia (WPC). Saudi bakal menjadi rumah bagi para pelaksana dan kreator kebijakan minyak dunia dari Minggu hingga Kamis.
Serangan Houthi juga dipandang menguntungkan Iran, nan telah lama mendukung Houthi sebagai bagian dari "poros perlawanan". Ini merujuk sebuah koalisi aktivitas Islam garis keras nan memungkinkan Teheran memproyeksikan kekuatan dan pengaruh di wilayah tersebut.
Ancaman baru dari golongan Houthi terhadap Laut Merah dan Arab Saudi kembali menyoroti besarnya pengaruh Teheran dan sekutu-sekutunya terhadap pasokan minyak dan gas global. Ini krusial guna melawan tekanan AS baru-baru ini ke Iran di tengah pembicaraan nan buntu soal; gencatan senjata kedua belah pihak dan pembukaan Selat Hormuz.
Ekonomi Arab Saudi Jadi Korban?
Arab Saudi adalah salah satu pemain daya terkuat di bumi dan kekuatan geopolitik utama, terutama lantaran kekuasaan minyaknya. Dalam perihal produksi minyak bumi secara keseluruhan, Arab Saudi memproduksi sekitar 11% dari total produksi minyak global.
Kerajaan ini mempunyai sekitar 15 hingga 17% persediaan minyak bumi dunia. Sektor minyak dan gas menyumbang sekitar 50% PDB dan sekitar 70% pendapatan ekspor.
Dengan bentrok di Timur Tengah nan terus terjadi saja antara AS, Israel dan Itan, Arab Saudi menghadapi kontraksi ekonomi nan signifikan tahun ini. Di mana PDB diperkirakan menyusut sebesar 3,3% sebagaimana disampaikan Dana Moneter Internasional (IMF).
Perlu diketahui laporan IMF muncul sebelum bentrok dengan Houthi diperhitungkan. Jika krisis terus berlanjut, perlambatan makin menggerus ekonomi Arab Saudi.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·