Siap-siap Perang Baru, China dan Korea Utara Satukan Kekuatan

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintahan Korea Utara dengan China tengah mengadakan pertemuan untuk membentuk kerja sama lintas negara nan menghapuskan kekuatan tunggal sejumlah negara.

Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi, Jumat (10/4) waktu setempat di Pyongyang, Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un menyatakan support untuk upaya China membangun "dunia multipolar" dan menyerukan hubungan nan lebih dalam antara kedua belah pihak nan bersekutu.

Selama pertemuan kemarin, Kim mengatakan pemerintahnya bakal sepenuhnya mendukung upaya China mencapai integritas teritorial berasas "prinsip satu China", menurut Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) resmi Korea Utara. Prinsip itu merujuk pada posisi resmi Beijing bahwa Taiwan adalah bagian nan tak terpisahkan dari wilayah China.

Kim juga menguraikan posisi Korea Utara mengenai isu-isu regional dan internasional nan tidak disebutkan secara spesifik. Ia menyebut masalah dunia saat ini menjadi "kepentingan bersama" dan memastikan pengembangan hubungan nan berkepanjangan antara kedua negara menjadi lebih krusial dalam lingkungan geopolitik saat ini, kata KCNA, sebagaimana dilansir Channel News Asia, Sabtu (10/4/2026).

Sementara itu, Wang dalam kunjungan dua hari ke Korea Utara, mengatakan hubungan kedua negara memasuki "fase baru" setelah pertemuan puncak tahun lampau antara Kim dan Presiden China Xi Jinping.

"Dalam menghadapi situasi internasional nan bergolak dan kompleks, China dan Korea Utara kudu lebih memperkuat komunikasi dan koordinasi dalam urusan internasional dan regional utama," kata Wang kepada Kim, menurut pernyataan dari Kementerian Luar Negeri China.

Diplomat China itu juga mengatakan China bersedia memperkuat pertukaran strategis dan hubungan untuk mendorong kerja sama praktis dengan Korea Utara.

Dengan menganut pendapat "Perang Dingin baru" dan "dunia multipolarisasi," Kim telah berupaya keluar dari isolasi internasional dan mendorong kebijakan luar negeri nan lebih tegas dengan memperluas hubungan dengan pemerintah nan terlibat konfrontasi dengan Amerika Serikat.

Meskipun Rusia telah menjadi prioritas utama kebijakan luar negeri Kim dalam beberapa tahun terakhir, dengan mengirimkan ribuan pasukan dan pengiriman senjata besar untuk mendukung perangnya melawan Ukraina, dia juga telah menjalin hubungan dekat dengan China, sekutu utama tradisional Korea Utara dan jalur ekonomi vitalnya.

Kim berasosiasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam upacara Perang Dunia II di Beijing pada September dan mengadakan pertemuan puncak pertamanya dengan Xi Jinping dalam enam tahun, langkah-langkah nan mendukung upayanya untuk menggambarkan Korea Utara sebagai bagian dari front persatuan melawan Washington.

Korea Utara dan China bulan lampau melanjutkan jasa penerbangan langsung dan kereta penumpang , nan telah ditangguhkan sejak awal pandemi COVID-19 pada 2020.

Wang tiba di Pyongyang pada Kamis dalam kunjungan pertamanya ke Korea Utara dalam tujuh tahun. Sebelumnya, dia berjumpa dengan Menteri Luar Negeri Korea Utara Choe Sun Hui dan membahas cara-cara untuk memfasilitasi kerja sama dan pertukaran lebih lanjut serta mengadakan pembicaraan "mendalam" tentang isu-isu internasional, menurut media pemerintah dari kedua negara.

Media pemerintah tidak menyebut apakah Wang dan pejabat Korea Utara membahas isu-isu mengenai AS alias perang nan sedang berjalan di Timur Tengah.

Kunjungan Wang ke Korea Utara dilakukan sebelum kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Beijing untuk pertemuan puncak nan dijadwal ulang dengan Xi Jinping pada bulan Mei. Beberapa pejabat Korea Selatan telah menyatakan angan bahwa pertemuan Trump-Xi dapat memberikan kesempatan diplomatik dengan Pyongyang.

Kim telah menangguhkan semua perbincangan nan berfaedah dengan AS dan Korea Selatan sejak runtuhnya diplomasi dengan Trump pada tahun 2019 selama masa kedudukan pertama presiden Amerika tersebut.

Sejak itu, Kim mengambil sikap garis keras terhadap Korea Selatan, nan sekarang dia definisikan sebagai musuh "paling bermusuhan" baginya, dan menolak tawaran AS untuk melanjutkan pembicaraan, menyerukan Washington untuk mencabut tuntutannya agar Korea Utara melakukan denuklirisasi sebagai prasyarat.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News